Milenial Banyak Bahas Pemindahan Ibu Kota di Media Sosial

“Misalnya, ibu kota boleh pindah, tapi jangan hatimu. Ibu kota boleh pindah tapi ibu ibu kita tetap akan besanan kan?” kata Rustika.

Sementara, mereka yang berusia 26-35 tahun lebih banyak mengutarakan soal kekhawatirannya.

Dari sisi persebaran akun yang terdeteksi, lanjut Rustika, percakapan pemindahan ibu kota menjadi percakapan netizen dari berbagai wilayah. Dari 10 besar, DKI tertinggi, sementara itu terlihat pula akun-akundari Kaltim cukup aktif men-tweet.

“Isu terbesar yang menjadikan percakapan ini ramai karena percakapan soal di mana sebenenarnya lokasi ibu kota nantinya. Wilayah yang terbanyak disebut adalah Kaltim (19 ribu percakapan), Kalteng 13 ribu, lalu belakangan ini mereka menyebut Papua mungkin lebih baik (3.000 percakapan),” jelasnya.

Baca Juga :

Isu terbesar kedua terkait dengan kritikan netizen kepada Jokowi yang khususnya dilakukan lebih banyak dimunculkan oleh akun-akun oposisi pemerintah.

“Dari sisi jejaring percakapan seminggu terakhir, terlihat bahwa sebanyak 55,57 persen jejaring percakapan netizen menolak terhadap pemindahan ibukota, 9,37 persen mendukung, sementara 35,07 netral,” kata Rustika.

Kelompok kontra membahas soal urgensi, anggaran, dianggap tidak menyelesaikan masalah, atau lebih baik membayar utang. Sementara, kelompok pro, mendukung sepenuhnya dengan rancangan baru dengan konsep modern, smart, green, serta menyatakan bahwa saat ini sudah waktunya ada pemerataan pembangunan. Kelompok netral lebih bicarakan soal bahasan persiapan dan desain ibu kota baru.

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.