Personel Humas Kemenkop Korbankan Hari Liburnya demi Tuntaskan Pelatihan Jurnalistik

indopos.co.id – Pelatihan Kehumasan dan Pers Rilis Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) di Kantor INDOPOS, Kebon Jeruk, Jakarta Barat memasuki babak akhir pada Sabtu (9/11/2019). Meksi jadwal harus jatuh pada akhir pekan dan tanggal merah pula, peserta tetap semangat menuntaskan pelatihan yang digelar sejak Jumat (8/11/2019).

Materi yang dibahasa pada pelatihan kali ini adalah membuat konten dan mengelola media sosial (medsos). Pada sesi pertama Pemimpin Redaksi INDOPOS Ariyanto menyampaikan materi penulisan jurnasilistik. Turut hadir pula Direktur indopos.co.id Syarif Hidayatullah. Menurut Ari, untuk membuat konten berita atau informasi yang disebarkan idealnya menggunakan kaidah jurnalistik. Kendati, konten tersebut disebarkan melalui medsos.

”Standar penulisan jurnalistik menganut rumus 5w 1 h yaitu why, what (apa), when (kapan), who (siapa), where (dimana), why (mengapa), dan how (bagaimana),” ujarnya. Sedangkan penyusunan tulisan disusun berdasarkan struktur piramida terbalik. ”Artinya untuk menyajikan fakta-fakta yang paling penting atau yang paling menarik di awal tulisan. Kalau awalnya saja tidak menarik tentu pembacanya akan meninggalkannya,” ungkap Ariyanto.

Sedangkan untuk mendapatkan konten yang menarik bisa dilakukan pendekatan yang disebutnya sebagai ”rukun iman berita”. Rukun iman yang dimaksud antaralian, sesuatu yang baru, aktual, unik, kedekatan, ketokohan, daya tarik, konflik, ketegangan/dramatik, penting/menyangkut orang banyak, serta human interest.

Bedanya baru dengan aktual adalah baru terkait dengan waktu. Sementara aktual adalah sesuatu yang menjadi bahan pembicaraan dan perhatian masyarakat banyak dan tak terpaku oleh waktu.  Aktual tidak terpaku waktu. ”Ingat perisitiwa Ariel vs Luna Maya, itu terjadi sudah lama. Tetapi peristiwanya tetap hangat diperbincangkan di masyarakat hingga kini,” seloroh Ariyanto.

Begitu pula sesuatu yang unik pasti menarik untuk diberitakan. Ariyanto pun menyarankan personel Humas Kemenkop sesekali mencari bahan yang unik-unik untuk dijadikan pres rilis.”Misalkan ketika kunjungan ke daerah Menteri Koperasi Teten Masduki memeluk orangutan, tentu saja ini unik dan disukai banyak orang,” cetusnya.

Berita yang menarik juga mengadung kedekatan (proximity). Kedekatan yang dimaksud bukan hanya secara fisik, tetapi juga dekat secara emosial. Selanjutnya ketokohan menjadi sesuatu yang menarik. Peristiwa sederhana akan lebih menarik dilakukan oleh tokoh daripada bukan tokoh. ”Pak Teten Masduki makan rujak cingur di Rawa Belong tanpa dikawal sespri, tapi dikawal orang lain itu akan menarik untuk diberitakan,” ungkapnya.

Begitu pula unsur daya tarik atau magnitude menjadi hal utama dalam berita. Daya tarik tersebut bisa mencul dari peristiwa yang luar biasa yang bisa menjadikan viral di medsos. Salah satu contohnya adalah bencana alam,  seperti tsunami, gempa bumi, yang menimbulkan banyak korban.

Unsur menarik selanjutnya adalah konflik. Berita konflik menarik karena mampu mempengaruhi emosi pembacanya. ”Konflik tidak berarti harus berantem, tetapi sesuatu yang bersifat dialektika,” ungkapnya.

Ketegangan/dramatik selalu penting disajikan dalam berita. Misalnya pengejaran tokoh teroris oleh polisi yang dipunuhi dengan kontak senjata. Item berikutnya adalah sesuatu yang penting atau menyangkut orang banyak adalah hal yang menarik diberitakan. Misalnya, berita soal kenaikan bahan bakar minyak tentu mendapat perhatian masyarakat luas.

Item berikutnya adalah human interest atau sisi kemanusiaan seseorang. Berita yang mengangkat sisi ini akan memunculkan solidaritas maupun kepekaan sosial dari masyarakat. Berita human interest biasanya menungkapkan sisi kemanusiaan yang menimbulkan perasaan khusus bagi pembacanya. Baik perasaan sedih, gembira, bangga, terenyuh, atau lainnya. ”Pres rilis kemoenkop terlalu stright news, sekali-kali perlu untuk dikemas human interst. Terutama kalau kunjungan ke daerah pasti banyak peristiwa human interest,” paparnya.

Selanjutnya Ariyanto memaparkan karakteristik pengguna media sosial, Facebook, Instagram, Twitter, dsb. ”Apapun medianya, pengemesannya akan lebih menarik menggunakan kaidah jurnalistik,” tegasnya.(dni)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.