Tiongkok Tawarkan Peluang Bisnis ke Perusahaan Taiwan

indopos.co.id – Tiongkok meluncurkan sejumlah kebijakan yang menawarkan lebih banyak peluang bisnis dan penanaman modal untuk perusahaan Taiwan. Namun, otoritas Taiwan mengingatkan rakyatnya kebijakan Tiongkok itu merupakan “godaan” menjelang pemilihan ‘presiden’ pada Januari 2020.

Sejak Taiwan dipimpin oleh Tsai Ing-wen pada 2016, pemerintah Tiongkok meningkatkan tekanan terhadap wilayah otonom dengan pemerintahan demokratis itu. Tiongkok mengklaim Taiwan merupakan bagian dari negeri Tirai Bambu.

Baca Juga :

Tekanan itu diberikan karena pemerintah Tiongkok khawatir terhadap rencana Tsai Ing-wen yang ingin Taiwan merdeka secara resmi. Demi meningkatkan pengaruh, Beijing membidik perusahaan di Taiwan untuk berbisnis di Tiongkok.

Bahkan, pihak Beijing memaksa perusahaan-perusahaan asing untuk menuliskan dalam laman mereka bahwa Taiwan merupakan bagian dari Tiongkok. Selain itu, jet tempur Tiongkok juga kerap berpatroli di wilayah udara Taiwan.

Baca Juga :

Walaupun demikian, otoritas Taiwan menduga peluang bisnis yang ditawarkan Tiongkok dilatari kepentingan politik. Dalam kebijakan terbarunya, Tiongkok mengizinkan perusahaan Taiwan berinvestasi atau berpartisipasi dalam proyek pengembangan teknologi komunikasi 5G. Investor Taiwan juga diperkenankan menanamkan modal di sektor penerbangan sipil.

Tidak hanya itu, perusahaan Taiwan diperbolehkan menerbitkan obligasi untuk meningkatkan permodalan, kata perwakilan pemerintah Tiongkok untuk Taiwan dalam pernyataan tertulisnya. Selain ragam peluang bisnis, pemerintah Tiongkok juga akan memudahkan warga Taiwan untuk tinggal dan bekerja di Negeri Tirai Bambu.

Bahkan, Tiongkok menawarkan warga Taiwan di luar negeri untuk mendapatkan layanan konsuler dari Kedutaan Besar Tiongkok, meskipun pada praktiknya, Tiongkok menganggap warga Taiwan sebagai rakyat Tiongkok.

Walaupun demikian, perwakilan otoritas Taiwan untuk Tiongkok daratan mengatakan langkah Beijing merupakan upaya “mendorong penyatuan, memikat rakyat Taiwan, dan berusaha memecah-belah dari dalam, dan kebijakan itu merupakan upaya memengaruhi pemilihan presiden di Taiwan”.

Siapa pun yang memilih berbisnis di Tiongkok perlu menyadari risiko serta “perbedaan sistem” dua wilayah, kata dewan otoritas Taiwan. Sejak dua pihak sepakat untuk berdamai pada 1980an, banyak perusahaan Taiwan berbisnis di Tiongkok karena biaya operasional rendah serta persamaan bahasa dan budaya.

Bagi pemerintah Tiongkok, kebijakan yang diluncurkan untuk warga dan perusahaan Taiwan murni didorong keinginan membantu mereka. Akan tetapi, otoritas pimpinan Tsai Ing-wen khawatir Tiongkok akan “menyerap sumber daya Taiwan” dan membangkitkan kembali sentimen pro-Tiongkok di pulau berotonomi itu. Pengaruh Tiongkok diyakini dapat mendorong warga memilih partai yang bersahabat dengan pemerintah Tiongkok.

Tiongkok terus menekan Tsai dengan merebut mitra diplomatik Taiwan, antaranya Kepulauan Solomon dan Kiribati. Tsai berencana mencalonkan diri kembali pada pemilihan ‘presiden’ Januari 2020. Tsai tidak membiarkan pihaknya terus dirundung Beijing, dan petinggi Taiwan itu akan terus menjaga keamanan serta sistem demokrasi di wilayahnya. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.