Jelang Angkutan Nataru 2019, Berharap Tiket Pesawat Tidak Mahal Harga Avtur Kembali Disoal

indopos.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan harga avtur di Indonesia dengan harga avtur di negara lain seperti Singapura tidak berbeda jauh atau sekitar 15 sampai 20 persen. Selain itu juga akan ditentukan daerah-daerah yang menjadi tempat dimana harga avtur tidak terlalu tinggi. Hal itu supaya harga tiket pesawat tidak mahal. Apalagi sebentar lagi sudah masuk masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019/2020.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan pada dasarnya Harga Jual Eceran Avtur di Indonesia harus mengacu kepada Ketentuan yang diatas dalam Keputusan Menteri ESDM RI nomor 17K/10/MEM/2019 Tanggal 1 Februari 2019. Yakni tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakat Minyak Umum Jenis Avtur Yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara;

“Badan Usaha apapun tanpa terkecuali BUMN Pertamina pasti menetapkan harga jual avtur mengacu kepada ketentuan yang ditetapkan Pemerintah yaitu KepMen ESDM Nomor 17K Tahun 2019 tersebut,” ujarnya di Jakarta, Rabu (27/11/2019).

Menurut Sofyano, jika Pertamina menetapkan harga jual avtur diatas ketentuan tersebut sudah pasti Pertamina akan mendapat peringatan dari Pemerintah. Oleh karenanya menyatakan bahwa harga jual avtur Pertamina mahal tentunya itu bisa diartikan menyatakan Kepmen ESDM tersebut yang bermasalah;

Lebih lanjut Sofyano mengatakan, komponen pada Harga avtur di negeri ini juga sangat berbeda dengan Singapura. Pada avtur Pertamina ada komponen PPN sebesar 10 persen. “Tidak hanya itu, avtur yang dijual Pertamina masih dibebani PPh dan Iuran BPH Migas,” jelas Sofyano.

Selain itu kata dia, pajak dan pungutan tersebut tidak ada di Singapura. Hal ini lah yang bisa membuat harga BBM apapun jadi lebih mahal.

“Namun demikian kenyataannya dari posting price harga avtur, misalnya pada bulan September 2019 terbukti harga avtur Pertamina tidaklah mahal sebagaimana dipermasalahkan oleh Menteri Perhubungan,” jelas Sofyano.

Menurutnya, bisnis avtur di Indonesia, selama ini dilayani oleh BUMN Pertamina. Karenanya tidak tertutup kemungkinan ada pihak swasta yang mengincar bisnis tersebut. Apalagi ketika soal harga jual dipermasalahkan.

“Hal ini terindikasi dari adanya suara-suara yang mempermasalahkan soal harga avtur Pertamina yang selama ini sudah mengikuti Keputusan Menteri ESDM Nomor 17K Tahun 2019,” ujar Sofyano.

Dia menambahkan, terkait harga avtur untuk Posting Price avtur ataupun untuk jenis BBM umum lainnya seperti solar non subsidi industri marine, sangat biasa pada transaksi yang terjadi masih bisa ada diskon. Dan ini bisa tergantung hasil nego, volume dan cara pembayaran. “Jadi harga transaksi bisa lebih rendah dari harga posting tersebut,” jelas Sofyano.

Namun untuk di Indonesia harga itu kata dia, masih harus ditambah PPn, PPh dan iuran BPH Migas. Sementara di luar negeri tidak ada biaya-biaya tersebut. Jadi pajak dan pungutan itulah yang sesungguhnya bikin harga avtur di negeri ini jadi mahal. Dan ini justru timbul akibat kebijakan pemerintah, bukan semata disebabkan oleh pebisnis avtur itu sendiri.

“Soal harga avtur juga sangat berpengaruh dengan volume pembelian dan lokasi bandara. Sebagai contoh, kata dia, di Singapore penjualan avtur sehari mencapai 14.500 kiloliter dengan lokasi kilang berjarak 10 km yang disalurkan lewat pipa. Sementara di Indonesia, sehari penjualan 15 ribu KL dengan jumlah penyebaran 68 titik penjualan/DPPU yang tersebar di berbagai daerah,” beber Sofyano.

Harus diingat juga kata dia, bahwa penyaluran avtur di daerah-daerah remote dengan volume kecil ini juga membuat biaya penyaluran menjadi mahal. Hal itu tidak terjadi di luar negeri apalagi seperti di Singapura.

“Menteri perhubungan sebaiknya memahami hal hal ini dan tidak terburu terburu bicara akan mencari pemain baru avtur. Yang ini bisa terkesan sebagai mengancam BUMN Pertamina jika tak bisa turunkan harga jual avtur,” jelas Sofyano

Menteri BUMN kata dia harus pula bersikap bijak terhadap hal ini. Sehingga tidak membuat peran BUMN Pertamina menjadi bermasalah.

“Apalagi penyediaan avtur di seluruh wilayah negeri ini sudah lama bisa terwujud karena peran bumn dan selama ini tak ada swasta yang mau melirik bisnis ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait seperti Kementerian BUMN, Pertamina dan Maskapai Penerbangan untuk membahas harga avtur yang dinilai menjadi faktor utama yang mempengaruhi harga tarif tiket pesawat.

Saat Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI, di Senayan Jakarta, Senin lalu (25/11/2019) Budi Karya mengatakan dalam waktu dekat akan mengupayakan untuk memberikan solusi bagi harga tiket pesawat melalui satu harga avtur yang lebih baik.

“Mengingat pada angkutan Natal dan Tahun Baru nanti akan banyak masyarakat yang ingin berpergian dengan pesawat mengunjungi berbagai destinasi. Kami akan rapatkan dengan Kementerian BUMN, Pertamina dan stakeholder terkait untuk membahas soal avtur,” jelas Budi Karya.
Menurutnya industri penerbangan sangat tergantung dengan harga avtur. Komponen biaya avtur disebut mendominasi hingga sekitar 40 persen dari struktur biaya operasional maskapai penerbangan. Dia berharap dengan turunnya harga avtur, selanjutnya dapat dilakukan penyesuaian harga tarif tiket pesawat.

Lebih lanjut Budi Karya menargetkan harga avtur di Indonesia dengan harga avtur di negara lain seperti Singapura tidak berbeda jauh atau sekitar 15 sampai 20 persen. Kemudian, Menhub akan menentukan daerah-daerah yang menjadi tempat dimana harga avtur tidak terlalu tinggi.

“Saat ini katakan di Jakarta harga avturnya beda 25 persen dengan Singapura, nantinya bedanya hanya akan menjadi 15 atau 20 persen. Kemudian kita akan tentukan kira-kira di beberapa titik daerah yang kita tetapkan harga avturnya tidak terlalu tinggi. Daerah tersebut misalnya : Bali, Kupang, Makassar, Jayapura, Palembang yang menjadi sub-hub, sehingga pesawat dapat menggunakan avtur yang ada di titik-titik tersebut,” pungkasnya. (dai)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.