Soft Tennis Dicoret dari PON, Kini Fokus ke SEA Games

indopos.co.id – Sejak siang para atlet antre menunggu vaksinasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Usai mengisi administrasi, mereka satu per satu diberikan vaksinasi. Vaksinasi persiapan SEA Games 2019 yang rencananya digelar di Filipina ini diberikan bertahap.

Hari ini vaksinasi diberikan untuk para atlet cabang olahraga (cabor) soft tennis. Dari para atlet soft tennis yang bakal dikirim ke pesta olahraga Asia Tenggara Desember mendatang adalah Voni Darlina.

Perempuan yang genap berusia 24 tahun ini sudah mengikuti pelatihan nasional (Pelatnas) di Kelapa Gading, Jakarta, sejak April lalu. Selain persiapan SEA Games 2019, Pelatnas juga untuk persiapan para atlet menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2020 nanti.

’’Kita berlatih di Pelatnas untuk menghadapi SEA Games 2019 dan PON 2020. Jadi hari ini vaksinasi untuk pelaksanaan SEA Games di Filipina,’’ ungkap Voni Darlina kepada INDOPOS, Senin (11/11).

Pada masa karantina di Pelatnas, para atlet dituntut disiplin tinggi mengikuti pelatihan. Bukan itu saja, para atlet juga dituntut disiplin waktu untuk makan dan beristirahat. Untuk menghasilkan prestasi, para atlet digembleng oleh pelatih andal.

’’Pelatihnya juga pemain di SEA Games cabor soft tennis,’’ ucapnya.

Puteri sulung pasangan Darsono dan Lina ini menuturkan, selain menghadapi SEA Games, dia juga mempersiapkan diri mengikuti Pra-PON. Jadwal untuk berlatih di Pelatnas, menurut Voni, dilakukan setiap hari, kecuali Minggu.

’’Biasanya hari Minggu diberikan kebebasan waktu, misalkan untuk bertemu keluarga atau teman-teman,’’ jelasnya.

Atlet perempuan yang pernah meraih medali emas pada event nasional kejuaraan soft tennis ini mengungkapkan, untuk jadwal berlatih hari Senin hingga Jumat dilakukan pagi dan sore.

Sementara Sabtu hanya pagi. ’’Waktu berlatih pagi biasanya pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB dan waktu berlatih sore pukul 15.00 WIB sampai 18.00 WIB,’’ bebernya.

Perempuan kelahiran Jakarta, 14 Mei 1995, ini mengatakan, selama mengikuti pelatnas dia bersama para atlet lainnya dituntut profesional. Dan itu seimbang dengan tawaran gaji yang setiap bulan diterima. ’’Yang susah itu soal makan dan waktu, kadang kita jenuh kita keluar. Tapi kalau ketahuan bisa diberi sanksi peringatan sampai dipulangkan dari pelatnas,’’ ujarnya.

Perempuan lulusan program S-1 Program Studi (Prodi) olahraga ini kecewa dengan keputusan panitia PON yang mencoret cabor soft tennis pada event nasional tersebut. Padahal fasilitas lapangan soft tennis ada. ’’Kecewa sih, kan tennis dan soft tennis tidak jauh berbeda. Lapangan untuk tenis ada, kenapa cabor soft tennis dicoret dari PON?” ucapnya.

Dia menuturkan, tidak mengetahui alasan panitia mencoret cabor soft tennis dari PON 2020. Padahal, dari Papua ada perwakilan di Pelatnas di cabor soft tennis untuk SEA Games nanti. Kendati telah mengetahui pencoretan cabor soft tenis, tidak menyurutkan performa Voni untuk berlatih.

’’Kan enggak cuma untuk PON, di pelatnas ini juga persiapan untuk menghadapi SEA Games,’’ katanya.

Dia menjelaskan, cabor soft tennis tidak jauh berbeda dengan tenis. Dimainkan dengan cara beregu dan perorangan. Yang membedakan cabor soft tennis dan tenis pada cara menghitung poinnya. Menurut Voni, pada cabor tenis dengan 15:0, 0:30, sementara di soft tennis 1:0, 2:0.

’’Kalau lapangannya sama saja. Soft tennis bisa dimainkan di lapangan tenis,’’ ujarnya.

Perempuan yang mewakili Jawa Timur ini mengatakan, belum mengetahui jadwal untuk bermain ganda atau perorangan pada Pra-PON nanti. Sebab, seperti biasanya, jadwal akan keluar setelah proses input nama. ’’Untuk Jawa Timur di pelatnas ada 2 atlet yang mewakili,’’ katanya.

Voni kini lebih fokus berlatih untuk persiapan menghadapi SEA Games. Apalagi dia mengetahui pada PON mendatang cabor yang membesarkan namanya itu telah dicoret panitia. ’’Ya sekarang fokus buat SEA Games aja,’’ ungkapnya.

Perjalanan Voni masuk pada jajaran atlet nasional cabor soft tennis tidak datang tiba-tiba. Hobi bermain soft tenis Voni bermula dari hobinya bermain tenis. Hobi itu ada sejak berumur 7 tahun. ’’Kan Bapak bekerja di lapangan tenis, sejak kecil saya diajak bapak. Setiap ikut, saya berlatih. Sejak itu saya jadi suka tenis,’’ katanya.

Voni mulai beralih bermain soft tennis belum lama ini. Tepatnya sejak 2017 lalu. Keputusan itu dia ambil karena cabor tenis lebih membutuhkan biaya besar. Sedangkan cabor soft tennis lebih murah. ’’Kalau tenis mau tanding semua biaya kita yang tanggung sendiri, sementara soft tennis ditanggung team work,’’ pungkasnya. (nas)

 


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.