Dua Nelayan Korut Bunuh 16 Awak Demi Kabur ke Korsel

indopos.co.id – Dua nelayan Korea Utara (Korut) yang diduga membunuh 16 awak kapal lainnya sebelum melarikan diri ke Korea Selatan (Korsel), telah dikembalikan ke negara asalnya.  Mereka melintasi perbatasan laut pada Sabtu (2/11/2019) dan kemudian ditahan oleh pihak berwenang di Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan biasanya memberikan suaka pada para pembelot, tetapi mereka mengatakan bahwa dalam kasus ini, kedua orang itu menjadi ancaman bagi keamanan nasional. Mereka diperlakukan sebagai penjahat, bukan pembelot, dan telah dikirim kembali.

Baca Juga :

Perlu waktu dua hari bagi angkatan laut Korea Selatan untuk menangkap kedua nelayan itu setelah melewati perbatasan dengan kapal penangkap cumi-cumi mereka. Menurut kantor berita Yonhap, mengutip para pejabat, keduanya mengaku bahwa mereka dan seorang pria lain membunuh kapten pada akhir Oktober karena perlakuan keras. Mereka kemudian membunuh anggota kru lainnya yang memprotes, satu per satu. Mayat-mayat itu kemudian dibuang ke laut.

Tiga tersangka itu pada awalnya kembali ke Korea Utara, tetapi ketika salah satu dari mereka ditangkap oleh polisi setempat di sebuah pelabuhan, dua lainnya memutuskan untuk melarikan diri dengan kapal mereka ke Korea Selatan.

”Ketika kami tidak bisa mempercayai niat mereka untuk membelot, kami memutuskan untuk tidak membiarkan penjahat untuk tetap tinggal,” kata kementerian unifikasi di Seoul pada BBC.

Kedua pria berusia 20 an itu diserahkan ke Korea Utara, di desa perbatasan Panmunjom di zona demiliterisasi. Ini adalah deportasi pertama Korea Selatan ke Korea Utara melalui Panmunjom. Tidak ada perjanjian ekstradisi antara Utara dan Selatan.

Baca Juga :

Para pembelot di semenanjung Korea biasanya adalah warga Korea Utara yang mencoba melarikan diri dari kediktatoran tertutup itu ke Korea Selatan yang lebih demokratis dan lebih kaya.

Pembelotan semacam itu sangat berbahaya. Dalam beberapa kasus, tentara yang telah menyeberangi perbatasan dengan berjalan kaki, seringkali di hujani peluru. Ada 1.127 pembelotan dari Utara ke Selatan pada 2017, menurut data dari Seoul. Para pembelot biasanya diinterogasi oleh otoritas intelijen Korea Selatan, dan menghabiskan waktu di fasilitas yang dikelola pemerintah untuk pendidikan ulang, sebelum dilepaskan ke masyarakat.

Sebagian besar warga Korea Utara yang melarikan diri melakukannya melalui Tiongkok, yang memiliki perbatasan lebih panjang dengan Korea Utara. Perbatasan itu lebih mudah untuk diseberangi daripada Zona Demiliterisasi (DMZ) yang dilindungi sangat ketat antara kedua Korea. Tiongkok menganggap para pembelot sebagai migran ilegal, bukan pengungsi, dan seringkali memulangkan mereka secara paksa. (fay)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.