Rela Bayar Lebih Mahal Demi Dapatkan Energi Bersih

indopos.co.id – Keinginan masyarakat untuk beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT) sangat besar. Bahkan mereka rela membayar listrik lebih mahal jika bersumber dari energi yang bersih.

Berdasarian hasil survei yang dilakukan Koaksi terhadap 96.651 warganet beberapa waktu lalu mendapatkan data sebanyak 23,8 persen responden memilih matahari sebagai sumber energi terbarukan dan 22,4 persen memilih bioenergi. Survei ini menjangkau pengguna internet di 34 provinsi di Indonesia.

Baca Juga :

Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia Nuly Nazlia mengatakan, banyaknya partisipasi warganet menunjukkan tingkat kepedulian yang cukup tinggi pada isu energi terbarukan. Utamanya dari kalangan milenial yang disurvei.

“Keinginan mereka untuk beralih ke energi terbarukan juga sangat besar. Bahkan 36,5 persen responden rela membayar listrik lebih mahal bila bersumber dari energi yang bersih,” kata Nuly kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Rabu (27/11/2019).

Nuly menilai, milenial tidak hanya akan menjadi konsumen seterusnya. Pada waktunya, mereka berada pada berbagai posisi menentukan seperti pengusaha, pelaku industri bahkan pemangku kebijakan.

Menurutnya, hal ini menadi semakin penting terkait komitmen PLN yang sudah menyatakan mendukung transisi energi lebih besar, dan sejalan dengan komitmen Paris Agreement dalam upaya penurunan emisi.

Secara khusus, Nuly mengajak seluruh pemangku kepentingan di bidang energi untuk berkolaborasi menggapai anak muda yang lebih luas dan bersama-sama terlibat dalam upaya penyadartahuan.

“Suara dari kelompok masyarakat produktif akan mendorong terjadinya perubahan, termasuk yang diharapkan di tingkat pengambil kebijakan untuk memenuhi target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen dari bauran energi nasional pada tahun 2025,” tegasnya.

Demikian juga dengan survei terbaru mengenai rooftop solar yang dilakukan Institute for Essential Services Reform (IESR) di Surabaya tahun ini serta di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) tahun lalu.

“Dari hasil survei IESR terbaru, kami mendapatkan insight bahwa mereka memang mau dan ada keinginan serta menerima penggunaan EBT terutama solar cell. Dan mereka juga menyatakan mau membeli/membayar kalau disediakan,” tutur Koordinator Komunikasi IESR Gandahaskara Saputra.

Tak sekadar berharap kepada pemangku keputusan, kaum milenial yang disurvei Koaksi juga berpendapat bahwa masyarakat umum memiliki peran penting dalam mengembangkan energi terbarukan. Bagi mereka, menggunakan energi fosil lebih lama sama dengan menambah lama pula kerusakan lingkungan ke depannya.

“Kalau dikaitkan secara spesifik, milenial terutama keluarga baru yang mulai punya properti dan kendaraan sendiri, memang mulai mempertimbangkan opsi-opsi baru sumber energi. Seperti rumah yang dipasang rooftop solar, dan kendaraan listrik. Mereka bahkan berpendapat gaya hidup itu cool dan trendy,” ujar Ganda.

Menurut milenial, begitu terungkap dari hasil survei Koaksi, EBT penting diadakan sebagai bentuk menjaga lingkungan karena jenis sumber energi ini ramah lingkungan, bebas polusi dan tidak merusak alam.

Sebanyak 67,6 persen warganet responden Koaksi berada pada rentang usia 17 sampai  30 tahun, dengan 50,6 persen berjenis kelamin laki-laki dan 49,4 persen berjenis kelamin perempuan. Mayoritas responden (61,8 persen) tinggal di kota besar, seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat. (dai)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.