Kementan dan Kodam IV Diponegoro Gerakkan Tim Pompanisasi dan Tanam Padi Se-Jateng

indopos.co.id – Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Kodam IV Diponegoro untuk bergerak mengawal percepatan tanam padi di beberapa Provinsi, salah satunya Jawa Tengah (Jateng) sebagai sentra produksi padi Indonesia. Untuk itu, Kementan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Upaya Khusus (UPSUS) Padi, Jagung dan Kedelai yang bertempat di Purwokerto, Selasa (3/9/2019).
Pada Rakor ini, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengungkapkan sebagai langkah percepatan tanam di bulan September ini, Kementan melalui Ditjen Tanaman Pangan mendorong gerakan olah tanah dan tanam. Yakni salah satunya melalui program bantuan percepatan tanam untuk skala minimum 100 hektar.
“Kami akan bantu BBM (bahan bakar minyak, red) untuk pompa, BBM untuk traktor, biaya operator traktor dan operasional gerakan,” papar Suwandi dalam Rakor tersebut.
Baca Juga :

NasDem Day Makassar 2020 Menuai Apresiasi

Suwandi menyebutkan dalam mensukseskan percepatakan tanam ini, pihaknya akan menyasar ke 15 Provinsi sentra. Namun ia meningatkan percepatan mulai awal September ini dengan luas minimal 100 hektar dan pastinya ini akan mendongkrak luas tambah tanam padi.
“Untuk yang kena puso manfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP, red) nya. Asuransi ini digerakkan oleh Jasindo Kabupaten, bahkan Jasindo sudah mengakomodir untuk komoditas padi dan jagung. Contohnya, kemarin di Lampung Jasindo sudah berjalan di jagung dengan baik disana,” ujarnya.
“Bagi benih yang sudah disalur maka jangan tunggu lama-lama agar segera ditanam,” pintanya.
Begitu pula dalam hal pendataan lahan, Suwandi meminta agar dibentuk Tim untuk melacak keberadaan lahan sawah dan disesuaikan dengan data BPN yang telah ada. Tujuannya agar selisihnya tidak banyak, atau agar lahan sawah yang ada semua terdata dalam BPN.
“Ada sistem aplikasi ARcGIS yang dapat memetakan pertanaman yang belum terdata di Kerangka Sampling Area,” ungkapnya.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi (tengah) pada acara Rapat Koordinasi Upaya Khusus (UPSUS) Padi, Jagung dan Kedelai yang bertempat di Purwokerto, Selasa (3/9/2019).
Masih di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Suryo Banendro, mengakui bulan Agustus kemarin masih belum bisa mencapai target yang telah ditetapkan, namun ia optimis September ini bisa dikejar dengan upaya percepatan tanam padi. Meskipun begitu jika dibandingkan tahun lalu capaian bulan Agustus ini lebih tinggi yakni seluas 71.986 hektar, yakni naik sebesar 1.616 hektar dibandingkan Agustus lalu sebesar 70.370 hektar.
“Tidak hanya padi, beberapa upaya pengembangan komoditas lain juga terus dilakukan Dinas Pertanian Jawa Tengah. Capaian komoditas lain kami ada yang perlu diapresiasi. Contohnya kacang hijau varietas Vima 53 yang ditanam di Demak, produksinya tinggi karena tingkat adopsi teknologi dan varietas petani disana cukup bagus, bahkan sudah berhasil ekspor ke Taiwan,” ungkapnya.
Selain itu, jelas Suryo, rencana tumpangsari jagung dengan perkebunan seluas 11 ribu hektar akan ditanam awal Nopember atau akhir Oktober 2019. Kemudian, saat ini di Brebes sedang panen bawang merah. “Walaupun musim panen raya, Alhamdulillah harganya masih cukup baik,” cetusnya.
Kerja keras Kementan selama ini tentu tidak sendirian. Dukungan dari TNI sangat membantu upaya peningkatan produksi pangan. Letkol Caj Achsin, dari Kodam IV Diponegoro mengungkapkan bahwa pihaknya perlu usaha kerja keras untuk meningkatkan LTT agar memenuhi target. Sesuai instruksi pimpinan, pihaknya diminta membantu upaya Kementan dengan mendorong petani untuk tanam serentak.
“Kami pun siap membantu pembanguan infrastruktur jaringan irigasi tersier, melakukan sinergi dengan stakeholder, dan pendampingan secara intensi,” jelasnya.
Penguatan Data
Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan, Efi Respati menjelaskan Kementan terus melakukan penguatan data pangan. Melalui sistem Pengembangan Data Pangan Strategis (PDPS) dibangun, maka dapat mempercepat pelaporan data, memudahkan akses data dan memperkuat korodinasi data antara pusat dan daerah.
“Jadi dengan adanya sistem ini bisa mempercepat aliran data secara periodik setiap bulan agar lebih akurat, kuat dan mudah diakses,” bebernya.
“Kami akan terus melakukan evaluasi agar tidak ada selisih perbedaan data yang signifikan antara data upsus dan data PDPS,” imbuh Efi. (*)

loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.