Mensos Resmikan Percontohan Komunitas Adat Terpencil di Sarolangun Jambi

indopos.co.id – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Senin (14/10/2019) meresmikan etalase atau percontohan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Pematang Kolim Desa Gurun Tuo, Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.
Baca Juga :
Selain itu juga dilakukan serah terima sarana dan prasarana KAT dari Program CSR Petrochina International Jabung Ltd di bawah koordinasi SKK Migas. Nilai bantuan total sebesar Rp1.233.981.000.
Perinciannya, pembangunan sarana air bersih dan MCK komunal di dua lokasi yaitu Lokasi KAT Pematang Kolim, Desa Gurun Tuo dan Lokasi KAT Sungai Surian, Desa Pulau Lintang, Kabupaten Sarolangun senilai Rp316.690.000.
Pembangunan pusat belajar-bermain dan pusat layanan kesehatan SAD di Punti Kayu I, Desa Bukit Suban, Kabupaten Sarolangun senilai Rp347.049.000. Kemudian pelatihan sustainable livelihood bagi 34 KK SAD Pematang Kolim, Desa Gurun Tuo, Kabupaten Sarolangun sejumlah Rp198.787.000.
Lebih lanjut Mensos Agus mengatakan, program nawacita Presiden jokowi
membangun Indonesia dari pinggiran. Dan memperkuat NKRI.Karena itu sangat penting memberdayakan KAT.
“Pemerintah dengan segala upaya tidak ingin melihat ada lagi warga atau kelompok, atau Komunitas Adat Terpencil (KAT) dimana saja, khususnya di Jambi, masih terisolasi. Yang mengakibatkan tidak tersedianya layanan publik termasuk layanan sosial, ekonomi dan sebagainya,” ujarnya Senin (14/10/2019).
Lebih lanjut Mensos Agus mengatakan, program pemberdayaan KAT untuk menjadikan mereka-mereka suku anak dalam sebagai insan atau komunitas yang mandiri.
“Jadi Komunitas Adat Terpencil  harus kita bentuk sebagai komunutas yang mandiri. Yang tujuannya menuju masyarakat yang setara dan sejahtera.
Program ini melalui penguatan sdm yg mampu menjawab tantangan zaman.
Program KAT, sejalan dengan program pak Jokowi, nawawacita ke dua
pembangunan SDM,” bebernya.
Lebih lanjut Mensos Agus mengatakan,  hal yang menjadi catatan pemerintah, program pemberdayaan KAT, tidak boleh hanya menyentuh pemenuhan kebutuhan dasar atau ekonomi.
“Tapi juga sebagai alat untuk melestarikan kearifan lokal atau budaya lokal. Ini sebgai identitas kita dan benteng NKRI,” ujarnya.
Mensos Agus menambahkan, kita sebagai bangsa termasuk masyarakat Jambi, tidak boleh tertutup dari perubahan. Kita harus berani menghadapi tantangan-tantangan dan perubahan.
“Oleh karena itu kita harus bisa merumuskan kebijakan sesuai zaman, tapi juga melestarikan kearifan lokal,” jelasnya.
Mensos Agus menambahkan, program dari pemberdayaan adat terpencil ini berhasil atau tidak berhasil tegantung dari kita sendiri. Pihaknya berharap masyarakat KAT  dapat mewujudkan perubahan untuk dapat menilai perubahan yang datang dari luar.
Namun tetap menjununjung kearifan lokal.
Adapub etalase KAT, menurutnya merupakan percontohan. Tidak hanya terbatas pembangunan fisik, atau ekonomi untuk meningkatkan mata pencaharian.
“Tapi juga perubahan sikap, dan perubahan-perubahan yang mendukung kearifan lokal,” jelas Mensos Agus.
Untuk mendukung itu, pemerintah tentu harus mendapatkan dukungan dari semua pihak. Di dalam data Kemensos, Provinsi Jambi merupakan provinsi yang memilijki suku anak dalam terbanyak.
“Bantuan sudah banyak kita lakukan.Tinggal sekitar 2000 KK  yang masih harus kami berikan perhatian,” ujarnya.
Mensos Agus menambahkan, tadi warga sudah dapat NIK. Ini sangat penting, karena program bansos lainnya di kemensos seperti PKH, BPNT, Kube, hanya dapat di salurkan buat mereka yang punya NIK.
“Harapan kami tentu akan semakin banyak pemda seperti Pemda Jambi
yang peduli dengan pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil dan suku anak dalam,” pungkasnya.
Hadir mendampingi Mensos Agus, antara lain Dirjen Pemberdayaan Sosial Pepen Nazaruddin, Dirjen Rehabilitasi Sosial Edi Suharto, dan Staf Khusus Menteri Sosial. Hadir dari tuan rumah, Gubernur Jambi Fachrori Umar, Bupati Sarolangun Cek Endra, dan unsur pemerintah daerah terkait, temenggung (Pemuka Adat) SAD, dan warga KAT Desa Gurun Tuo.
Sementara itu, Kemensos juga memberikan Pelatihan penghidupan berkelanjutan dilaksanakan Maret 2019, dengan  menitikberatkan pada pemahaman kognitif, wawasan kebangsaan, hak dan kewajiban sebagai warga negara, asimilasi dengan lingkungan sekitar, identifikasi pasar dan MPA).
MPA diberikan Kemensos untuk mempercepat kemandirian warga KAT. Dalam program ini, warga diberi pelatihan melalui budidaya lele kualitas ekspor, ternak kambing jawa dan ayam kampung joper. “Dengan bantuan ini, diharapkan warga KAT juga akan mendapat mengelola sumber kehidupan sehingga bisa mandiri secara ekonomi,” ujar Dirjen Pemberdayaan Sosial Pepen Nazaruddin.
Pepen menambahkan, populasi KAT di Indonesia berdasarkan database KAT Tahun 2017 oleh Pemerintah Daerah berjumlah sekitar 150.000 Kepala Keluarga (KK). Namun baru sekitar 6.288 KK (4,2%) telah mendapat program pemberdayaan dari Program KAT Kementerian Sosial RI.
Mereka tersebar di 22 provinsi, 51 kabupaten, 65 kecamatan, 74  desa dan 92 lokasi. Sementara itu sekitar 141.775 KK (94, 4 persen) belum mendapat program pemberdayaan.
Kementerian Sosial, kata Pepen, telah lama berupaya memberikan layanan sosial bagi komunitas adat terpencil berupa pendampingan, pelatihan keterampilan, pemberian stimulan, penataan lingkungan dan penguatan keserasian sosial.
Penyediaan dukungan untuk pemberdayaan warga KAT, kata Pepen, tidak sebatas dimaknai dalam konteks pengembangan sarana fisik, berupa penyerahan sarana dan prasarana.
“Dengan program ini, kita harapkan ada perubahan sikap, perilaku, dan nilai-nilai dengan tetap mendayagunakan dan memelihara nilai-nilai kearifan lokal,” pungkasnya.

loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.