Kegelisahan Putra Kaltim

Oleh

Rio Taufiq Adam

Redaktur INDOPOS

 

Terjawab sudah teka-teki calon ibu kota negara yang baru. Lokasinya di antara Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Jika masih ada yang bingung, lokasi calon ibu kota itu, masyarakat Kaltim mengenalnya dengan nama Samboja. Berjarak 38 kilometer dari Kota Balikpapan. Masuk administrasi Kukar. Berbatasan dengan PPU. Mungkin, lahan seluas 180.000 hektare milik pemerintah berada di pertengahannya.

Saya tak ingin banyak bercerita ihwal pemindahan ibu kota. Toh, beberapa negara maju, bahkan tetangga kita, Malaysia juga berhasil memindah pusat administrasinya ke Putrajaya dengan tetap mempertahankan Kuala Lumpur sebagai ibu kota negara.

Presiden Joko Widodo pun telah menjelaskan rinci alasan dan pertimbangan memindahkan pusat pemerintahan, dengan tetap mempertahankan Jakarta sebagai pusat bisnis. Jadi, bagi warga Bumi Etam, sebutan Kaltim, jangan berharap Gelora Bung Karno atau Monumen Nasional, diangkat begitu saja ke sana. Tidak begitu konsepnya.

Berharaplah dengan pembangunan infrastruktur yang lebih massif. Gedung-gedung pencakar langit milik kementerian. Atau yang sudah pasti dibangun di sana adalah Istana Negara, sebagai sebuah entitas resmi ibu kota.

Namun, hal itu juga yang menjadi kekhawatiran saya. Sebagai manusia yang lahir dan besar di Balikpapan, Kaltim, lalu hijrah ke Jakarta untuk mengais rezeki dan membangun karier, saya resah kampung halaman yang dikenal, lenyap oleh massifnya pembangunan.

Tentu keresahan ini, juga belum terjawab. Lagi pula, pemerintah masih mengkaji pembangunan ibu kota baru. Sampai detail kajian dan rencana pembangunannya keluar, saya tidak berani berspekulasi. Namun, yang mau saya utarakan curahan hati sebagai putra daerah Kaltim.

Balikpapan yang saya kenal adalah kota yang tenang, hijau dan aman bagi tumbuh kembang anak-anak. Mengapa demikian? Dikarenakan kota yang kini dipimpin Wali Kota Rizal Effendi, penduduknya tidak lebih dari satu juta penduduk.

Sebagai kota berkembang, konsep pembangunannya sudah direncanakan matang oleh Wali Kota Tjutjup Soeparna yang menjabat selama 10 tahun dari 1991-2001. Lalu dilanjutkan Imdad Hamid selama 10 tahun juga. Hingga kini warga Kota Minyak, sebutan Balikpapan, merasakan betul madu dari rencana pembangunan yang terstruktur. Mengedepankan slogan ’Beriman’ (Bersih, Indah, Aman dan Nyaman).

Warga di Balikpapan, tidak perlu repot-repot mengurus BPJS Kesehatan. Cukup ke Puskesmas, bawa KTP sudah bisa mendapat pelayanan kesehatan maksimal.

Sekolah di sana juga gratis. Dari sekolah dasar hingga tingkat SMA/SMK milik pemerintah alias negeri. Biaya pendidikan Rp0 ini diberikan kepada semua golongan masyarakat. Tidak mengenal apakah dia berada di tingkat ekonomi tidak mampu, atau orang tuanya memiliki perusahaan. Semua anak-anak di sana mendapat fasilitas sama. Tidak ada perbedaan.

Tapi jangan khawatir, sebagai stimulan, anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu diberikan beasiswa oleh pemerintah setiap satu semester. Yang pintar dan berprestasi juga mendapat beasiswa. Bahkan, bagi para calon mahasiswa juga bisa mengajukan beasiswa untuk kuliah di berbagai universitas di Indonesia. Selama IPK-nya rata-rata 3.

Ada juga beasiswa Kaltim Cemerlang untuk mahasiswa dan mahasiswi. Ini biasanya hanya diberikan sekali selama menjalankan pendidikan di bangku perguruan tinggi. Total beasiswa beragam. Bahkan, saya mendengar dari seorang kawan yang mendapat Rp60 juta dari beasiswa tersebut. Dengan syarat harus berprestasi. Enak sekali kan jadi warga Kaltim?

