Jadi Ibu Kota Negara, Hutan Tropis di Balikpapan Terancam

indopos.co.id – Nama Kalimantan dalam beberapa hari terakhir berkilau. Seperti asal-usul namanya, yang konon dari kata “Kali Emas dan Intan”. Ini setelah Presiden Jokowi mengumumkan ibu kota yang baru dipindah ke Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, dan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Pemindahan ibu kota di satu sisi dapat memajukan daerah. Tapi di sisi lain berpotensi merusak lingkungan. Pesatnya pembangunan di ibu kota baru dapat mengancam Balikpapan sebagai salah satu kota terdekat yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia.

Baca Juga :

Seperti diketahui, jika kota besar Indonesia kesulitan memenuhi 30 persen hutan kota (UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Tata Ruang Wilayah), maka Balikpapan, Kalimantan Timur, ada ratusan ribu hektare hamparan hijau –sebagian besar– kawasan konservasi.

Dari sisi ekologis, memang Samboja dan Bukit Soeharto tidak bisa dilepaskan dari keberagaman hayati saling menopang dengan ekosistem hutan sekeliling Balikpapan. Banyak orang tidak tahu tentang arti strategis Balikpapan sebagai daerah yang memiliki “benteng terakhir hutan tropis dataran rendah Kalimantan”.

Selama ini, orang hanya tahu bahwa Balikpapan adalah “Kota Minyak” karena potensi migasnya. Padahal, Balikpapan memiliki kawasan konservasi terluas.

Sebagai pembanding, Taman Raya Bogor hanya 80 hektare, sedangkan kota modern di Kaltim itu mengembangkan Kebun Raya Balikpapan (KRB) seluas 4.091 hektare.
Tahapan untuk KRB yang berlokasi pada Kilometer 15 kawasan Kariangau, kini pembebasan lahan 291 hektare serta sudah memiliki izin konservasi 140 hektare. Ratusan hektare lahan KRB itu kini telah menjadi objek wisata lingkungan dan laboratorium pendidikan.

Baca Juga :

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.