Papua Diciptakan Sebagai Surga dari Timur

 

 

indopos.co.id – Papua diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Papua memang bagian paling timur Indonesia yang memiliki sejuta keindahan. Potensi alamnya luar biasa. Juga adat istiadat dan budayanya.Tak salah jika penyanyi Edo Kondologit dalam cuplikan lirik lagunya menyebut tanah Papua tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Melalui alunan nada yang indah, setiap orang yang mendengarnya pasti dapat berimaginasi tentang pesona surga dari Timur ini.

Baca Juga :

Ketua Dewan Adat Wilayah III Doberay Papua Barat, Mananwir Paul Finsen Mayor, mengatakan Papua memiliki banyak keindahan alam yang masih terjaga dan asri. Bahkan, keindahan alam di tanah kelahirannya itu banyak membuat warga asing untuk datang berkunjung. Dan, tak sedikit dari warga asing menyebut tanah kelahirannya itu surga dunia.

’’Benar, Papua punya keindahan alam sangat luar biasa. Walaupun kami tertinggal dari pembangunan dan teknologi, kekayaan alam kami melimpah ruah. Tidak ada pulau lain di tanah air ini yang punya keindahan alam seperti Papua,’’ ungkap Mananwir kepada INDOPOS, Jumat (30/8/2019).

Mananwir menjelaskan, ada banyak keindahan alam di Papua. Di antaranya, Kepulauan Raja Ampat, Bird Watching Rhepang Muaif, Lembah Baliem, Danau Sentani, Pantai Bosnik, Pengunungan Arfak, Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid, Air Terjun Kiti-Kiti dan Warfasak, Taman Nasional Lorentz, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, hingga Hutan Tropis di setiap penjuru wilayah. Tempat nan eksotis itu banyak membuat wisatawan mancanegara kerap bertandang dan berlibur.

’’Kami punya wisata laut paling indah dan masih sangat terjaga, punya gunung yang banyak didatangi para pendaki tersohor. Budaya kami pun menjadi salah satu tujuan wisata dan juga hutan yang punya banyak flora dan fauna unik. Jadi memang pulau Papua ini surga dari dunia,’’ paparnya.

Baca Juga :

Mananwir menceritakan, masyarakat Papua secara keseluruhan selalu menjaga kelestarian alam yang telah ada sejak lama. Seperti, tidak menebang pohon, tidak menggunakan barang dari material plastik atau besi. Mereka telah menjaga kelestarian alam itu secara turun-temurun.

’’Sejak ada Freeport saja kekayaan alam kami mulai rusak. Bagi kami warga Papua alam inilah rumah yang nyaman bagi kami. Segala sumber makanan sudah tersedia. Makanya sangat kami jaga dari kerusakan lingkungan, tidak ada yang pakai bahan kimia atau bahan lain yang dapat merusak alam kami,’’ tegasnya.

Menurut Mananwir, hampir setiap tahun pendapatan pajak dari kekayaan alam milik Papua sangat tinggi. Lantaran ongkos yang harus dikeluarkan wisatawan sangat besar lantaran transportasi menuju destinasi wisata ini masih minim. Akan tetapi kocek besar yang dikeluarkan terbayar dengan sejuta keindahan yang didapatkan.

’’Dari 50 juta sampai ratusan juta. Tahu sendiri di sini jalannya masih pegunungan, makanya transportasinya pakai pesawat semua. Peredaran mata uang di Papua pun hanya dua jenis, dari Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Mereka bilang Papua ini tanah emas di Indonesia,’’ ujar Mananwir.

Hal senada diungkapkan tokoh perempuan Papua, Yakoba Lokbere. Perempuan yang tergabung sebagai aktivis perlindungan alam tanah Papua ini menuturkan, saat ini tercatat ada 730 jenis burung, 137 jenis mamalia, 37 jenis reptil, 26 jenis insekta, 20 jenis ikan, 127 jenis tumbuhan, 9 jenis dari krustasea, moluska dan xiphosura.

Dari puluhan flora dan fauna, terdapat beberapa jenis satwa langka dan sangat dilindungi. Di antaranya, delapan jenis burung Cenderawasih, burung Maleo, Kasuari Glambir Tungal dan Kerdil, Mambruk Victoria, Nuri Sayap Hitam, Hiu Karpet Berbintik, Kanguru Pohon Mantel Emas, Kanguru Pohon Mbaiso, sampai Kura-Kura Reimani.

’’Sudah banyak yang diburu sehingga ekosistem terganggu. Jadi kami harus melakukan konservasi hutan dan satwa yang ada. Mungkin dulu jumlahnya banyak, tapi seiring ada perkembangan satwa dan alam mulai dirusak,’’ tuturnya.

Ditambahkan Yakoba, pemerintah pun diminta untuk konsen membantu melindungi satwa dari aksi perburuan liar. Kemudian juga memulai melakukan pengembangbiakan satwa langka asal Papua. Sebab, hal itu tak dapat seluruhnya dilakukan masyarakat di Bumi Cendrawasih sendiri.

’’Kemampuan kami terbatas melindungi dan membiakkan satwa ini. Yang pasti sebagai warga Papua kami ingin alam ini tetap terjaga. Jika terus dibiarkan, maka satwa endemik tanah kelahiran kami pasti punah,’’ pungkasnya. (cok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.