Gambaran Islam di Oman Tertuang dalam Pameran “Toleransi, Pemahaman, Koeksistensi: Pesan Islam Oman”

indopos.co.id – Kementerian Wakaf dan Agama Kesultanan Oman dan Perpustakaan Nasional Indonesia menggelar pameran bertajuk “Toleransi, Pemahaman, Koeksistensi: Pesan Islam Oman”, di Jakarta, Selasa (12/11/2019) siang kemarin. Adapun pameran digelar untuk semakin memperkuat pertukaran budaya yang sudah sangat baik antara dua negara persaudaraan.

Pada kesempatan siang kemarin, pada gelaran pameran “Toleransi, Pemahaman, Koeksistensi: Pesan Islami dari Oman”. Pengurus Message Of Islam dari Oman, Mohammed Al-Mamari, menuturkan, dimana program ini sebelumnya sudah banyak yang berkembang. “Program ini juga dapat menyatukan orang dari seluruh dunia,” ungkap dia di Perpustakaan Nasional Indonesia, di Jakarta Pusat, Selasa (12/11/2019) siang kemarin.

Jadi, katanya, enam bulan terakhir kita buat program yang dibuat Yoriskub kita berkembang dari Atase pendidikan di Jerman berkembang ke UNESCO. Dia tambahkan, dirinya mengucapkan terimakasih atas kerja sama Kesultanan Oman untuk kerja sama mengembangkan program ini. Diwakilkan Departemen Agama menjadi perwakilan di Indonesia. Di mana kedua negara memiliki sejarah pertukaran budaya yang panjang dan kaya antara orang-orang dari latar belakang geografis dan spiritual yang berbeda.

Konstitusi kedua negara menyediakan kebebasan beragama. Toleransi dan koeksistensi damai adalah nilai-nilai yang hadir di seluruh kehidupan sehari-hari di Indonesia dan juga di Kesultanan Oman. Islam di Oman adalah penghubung di antara berbagai denominasi agama di negara itu dan membantu melindungi identitas budaya di masa perubahan besar ini. Pameran ini juga menunjukkan bahwa “kemajuan” tidak selalu berjalan seiring dengan hilangnya identitas budaya.

Maksud dari pameran ini adalah untuk menunjukkan toleransi beragama, keharmonisan, pemahaman antar budaya dan dialog antaragama sambil menggambarkan bagaimana Islam dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat Arab modern di Oman.

Dia melanjutkan, inisiatif ini unik setelah beberapa tahun di bangun. Inisiatif yang dibuat Kedubes Oman dan Indonesia akan mewujudkan perdamaian dan toleransi. Jika melihat keadaan di dunia ini banyak problema yang dihadapi. Terkait problem edukasi, kemiskinan dan ekstrimisme.

“Kita sebagai manusia memiliki nilai luhur yang sudah hilang. Jadi kita harus mengembalikan nilai-nilai tersebut. Jadi selama 10 tahun kerja keras program ini dapat mempersatukan dunia ini,” harapnya seterusnya. Jadi Kesultanan Oman sebagai inisiator selama 10 tahun, dan tahun ini diselenggarakan di Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di Dunia.

“Melalui program ini kita promosikan nilai luhur yang mempersatukan dunia. Sampai sekarang kita sudah menarik negara yang mengajak bergabung pada program kita dan menarik 60 negara lainnya,” tambahnya.

Menurutnya, kerjaan 10 tahun ini adalah proses alamiah dan tujuannya untuk mempersatukan dunia. Sampai kita masuk kedalam nilai luhur di dunia ini. Kami punya strategi kedepan, program ini untuk kemanusian non provit. Kami ingin mengumpulkan semua orang agar berdiri satu tahapan.

“Ini untuk menyatukan semua umat manusia. Perbedaan yang lain suku, agama dan warna tidak masalah. Semuanya sama,” tambah dia. Di mana Indonesia adalah negara yang terbuka bagi negara lain. Dan ini hanya satu titik awal dan kedepan akan ada kerja sama dan membuat pameran lainnya.

Sementara itu, Yang Mulia Sheikh Abdullah Al-Salimi, Menteri Wakafndan Agama yang Kementeriannya bertanggungjawab atas urusan agama semua sekte agama di negara ini memiliki visi yang jelas. “Kami berusaha mempertahankan dialog konstruktif dan tulus dengan para sarjana dan perwakilan dari semua kelompok ini. Tujuan pertukaran adalah untuk merefleksikan dasar pemikiran kita, moralitas yang sama, dan rasa keadilan yang sama. Hanya ketika kita menyadari kesamaan dan ini membentuk dasar dari tindakan kita, sambil menerima perbedaan budaya, kita dan anak-anak kita akan menikmati masa depan yang damai,” terangnya.

Dia tambahkan, terkait pameran, akan ditayangkan film dokumenter pendek “Toleransi Beragama di Oman” oleh pembuat film Jerman pemenang penghargaan Wolfgang Ettlich, yang ditugaskan oleh Kementerian Wakaf dan Urusan Agama guna mendokumentasikan kehidupan beragama di negara tersebut.

Selain itu, juga ada empat ahli kaligrafi di Oman, karya mereka akan disebarkan. Artefak dan karya seni yang menerangi peran Islam dalam masyarakat kontemporer Oman. Kemudian ada empat seniman Nasheed, kasidah, qori untuk mempresentasikan karyanya. Ada juga seniman yang melukis dari tanah. Lokakarya seni kaligrafi dan lokakarya seni serta program untuk anak-anak.

Sebagaimana akan ada kegiatan untuk anak-anak. Pameran akan dibuka mulai 16-18 November 2019. (mdo)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.