Transjakarta Terbakar, Saatnya Menggunakan Bus Listrik

indopos.co.id – Terbakarnya satu unit bus Transjakarta milik operator Kopaja di di Jalan Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur, tepatnya di depan Apartemen Bassura pada Sabtu (20/7/2019), mengakibatkan 59 unit bus pun dikandangkan. Pengecekan secara menyeluruh pun juga dilakukan terhadap bus milik Kopaja tersebut.

Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berjanji akan mengecek langsung kondisi bus yang beroperasi dalam naungan Transjakarta itu secara langsung. ”Nanti saya akan cek agar kualitas pelayanan transportasi kita nyaman untuk penumpang, selanjutnya pengaturannya berkeadilan,” kata Anies di Jakarta Pusat, Senin (22/7/2019).

Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan setelah pengecekan, sejumlah pihak, di antaranya Transjakarta, Kopaja, dan APM melakukan investigasi.

Bus Kopaja yang terintegrasi dengan Transjakarta merupakan keputusan gubernur tahun 2015 saat itu dan banyak yang tidak sesuai dengan standar yang ada. ”Pada tahun 2019, akan kami perbaiki dengan integrasi yang sesungguhnya sesuai dengan standar pelayanan Transjakarta,” ujar Agung.

Selain perbaikan pelayanan dan peningkatan standar, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) juga menargetkan ada seribu unit bus listrik yang akan beroperasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) pada 2020. Hal ini diklaim selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ) mengenai transportasi ramah lingkungan.

Beberapa operator penyedia jasa layanan transportasi darat pun telah menandatangani perjanjian kerja sama pengoperasian bus listrik antara lain Perum Damri, PPD dan Kopaja.

Menanggapi rencana ini, Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta ikut mendukung rencana pemerintah terkait penerapan bus listrik sebagai moda transportasi umum ramah lingkungan.

”Kami mendukung kehadiran transportasi ramah lingkungan bus listrik,” kata Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan saat dihubungi di Jakarta, Senin (22/7/2019).

Dia menjelaskan bahwa dukungan itu diberikan dengan menjadikan angkutan kecil berupa angkot dan mikrolet sebagai feeder atau kendaraan pengumpan bagi trayek-trayek yang dilewati bus listrik. ”Ada 1.200 unit mikrolet yang telah terintegrasi dengan JakLingko. Kendaraan itu nantinya akan menjadi feeder untuk bus listrik,” ujarnya.

Angkutan kecil tersebut, lanjut Shafruhan, akan menjangkau para penumpang yang berada di kawasan pemukiman padat penduduk dengan kondisi jalanan sempit.

”Kami terus berupaya melakukan peremajaan angkutan umum konvensional dan mengintegrasikannya dengan JakLingko secara bertahap,” tutur Shafruhan

Lebih lanjut dia berharap bahwa kehadiran bus listrik akan menambah warna baru bagi angkutan darat di Jabodetabek. Sekaligus mengurangi kabut polutan yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor.

Pengamat lingkungan perkotaan yang notabene Direktur Eksekutif Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal Ahmad Safrudin mengatakan penggunaan bus listrik dapat mendorong efisiensi energi fosil. ”Bus listrik bagus untuk pengendalian pencemaran udara dan gas rumah sekaligus efisiensi energi,” ujar Ahmad Safrudin.

Ahmad Safrudin menjelaskan bahwa konsep teknologi bus listrik mengganti sistem mesin penggerak diesel berbahan bakar minyak yang menghasilkan polutan menjadi berbahan bakar listrik yang ramah lingkungan. Bus listrik mampu menghemat penggunaan energi fosil, terutama minyak bumi. ”Bus listrik lebih efisien 219 persen dibanding bus diesel karena energy lost bus diesel kisaran 59 sampai dengan 61 persen, sedangkan energi lost bus listrik hanya 10 persen,” paparnya.

Safrudin menuturkan bahwa penggunaan bus listrik mampu menekan biaya operasional bahan bakar sekaligus menjaga ketahanan energi pada sektor transportasi darat.

Tingginya angka efisiensi energi pada bus listrik juga dapat mengurangi pencemaran udara dan mengendalikan efek rumah kaca yang selama ini menjadi persoalan lingkungan bagi kawasan perkotaan di Indonesia, khususnya Jakarta.

”Bus listrik dapat mengurangi emisi meski tidak begitu signifikan karena jumlah kendaraan umum masih relatif kecil antara 2 persen dan 5 persen. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengatur volume kendaraan pribadi yang mencapai 95 sampai dengan 98 persen,” saran dia. Safrudin menambahkan bahwa konversi bus diesel menjadi bus listrik juga harus mempertimbangkan suplai energi. (wok/nas/ant)

Komentar telah ditutup.