Kontroversi Menag, dari Cadar, Celana Cingkrang dan Kini Video Khutbah Jumat

indopos.co.id – Menteri Agama Fachrul Razi tak henti-henti didera kontroversi. Setelah rencananya melarang cadar dan celana cingkrang masuk instansi pemerintah menuai polemik, kini giliran video khutbah Jumatnya yang viral menjadi buah bibir. Ceramahnya di Masjid Istiqlal pada Jumat (1/11) lalu menjadi sorotan karena Wakil Panglima TNI periode 1999-2000 itu tidak membaca salawat Nabi pada khutbah pertama. Padahal, membaca salawat salah satu rukun khutbah Jumat, sehingga salat Jumat diyakini tidak sah jika rukunnya tidak terpenuhi..

Menteri Agama berlatar belakang militer ini juga salah mengucapkan ’’Alhamdulillah Lilladzi…’’. Seharusnya ’’Alhamdulillahilladzi…’’

Baca Juga :

Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia Tahun 2019

Tidak hanya itu. Menteri Agama juga salah menyebut ayat Ibrahim (seharusnya surat Ibrahim) dan sejumlah bacaan ayat Alquran lainnya yang tidak sesuai ’ilmu tajwid dan makhorijul huruf. Di dalam bahasa Arab, panjang pendek bunyi memengaruhi arti.

Ketika mengutip surat Al Kafirun, misalnya. Menag mengucapkan ’’Qul ya ayyuhal kaafirun. La a’budu maa ta’budun…’’ Seharusnya ’’Laa a’budu maa ta’buduun…’’ Lam dibaca panjang (mad). Bukan pendek. Kalau lam dibaca pendek artinya sungguh aku menyembah Tuhan yang kamu sembah. Kalau lam dibaca panjang artinya aku tidak menyembah Tuhan yang kamu sembah.

Baca Juga :

Terkait rukun salat Jumat yang tertinggal dan bacaan tak sesuai tajwid dan makhraj, Ketua PBNU Marsudi Syuhud enggan berkomentar jauh.

’’Harus tabayun (kroscek) dulu ke Masjid Istiqlal. Apa itu benar? Takutnya sudah dipotong. Tidak sesuai aslinya. Yang paling top (tanya) ke Istiqlal,’’ kelitnya saat ditanya INDOPOS, Kamis (7/11).

Baca Juga :

Namun, ketika hal ini dikonfirmasikan ke Imam Besar Istiqlal, dia enggan berkomentar. ’’Beliau (Imam Besar Istiqlal, Red) tidak ingin berkomentar. No comment. Namun Beliau utarakan terkait hal itu semua dikembalikan ke Kemenag,’’ kata Sekretaris Imam Besar Masjid Istiqlal, Hendra, kepada INDOPOS yang menemuinya di Masjid Istiqlal, Kamis (7/11) siang.

Menteri Agama Jenderal TNI (Purnawirawan) Fachrul Razi tidak banyak berkomentar mengenai sorotan saat dia menjadi khotib salat Jumat. ’’Saya sebenarnya tidak terlalu peduli. Tapi teman saya mengangkat mengenai saya yang menjadi khotib. Coba cari buktinya di TVRI dan CCTV,’’ ucapnya singkat di sela-sela rapat dengan Komisi VIII DPR RI, Kamis (7/11).

Terkait rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII, Menteri Agama mengatakan, pihaknya memaparkan sejumlah program yang akan dilaksanakan. Menurutnya, ada 12 program yang akan dijalankan. Pertama, program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya di kementerian agama. Kedua, program kerukunan umat beragama. Ketiga, program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur kementerian agama. Keempat, program penelitian pengembangan dan pendidikan pelatihan Kemenag. Kelima, program pendidikan Islam. Keenam, program penyelenggaraan haji dan umrah. Ketujuh, program bimbingan masyarakat Islam. Kedelapan, program bimbingan masyarakat Kristen. Kesembilan, program bimbingan masyarakat Katolik. Kesepuluh, program bimbingan masyarakat Hindu. Kesebelas, program bimbingan masyarakat Buddha. Kedua belas, program bimbingan produk halal. ’’Ini dilakukan dalam upaya mencapai sasaran strategis,’’ kata Menag.

Sementara itu, dalam rapat tersebut anggota Komisi VIII Ali Taher mengingatkan bahwa tugas Menteri Agama adalah menjadi wasit. Karena itu, tidak boleh masuk ke dalam permainan. “Jangan sampai wasit berjalan di dalam, maka anda bisa kehilangan pemain. Akhirnya, anda berjalan sendirian. Anda bisa ditinggalkan umat. Saya sayang pada anda, maka saya bicara apa adanya,” ujar Ali Taher.

Ali Taher meminta Fachrul Razi mencatat bahwa tugasnya adalah menjadi pengawal rohani bangsa. “Pak Menteri, tolong catat ini, mumpung saya perintah anda hari ini, jadikan Kemenag menjadi pengawal rohani bangsa,” ujar Ali.

Mendengar ceramah 10 menit dari Ali Taher, Fachrul Razi tampak mendengarkan dengan seksama. Sesekali tersenyum. Kemudian mengangguk-angguk.

Perbaiki Komunikasi

Anggota Komisi VIII DPR RI Buchori menilai sosok Menteri Agama cukup baik. Hanya perlu diperbaiki komunikasinya. Sebab, menurut Buchori, sebelumnya ada dua jenderal yakni Jenderal Alamsyah dan Jenderal Tarmidzi Taher yang sukses di era Orde Baru.

’’Mereka sukses mengendalikan umat Islam dan meninggalkan legacy (warisan). Contoh Alamsyah meninggalkan legacy kerja sama lembaga Islam Indonesia dengan Arab Saudi, sementara Tarmidzi Taher meninggalkan legacy yang bermanfaat untuk umat Islam,’’ sebutnya.

Politisi asal PKS ini menuturkan, Menag harus berpikir bagaimana bisa meninggalkan warisan yang bermanfaat untuk kebesaran umat Islam di Indonesia. Dengan menjadi perekat umat dan menjadi penyatu umat.

Terkait pernyataan Menag soal bercadar radikalisme, menurutnya, masih dipertanyakan Komisi VIII. Sebab, radikalisme belum mendapatkan definisi secara Konstitusional. Belum ada UU yang mengatur apa itu radikalisme. Jadi belum ada batasan pengertian radikalisme.

’’Bahaya sekali ini. Setiap orang bisa menggunakan untuk menghantam yang lain. Sama mirip dengan menggunakan definisi atau terminologi moderasi,’’ ungkapnya.

Karena itu, dikatakan Buchori, Menag harus lebih berhati-hati dan cermat memasuki ruang ini. Semestinya ruang definisi radikalisme harus diukur dengan DNA bangsa Indonesia. Yakni bangsa beragama, bangsa yang memiliki keyakinan lebih kuat.

’’Kalau tidak didorong keyakinan agama yang kuat, mungkin saja perjuangan kemerdekaan kita akan lebih lama,’’ ucapnya.

Sementara itu, kegiatan Menag saat memimpin salat Jumat yang juga menuai polemik bukan merupakan persoalan batal tidak batal. Sebab, di dalam Mazhab Syafi’i yang mengatur rukun dalam khutbah wajib membaca salawat. Jadi, permasalahan itu tidak tepat juga, karena tidak mendasar, karena dalam agama orang per orang diberikan kebebasan mengambil pilihan.

’’Saat kami datang ke Beliau, Beliau menyampaikan sudah membaca salawat, tapi tidak terekam. Jadi rekaman itu tidak utuh,’’ katanya. (nas/wok/ibl/bar)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.