Kemudahan hidup tak berhenti sampai di situ. Pemerintahnya juga terus melakukan inovasi. Percontohan KTP-elektronik saja pertama kali diuji coba oleh pemerintah di Balikpapan. Memang, saya belum mendapat alasan jelas sejak berkarier sebagai jurnalis sejak 2013, mengapa kota kelahiran itu dipilih menjadi percontohan KTP yang kini dipakai secara nasional, dan sempat geger karena anggarannya dikorupsi, oleh salah satu petinggi partai berlambang pohon beringin.

Namun, dari analisis saya, alasannya karena penduduk di Balikpapan sangat sedikit. Bayangkan, penduduknya saja hanya 645.727 (Badan Pusat Statistik, 2018). Penduduk Kota Administrasi Jakarta Selatan, bahkan tiga kali lebih banyak dibandingkan di sana. Maka akan sangat mudah sekali mengatur penduduk sedikit.

Sebagaimana gambaran sedikitnya penduduk itu, lingkaran pertemanan antarremaja di sana sangat kecil. Saya alumnus SMAN 5 Balikpapan, akan dengan mudah mengenal kawan di SMAN 3 Balikpapan, yang berada di Kecamatan Balikpapan Timur. Padahal dua sekolah tersebut berjarak 13,1 kilometer. Karena alasan tersebut pula, jarang sekali tindak kekerasan yang dilakukan pelajar.

Jika terjadi perkelahian yang melibatkan pelajar, tidak sampai melibatkan ratusan orang. Biasanya, jika ada pelajar yang berusaha menghasut rekannya untuk berkelahi, pasti akan ditanya dahulu, ’ribut’ sama siapa? Jika yang disebutkan ternyata dikenal oleh kawannya, maka perkelahian dihentikan. Lalu diselesaikan dengan cara pertemanan. ”Astaga, teman juga sekalinya,” ucap para pelajar di Balikpapan, yang apabila berkelahi hanya karena persoalan sepele. Akhirnya, tidak jadi berantem, malah lawannya itu menjadi kawan.

Kondisi itu terpelihara selama beberapa dekade. Hingga saya kerja di Jakarta, kedekatan emosional sebagai orang Balikpapan, juga terus dirawat dan dipupuk. Beberapa teman seangkatan saya walau berbeda sekolah, yang kini bekerja di Jakarta, kerap kali mengajak bertemu. Sekadar minum kopi. Percakapan kami biasanya seputar nostalgia masa SMA, dan lingkungan pertemanan di Balikpapan.

Curahan isi hati saya sebagai orang yang masih memegang KTP Balikpapan, adalah kekhawatiran terhadap pembangunan di masa depan. Ada kegelisahan kota kelahiran yang saya tahu berubah total. Terutama setelah melihat peliknya ibu kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.

Padahal baru pekan lalu, saya pulang ke Balikpapan, untuk bertemu orang tua dan adik-adik, dan menceritakan ihwal rencana membesarkan calon anak di kampung halaman. Lalu, Presiden Jokowi pun mengumumkan keputusan pemindahan ibu kota, Senin lalu. Alhasil, keinginan untuk membesarkan anak di kota kelahiran, harus dipikirkan ulang.

Saya khawatir, kota yang dahulu begitu ramah kepada warganya, berubah menjadi ’megapolutan’, karena pesatnya pembangunan tanpa memerhatikan faktor ekologi dan sosial. Saya resah, calon anak saya nantinya, kelak tidak bisa menghirup udara pagi yang segar. Saya takut, calon anak saya, hidup dalam kebisingan jalanan kota yang berderu, karena semua orang berlomba untuk mencapai tempat tujuan secepat-cepatnya. Padahal, Balikpapan yang saya kenal tidak begitu.

Risiko itu memang ada. Terutama sebagai pintu gerbang calon ibu kota, pertumbuhan penduduk adalah sebuah keniscayaan. Tak bisa dilawan. Namun, menjaga penduduk hidup rukun, dari derasnya isu suku, agama, ras, dan antargolongan juga sebuah keharusan. Apalagi, Balikpapan yang ’Beriman’, adalah kota yang berada di tepi pantai, penuh keromantisan dalam lingkaran persahabatan.

Semoga saja, romantisme, keseimbangan, dan harmoni itu tetap bisa terjaga di kemudian hari, jika ibu kota, telah dipindahkan, dan pembangunannya mulai dilakukan. Semoga, udara yang bersih tetap bisa dihirup, debur ombak yang berlari ke bibir pantai, mampu dilihat tanpa harus repot-repot mengeluarkan uang. Semoga, pada akhirnya nanti, generasi yang akan datang, tetap bisa hidup dalam indahnya persahabatan. (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.