Siapa Sangka, Sang Pelopor Kampung Warna-Warni Ternyata Buta Warna

indopos.co.id – Nobby, 25, adalah salah satu pemuda buta warna yang menggenggam mimpi besar yaitu menjadi pakar energi alternatif. Berbekal kemampuan teknik elektro, dia membawa peradaban baru di kawasan kumuh Penas Tanggul.

 “Saya punya niat menjadikan sungai ini sumber listrik untuk warga. Sekarang saya lagi coba merakit ‘solar cell’ untuk energi alternatif warga di kampung ini,” ujar Nobby saat membuka perbincangan di teras rumah yang menghadap ke Kali Cipinang.

Panel pembangkit listrik tenaga surya bekas didapat Nobby dari tempat pembuangan, kemudian dirakit dan dipasang aki. Sang ayah, Sail Andi Supu, 57, menjadi orang pertama pengguna solar cell di antara 60 rumah tetangganya di Penas Tanggul.

Buah tangan putranya itu mampu menghemat pengeluaran rutin listrik hingga Rp60 ribu per bulan untuk menerangi warung kelontong dan sejumlah perabot elektrik di rumahnya dengan jaminan masa pakai tiga tahun ke depan.

Lahir sebagai anak tunggal dari rahim keluarga berekonomi lemah, Anindya Afifa, Nobby ikut jejak sang ibu berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada 2016.

“Pas saya tes buta warna dan saat medical check up, saya sudah diingatkan tidak akan bisa masuk, kecuali jurusan sosial.Tapi saya sanggup di sini. Setelah berkompromi dengan hasil nilai yang saya dapat, ok saya masuk,” kenang Nobby.

Pada September 2018, Nobby Sail Andi Supu dinyatakan lulus Strata 1 dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang terpaut 0,45 dari capaian nilai sempurna. Tapi peluang kerja menjadi pegawai di Perusahaan Listrik Negara, Kereta Api Indonesia dan perusahaan swasta, seluruhnya kandas ketika seleksi terkait tes buta warna.

 Mungkin benar bila tes itu menjadi teror tersendiri bagi Nobby. Sebab, nasib yang sama kembali dialami pria yang mirip tokoh kartun Nobita itu saat mencoba peruntungan di seleksi calon Pegawai Negeri Sipil formasi 2019.

“Tapi saya ingin buktikan kepada mereka yang menolak saya kerja, bahwa saya bisa. Mungkin perusahaan seperti solar cell atau pemerintah, akan lihat. Oh, saya bisa,” katanya.

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.