Serunya Memasak Daging Kurban Menjadi Babanci di Dapur Kurban

Sehari setelah Hari Raya Idul Adha, daging kurban yang disumbangkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dibagikan kepada para mustahiq. Tapi daging itu diolah dulu oleh koki hotel bintang lima, agar bisa langsung disantap. Keseruan memasak daging kurban ini, bahkan membuat keringat istri Gubernur Anies Baswedan, Fery Farhati Ganis bercucuran.

NASUHA, Jakarta

ANAK-ANAK terlihat riang. Mereka menempati tenda di Lapangan IRTI, Monas, Jakarta Pusat. Terik matahari sudah tidak lagi dirasakan. Siswa dari sekolah dasar (SD) pada enam wilayah di DKI Jakarta sudah tidak sabar lagi menunggu masakan dihidangkan. Sembari duduk, anak-anak bercanda riang. ”Aroma masakannya sudah tercium. Hmm, harum dan sedap sekali,” celetuk salah satu anak sembari menarik napas yang dalam.

Ada dua tenda disediakan di Lapangan IRTI Monas. Selain untuk anak-anak, satu tenda disediakan untuk para pejabat Pemprov DKI Jakarta. Di antara dua tenda terdapat area untuk memasak.

Terdapat tiga meja panjang, yang digunakan untuk membuat bumbu, memotong ketupat, hingga mengemas makanan siap saji. Anak-anak perwakilan dari seluruh SMK di DKI Jakarta dilibatkan untuk mengolah masakan tersebut. Dengan bekerja sama, mereka memotong ketupat. ”Eh, cepat sebentar lagi harus disajikan. Pak Gubernur sebentar lagi datang,” kata seorang siswa SMK 24 Jakarta.

Seorang guru sibuk mengawasi para siswa ini. Sembari bercanda, guru yang disapa Doni oleh para siswa SMK ini memberikan semangat kepada para siswanya. Kepada INDOPOS, Doni menyebutkan, sebanyak 200 ketupat disiapkan pada acara dapur kurban yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta. ”Siswa ini perwakilan dari SMK 24, 27, 30, 32, 33, 37, 38, 57, 60 dan SMK 62 Jakarta. Mereka berasal dari kelas 11 dan 12, masing-masing SMK dua orang siswa,” ungkap Doni.

Saat para siswa ini mempersiapkan ketupat, di sisi lain para koki dari hotel bintang lima di Jakarta tengah menyiapkan masakan. Mereka mengenakan pakaian berwarna putih dengan celemek berwarna hijau. Mereka berbagi tugas. Mulai dari menghaluskan bumbu hingg mengaduk masakan.

Ada tiga wajan besar yang digunakan untuk memasak. Sementara satu oven digunakan untuk memanggang daging kurban. ”Tambah lagi gulanya bro, biar sedap,” teriak salah satu koki kepada rekannya yang bertugas mengaduk masakan.

Sembari menuang gula pasir, koki Padil mengatakan, daging kurban ini dimasak kuliner ikonik khas Betawi yang disebut ’Babanci’. Apabila dilihat sekilas, masakan ini menyerupai tongseng dan gulai. Dengan kuah berwarna kekuningan. Semakin mantap jika disantap bersama ketupat. ”Memasak Babanci dengan beragam bumbu. Ada 21 bumbu rempah-rempah,” ungkap koki yang telah berusia 40 tahun tersebut.

Beberapa bumbu rempah, masih ujar Padil sudah langka dan susah didapatkan. Seperti kedaung, akar angin dan temu mangga. Bumbu rempah lainnya mudah ditemukan, seperti di antaranya kelapa yang diolah menjadi serundeng.

Padil menjelaskan, memasak babanci tidak jauh berbeda seperti memasak gulai. Menggunakan bumbu halus dan bumbu kasar. Setelah bumbu dimasukkan ke wajan untuk ditumis, disusul kelapa hingga mendidik. Kemudian daging dimasukkan, masak hingga empuk dan masukkan sayuran. ”Sayuran biasanya menggunakan kacang panjang. Untuk 1 Kilogram daging bisa dimasak 3 jam,” katanya.

