Ibu Tien Soeharto hingga Mbak Tutut, Perempuan Visioner Indonesia

indopos.co.id – Pantang menyerah, suka tolong menolong dan visioner. Begitulah sifat dan sikap RA Siti Hartinah atau yang akrab disapa Ibu Tien, istri Presiden RI kedua, HM Soeharto, semasa masih hidup.

Sifat pantang menyerah ia kobarkan ketika melihat penderitaan para korban bencana di negeri ini. Dalam keterbatasan sebagai seorang ibu rumah tangga, Ibu Tien terus maju untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sikap tolong menolong itu, bahkan terus dipupuk kepada anak-anaknya supaya ikut membantu untuk meringankan beban warga.

“Jadi manakala melihat penderitaan akibat sekian banyak bencana yang terjadi seakan tak ada habisnya, almarhumah ibu Tien tidak menyerah. Dalam keterbatasan langkah sebagai seorang ibu rumah tangga, bahkan beliau maju berkiprah. Itulah ibu Tien Soeharto,” ujar Siti Hardiyanti Rukmana, putri tertua Ibu Tien saat merayakan Milad 51 Tahun Yayasan Harapan Kita (YHK) dan 33 Tahun Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) di Jakarta, Jumat (23/82019).

Ibu Tien juga dikenal visioner. Ia memberikan kontribusi nyata kepada negara. Banyak karya-karya yang disumbangkan untuk negeri pertiwi.

Pada 23 Agustus 1968, tepat di hari ulang tahunnya ke-45, Ibu Tien mendirikan Yayasan Harapan Kita (YHK). Lewat organisasi sosial tersebut, muncul lah sejumlah mahakarya seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Harapan Kita, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba Jakarta, Taman Anggrek, Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) dan Sekolah Luar Biasa Bagian Tuna Netra.

“Tekad beliau tegas, jangan pernah kita dikalahkan oleh penderitaan tanpa berupaya melawannya sekuat tenaga,” tutur Siti Hardiyanti Rukmana atau yang akrab disapa Mbak Tutut.

Baca Juga :

Tradisikan Haul Gus Dur dengan Kalender Islam

Mengenai pendirian YHK, ujar Mbak Tutut, dulu organisasi sosial tersebut didirikan dengan modal awal Rp 100 ribu. Dana tersebut diambil dari kas rumah tangga. Pendirian yayasan bersama Ibu Zaleha Ibnu Sutowo. “Sekarang kita dapat menjadi saksi bagaimana Yayasan Harapan Kita berhasil mengurangi ketergantungan warga Indonesia berobat ke luar negeri. Yayasan Harapan Kita bertekad kuat sebagaimana keinginan ibu Tien sebagai pendirinya membela kesehatan rakyatnya. Sejak awal berdirinya, Yayasan Harapan Kita menegaskan bahwa bagi yang ekonominya tidak mampu, meskipun mengalami gangguan jantung, tetap harus diselamatkan dengan mekanisme subsidi silang,” ungkap Mbak Tutut yang juga menjadi Ketua Umum YHK dan YDGRK.

Sementara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK), rentang waktu 33 tahun telah menunjukkan berbagai pengabdian kepada warga negara yang terkena bencana. Pihaknya selalu hadir di mana rakyat menderita karena bencana. “Tak hanya sekali. Pada bencana yang baru saja terjadi, yakni tsunami di pesisir Banten dan Lampung, akhir tahun 2018 hingga awal 2019 lalu, saya sendiri terlibat. Sedikitnya dalam dua kali kedatangan,” terangnya.

“Kami datang bukan hanya memberi apa yang bisa kami berikan. Namun kami datang untuk memberi harapan sekaligus menegaskan masih kuatnya tali persaudaraan kita sebagai anak bangsa. Lebih jauh lagi, sebagai sesama manusia, makhluk Allah yang diikat dengan rahman dan rahim-Nya,” imbuh Mbak Tutut.

Selama 33 tahun berkiprah, lanjut dia, YDGRK telah menyalurkan bantuan sekitar Rp 64 miliar. Semua untuk korban bencana, meliputi korban bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan bencana sejenisnya. Selama itu, yayasan juga telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, pada 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia.

“Semua itu kami lakukan melalui kerja sama luar biasa dengan semua pihak. Semua yang percaya bahwa kehidupan yang lebih baik, yang lebih sejahtera itu bisa kita raih bersama melalui tolong-menolong di antara kita,” pungkas Mbak Tutut.

Sekretaris Jenderal YDGRK, Mohamad Yarman menambahkan, kesetiakawanan sosial yang tulus telah 33 tahun diantarkan oleh seluruh Pengurus YDGRK Siti Hartinah Soeharto. Begitu bencana alam terjadi, mereka adalah yang terdepan berada di lapangan. “Ibu Negara Tien Soeharto memegang langsung komandonya. Ibu Tien Soeharto mempercayakan pengabdian besar ini turut dilaksanakan oleh putra-putri dan menantunya. Mbak Tutut, Mas Indra Rukmana, Mas Sigit, Mbak Titiek, Mas Tommy, dan Mbak Mamiek Soeharto menjadi ujung tombak yang memecah kesedihan. Putra-putri Presiden ini menguatkan dan mengajak warga kembali menyusun harapan bahwa hidup tidak harus berhenti bermakna hanya karena bencana,” kata Yarman.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal YHK, Tb. Mohammad Sulaeman menilai Mbak Tutut juga pintar, tegar dan kaya visi dalam memimpin Yayasan Harapan Kita. Menurut dia, Mbak Tutut telah mengukir sejarah panjang pengabdian sosial masyarakat di dalam dan luar negeri.

“Ia membentuk karakter unggul anak muda melalui Kirab Remaja Nasional Indonesia, juga menggelar pameran kerajinan berskala internasional yang memasukkan devisa negara melalui para buyers mancanegara,” jelasnya.

Menurut dia, Mbak Tutut adalah wanita Indonesia yang memimpin langsung karya prestisius anak bangsa berupa pembangunan jalan layang tol pertama Indonesia antara Cawang-Tanjung Priok. Ia kemudian memimpin pekerjaan kontraktor konstruksi swasta pertama Indonesia di Malaysia dan Filipina. “Kegiatan bersifat teknis itu diimbanginya dengan ajang pencarian bakat penyanyi remaja hingga mengelola klub olahraga softball dan baseball, serta banyak kegiatan lain,” tutur Sulaeman. (rmn)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.