Sidang Lanjutan Penembakan Polisi di PN Kota Depok Dengarkan Keterangan Saksi, Ini Pengakuannya

indopos.co.id – Sidang lanjutan kasus penembakan polisi oleh sesama polisi kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Rabu (6/11/2019). Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi terungkap pemicu aksi koboi terdakwa yang menghabisi nyawa korban di ruang SPKT Polsek Cimanggis.

Keteranga saksi itu pula yang membuat majelis hakim terkejut dan geleng kepala mendengar kesaksian alasan Briptu Rangga Tianto menenembak seniornya Bripka Rahmat Efendy hingga tewas. Pantauan INDOPOS, sidang kasus penembakan itu dimulai pukul 16.15 WIB, di ruang sidang II PN Depok.

Sidang kasus penembakan polisi vs polisi itu dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Ramon Wahyudi, dengan hakim anggota masong-masing Darmo Wibowo dan Yuane Marieta serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rozi Juliantono. Terdakwa didampingi pengacaranya, Farhan Hazairin.

Dalam sidang keterangan saksi itu majelis hakim mengungkap pemicu aksi sadis terdakwa kepada korban. Hakim anggota I, Darmo Wibowo mengaku terkejut dengan terungkapnya pemicu aksi penembakan yang dilakukan terdakwa setelah mendengar keterangan saksi bernama Zulkarnain yang merupakan ipar terdakwa.

Saksi mengetahui percakapan di dalam ruang SPKT, hingga mendengar suara letusan senjata api milik terdakwa. ”Kami terkejut, keterangan saksi yang membuat terdakwa menembak korban. Saksi yang ikut datang ke Polsek Cimanggis menemani terdakwa untuk membebaskan keponakan terdakwa yang ditangkap korban mengatakan pemicunya hanya masalah kalimat yang menyinggung perasaan terdakwa,” katanya saat dijumpai di PN Depok.

Lebih lanjut, Darmo menjelaskan, pemicu aksi brutal terdakwa karena Bripka Rahmat Efendy (korban) berucap ‘Kamu siapa, saya yang menangkap, saya sedang tungguin laporannya’. Mendengar ucapan itu, Briptu Rangga Tianto (terdakwa) menjawab ‘Mohon izin dengan siapa saya bicara’ dan korban menjawab ‘Saya yang pegang Jatijajar, sudah kamu keluar saja, junior saja kamu, nanti saya laporkan kamu’.

”Inilah kalimat yang membuat terdakwa emosi dan mengokang senjata serta menembak korban. Memang saksi dan terdakwa datang untuk meminta bantuan agar keponakannya yang ditangkap saat hendak tawuran tidak ditahan dan dilakukan pembinaan oleh pihak keluarga,” papar Darmo juga.

Menurutnya lagi, saksi tidak mengetahui jika saat mendatangi SPKT Polsek Cimanggis, Briptu Rangga Tianto membawa senjata api. Karena saat itu terdakwa menggunakan kemeja dan terburu-buru. ”Saksi dengar 4-5 kali suara letusan senjata api saja di dalam SPKT. Saksi juga sempat merangkul terdakwa agar menghentikan aksi penembakan itu. Ini fakta yang sangat mengejutkan kami,” ujar Darmo juga.

Usai mendengarkan keterangan saksi, sambung Darmo, pihaknya mempertanyakan kebenaran keterangan saksi kepada terdakwa. Terdakwa ikut membenarkan tindakannya sembari meminta maaf. Darmo juga mempertanyakan jenis senjata api yang digunakan terdakwa kepada seorang anggota polis yang berjaga di ruang sidang.

Rupanya jenis senjata tersebut hanya diperuntukan khusus bagi anggota reserse saja. ”Itu semua dibenarkan terdakwa, dan tidak ada satupun yang disangkal. Kami juga kaget terdakwa memegang senjata yang diperuntukan buat reserse, karena jenisnya otomatis dan sangat jarang dipegang anggota polisi di luar reserse,” paparnya juga.

Di tempat yang sama, JPU Rozi Juliantono menegaskan pihaknya tak yakin jika saksi tak mengetahui terdakwa membawa senjata api saat menuju SPKT Polsek Cimanggis. Sebab dari berita acara penyelidikan, kedatangan terdakwa ke Polsek Cimanggis atas permintaan saksi lantaran anaknya ditangkap korban saat hendak tawuran.

Terlebih saksi mengetahui jika terdakwa merupakan anggota polisi yang bertugas di Mabes Polri. ”Kalau kami yakin saksi mengetahui semua, karena dia kan ipar terdakwa. Keterangan saksi ini sah-sah saja di mata hukum. Kami tetap pada pasal 340 KUHP, karena terdakwa secara sadar menyerang korban saat menunggu laporan. Itu juga disaksikan anggota polisi di Polsek Cimanggis,” ucapnya.

Sementara itu Farhan Hazairin, pengacara terdakwa menuturkan aksi yang dilakukan kliennya bentuk dari pembelaan diri. Mengingat korban telah mengeluarkan kalimat yang menyulut emosi terdakwa. Padahal saat itu kliennya telah beritikad baik untuk menjalin komunikasi dengan korban menggunakan kalimat santun.

”Ini terjadi karena klien kai melakukan pembelaan diri. Mungkin jika tidak ada kalimat kamu junior dan mau dilaporkan ke atasan, klien kami tidak akan bertindak seperti itu. Siapa pun manusia normal punya keterbatasan emosi menghadapi kalimat seperti itu,” tuturnya. (cok)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.