Tanam Ubi Jalar di Lahan Tidur, Perkuat Produk Pangan Indonesia

indopos.co.id – Pemanfaatan ubi jalar sebagai bahan pangan alternatif bisa digenjot dengan memaksimalkan lahan tidur ataupun hasil pembagian lahan oleh pemerintah. Selain itu, ubi jalar juga berpotensi sebagai bahan industri pangan yang memiliki nilai ekonomi seperti saus tomat.

Pemerintah telah menggulirkan program Reforma Agraria selama periode pertama Presiden Joko Widodo. Bahkan, pada 2019 ini, pemerintah ditarget telah melepaskan lahan sebanyak 4,4 juta hektar, dengan patokan target sebesar 9 juta hektar pada periode setelahnya.

Namun demikian, program redistribusi lahan itu kerapkali tak memberikan efek ekonomi bagi para petani maupun perbaikan rantai pasok pangan. Sebabnya, lahan hasil redistribusi tak jarang kembali menjadi lahan tidur, ataupun dicaplok usaha properti hingga pertambangan.

Di sisi lain, Indonesia selalu berkutat dengan isu rentannya ketahanan pangan nasional. Seharusnya, lewat program redistribusi lahan tersebut, terjadi peningkatan produktivitas komoditas pertanian.

Lebih jauh, sebagaimana disinggung Pakar Teknologi Pangan Universitas Sahid Giyatmi Irianto, penguatan sektor pangan, tak melulu menggubah lahan jadi pertanian padi. Sebab, lanjutnya, banyak tanaman pangan alternatif yang lebih mudah digarap maupun memiliki potensi ekonomi lebih besar, seperti ubi jalar.

“Sebagai bahan pangan, ubi jalar tentu makanan pokok alternatif. Selain itu ubi jalar bisa diolah sebagai bahan baku industri, khususnya subtitusi bahan impor,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Baca Juga :

Saat ini, ubi jalar marak digunakan pelaku industri pangan olahan, terutama saus tomat. Menurut Giyatmi, mereka mensubtitusi tomat yang kadang juga diimpor, dengan ubi jalar karena pasokan lebih stabil. “Selain itu, ternyata konsumen lebih memilih saus tomat dengan bahan subtitusi ubi jalar ini,” terang Giyatmi.

Industri saus tomat baik domestik maupun impor terus bertumbuh. Merujuk Database Comtrade PBB, ekspor kecap tomat dan saus tomat lainnya di seluruh dunia mencapai USD 1,69 miliar pada 2013.

Di sisi lain, persaingan domestik produk saus tomat memang berlangsung ketat. Produsen multinasional seperti Heinz, Unilever dan Delmonte, memperebutkan pasar saus tomat. (mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.