Padil menuturkan, pada dapur kurban sedikitnya dimasak 160 kilogram daging kurban. Dari daging tersebut, sedikitnya bisa dibuat untuk 900 porsi Babanci. Serunya memasak babanci tidak hanya diikuti oleh para koki dari hotel berbintang lima.

Istri-istri pejabat jajaran Pemprov DKI dan wali kota sibuk membantu mempersiapkan masakan. Salah satunya istri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Fery Farhati Ganis.

Ferry Farhati Ganis berkeliling dari menyiapkan sayuran, memotong ketupat hingga proses memasak Babanci. Dia terlihat sangat antusias membantu para koki untuk memasak daging kurban.

Terik dan panasnya matahari bahkan tak menyurutkan antusias perempuan yang menikah dengan Anies Baswedan pada 1996 tersebut. Saking semangatnya untuk membantu, ia bahkan mengelap peluh para koki menggunakan tisu, sekaligus terus memberikan semangat kepada para chef.

Semakin siang, suasana dapur kurban semakin meriah. Gaduh anak-anak dan masyarakat sesaat terdiam, manakala Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memasuki area dapur kurban.

Orang nomor satu di DKI tersebut langsung menyambangi koki yang tengah memasak. Tidak sungkan-sungkan Anies Baswedan turut membantu mengaduk Babanci. Percakapan sesekali dengan tawa kecil terjadi antara Anies Baswedan dengan para koki. Anies berkelakar, melihat masakan babanci dalam porsi besar. ”Ini masak langsung berapa kilo?” tanya Anies kepada chef.

Sembari mengaduk Babanci, koki Ragil menuturkan, setiap wajan digunakan untuk memasak 25 kilogram daging kurban. Lagi-lagi Anies berkelakar melihat istrinya yang membantu memasak para koki. ”Kita tidak pernah memasak sebesar ini. Mana pula kita punya kompor,” kata Anies diikuti tawa seluruh pengunjung yang hadir di dapur kurban.

Terik matahari rupanya membuat peluh bercucuran di kening Fery. Melihat hal itu, Anies kembali berkelakar sembari menawarkan jasa untuk menyeka peluh di kening istrinya tersebut. ”Boleh saya lap-lap dikit ya? Boleh kan? :ah saya kan suaminya,” canda Anies sambil menyeka keringat di kening istrinya.

Sontak, para pengunjung yang hadir di dapur kurban menjadi gaduh. Koki Ragil pun tak mau ketinggalan melihat kemesraan Anies Baswedan bersama istrinya tersebut. Sembari mengaduk babanci, Ragil berkelakar untuk minta peluhnya diusap juga. ”Saya juga mau dong dilap keringatnya,” ucapnya tertawa.

Tidak canggung-canggung Anies diikuti tawa pengunjung pun menyeka peluh di kening koki Ragil. ”Senang banget saya membantu memasak di dapur kurban,” sambungnya sembari mengembangkan senyum ketika Anies mengelap keringatnya. Cukup lama Anies Baswedan bercakap-cakap dengan koki Ragil dan istrinya.

Lewat dapur kurban ini, Anies menuturkan, di DKI Jakarta masih banyak keluarga pra-sejahtera. Keluaga tersebut berhak mendapatkan daging kurban. Tantangan penyaluran daging kurban, menurut Anies tidak sedikit warga pra-sejahtera memiliki lemari pendingin.

Sehingga berpotensi daging kurban menjadi busuk. ”Potensi lain, saat daging kurban diterima mereka (keluarga pra-sejahtera) belum tentu punya bumbu. Jadi akhirnya daging menjadi basi atau hanya dipanggang saja,” terang Anies.

Penyaluran daging kurban dengan dimasak, dikatakan Anies bisa disajikan dalam waktu lebih panjang. Apalagi dikemas secara baik dan rapi. Program daging kurban ini pula menjadikan warga bisa merasakan masakan koki dari hotel bintang lima. ”Biasanya yang merasakan masakan chef Ragil harus berkelas. Tapi program ini masyarakat prasejahtera bisa merasakan masakan hotel bintang lima,” tandas dia. (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.