Menyorot Pelayanan Garuda Indonesia (1)

’’Saya beli tiket hampir Rp5 juta, tapi makan tidak boleh tambah. Mereka harusnya paham dengan porsi makan orang timur. Sangat lama tunggu makanan itu, jarak yang harus ditempuh itu sekitar 5 jam lebih.’’

Paulus Yanke, Pengusaha Tripang Laut asal Papua

Senin pagi, 15 Juli 2019. Penumpang memadati Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Kota Tangerang, Banten. Mereka akan berangkat ke sejumlah daerah tujuan. Mulai untuk kepentingan bisnis hingga mudik. Meski tarif meroket, penumpang tetap menggunakan jalur udara untuk mempersingkat waktu tempuh. Sayang, tingginya harga tiket yang ditawarkan Garuda Indonesia tidak diimbangi dengan pelayanan memadai.

Itulah yang dirasakan Imran Yanuar, 65, penumpang asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Pengusaha tambang batu bara di Kutai Kertanegara ini merasakan pelayanan yang diberikan Garuda Indonesia belum memuaskan. Alasannya, dengan jadwal penerbangan lebih dari tiga jam, dirinya hanya disuguhi makanan yang tak mengenyangkan. Padahal, dirinya telah mengeluarkan kocek Rp3 juta lebih untuk dapat sampai di tempat usahanya.

’Pertama porsi makannya sedikit dan menunya hanya dua. Aturannya agak sedikit banyaklah karena perjalanan jauh. Ya tidak sebanding dengan harga tiket yang mereka jual. Tapi mau bagaimana lagi itu sudah terjadi sampai sekarang,’’ katanya saat ditemui INDOPOS di Bandara Soetta.

Imran menceritakan, selain porsi makanan sedikit, minuman yang disuguhkan pramugari Garuda Indonesia juga sangat kecil. Bahkan menu minumannya hanya kopi, teh manis, jus, susu dan air mineral yang disuguhkan melalui secangkir plastik. Untuk menambah air, para penumpang dalam pesawat harus antre lama dari pramugari.

’’Kuantitas pelayanan belum memadai sekali. Padahal Garuda ini sudah go international. Ini selalu terjadi pada penumpang kelas ekonomi. Dan saya sendiri sering mengalami ini,’’ ungkap Imran.
Pria yang berpenampilan perlente dengan koper kecil ini menyatakan, pemerintah seharusnya merombak pelayanan Garuda. Sebab, jika mengacu regulasi, Imran mengaku kualitas pelayanan yang diberikan harus jauh dari maskapai milik swasta. Sebab, hal ini diperlukan untuk menarik calon penumpang agar memilih maskapai milik pemerintah sebagai moda transportasi udara yang aman dan nyaman.

’’Ini sama saja kita naik maskapai swasta juga. Harus ada pembeda karena harga lebih mahal dan punya kualitas internasional. Coba kalau delay saja makanannya KFC atau McDonald’s,’’ celotehnya.

Hal serupa diungkapkan pengusaha tripang laut asal Papua, Paulus Yanke. Menurut dia, , pelayanan Garuda tujuan Sorong tidak memuaskan. Setelah lepas landas dari bandara, makanan baru dihidangkan pramugari setelah 45 menit lepas landas.

’’Saya beli tiket hampir Rp5 juta, tapi makan tidak boleh tambah. Mereka harusnya paham dengan porsi makan orang timur. Sangat lama tunggu makanan itu, jarak yang harus ditempuh itu sekitar 5 jam lebih,’’ tegas pria asal Manokwari ini.

Paulus pernah mengajukan keberatan kepada maskapai Garuda soal porsi makan yang sangat sedikit dan tak mengenyangkan perut ini. Akan tetapi jawaban dari perusahaan penerbangan komersial milik pemerintah itu tak memuaskan hatinya. Sehingga dirinya pun harus terus menerima kenyataan pahit menggunakan Garuda dalam urusan bisnis.

’’Saya sebulan bisa lima atau enam kali ke Jakarta untuk antar tripang laut. Jawab mereka tetap sama, anggaran makan memang sebesar porsi yang diberikan. Saya pernah bilang sama pramugari untuk beli dua makanan tetapi tidak dikasih,’’ ucapnya.

Lantaran tak puas dengan pelayanan Garuda, Paulus pun berinisiatif sendiri. Sejam sebelum berangkat menggunakan pesawat, dia membeli beberapa panganan roti, supaya dapat mengenyangkan perutnya yang tidak didapatkan dari maskapai milik pemerintah ini.
Lain halnya dengan penumpang tujuan Makassar, Daeng Tholib Abidilah, ini. Pengusaha mebel ini tak mau ambil pusing dengan pelayanan Garuda yang belum memuaskan. Percuma dikomplain, ada seribu alasan untuk menghindar.

’’Mau bagaimana lagi, itu sudah jadi tabiat mereka. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah,’’ ungkapnya.

Lain halnya dengan cerita pengusaha pakaian asal Sumatera Barat, Doni Arisma, ini. Untuk mendapatkan makanan yang mengenyangkan perut, dia menggunakan ruang tunggu maskapai untuk mencicipi panganan yang disediakan. Sehingga setelah berada di pesawat dia dapat menikmati suguhan hiburan di dalam layar kecil.

’’Mana mungkin bisa makan kenyang di pesawat. Kebiasaan saya begitu sudah check-in langsung saja ke Lounge. Makan saja sepuasnya di sana, baru naik pesawat. Biar tidak rugi-rugi amat karena bayar tiket mahal,’’ terangnya.

Salah satu penumpang Garuda Indonesia tujuan Surabaya, Natalia Dianty, pun memiliki cara lain untuk menyinggung pelayanan pemberian makan dan minuman yang diberikan maskapai tersebut. Kontraktor properti ini sering menanyakan makanan penutup kepada pramugari. Perempuan berparas ayu ini berani melakukan itu karena rasa makanan yang diberikan tak sesuai ekspektasi.

’’Biar pramugarinya ini menyampaikan itu ke bos mereka. Biasanya kalau saya kesel pasti tanya ada buah atau agar-agar sebagai penutup makan. Saya pernah ke Singapura dan Malaysia dengan maskapai luar negeri pelayanannya masih lebih bagus dan harga tiketnya lebih murah dari Garuda,’’ pungkasnya.(dan/cok/aen)

Komentar telah ditutup.