Konsumsi Krimer Akibatkan Gizi Buruk Anak

indopos.co.id – Dampak mengkonsumsi susu kental manis/krimer kental manis (SKM/KMM) lebih dari 1 kali sehari ternyata 14,5 persen anak di Indonesia alami gizi buruk. Fakta itu dikemukakan dalam pembahasan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dengan PP Aisyiyah.

Paparan hasil penelitian di hadapan Kemenkes, KPAI, KPI dan BPOM pada Selasa (16/11/2019) itu menemukan fakta anak-anak dengan gizi buruk dan kaitannya dengan konsumsi susu kental manis.

Baca Juga :

Muslimat NU Sikapi Iklan Susu Kental Manis

Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah Chairunnisa mengatakan, temuan mengejutkan adanya kaitan gizi buruk dan gizi kurang pada usia bayi dan balita yang rutin mengkonsumsi SKM/KKM. “Dari 1835 anak yang terdata disimpulkan 14,5 persen anak disimpulkan mengalami gizi buruk dan 29,1 persen mengalami gizi kurang,” katanya, dalam keterangan pers yang diterima Kamis (28/11/2019).

Karena itu, Chairunnisa berharap, elemen pemerintah yang hadir menjadikan hasil penelitian lapangan yang dilakukan YAICI bersama PP Aisyiyah sebagai bahan kajian kebijakan dalam rangka mengatur produsen SKM yang tidak peduli sekaligus melindungi generasi bangsa.

Tingginya angka balita dengan gizi bermasalah akibat SKM adalah dikarenakan iklan yang tidak informatif dan manipulatif bahwa SKM adalah susu. Padahal SKM adalah pemanis buatan untuk bahan pelengkap jajanan/kue sehingga tidak baik bagi kesehatan bayi, sedangkan susu adalah cairan hewani yang diproduksi oleh mamalia dan mengandung protein. Selain itu, SKM murah dan mudah didapat.

“Positifnya, setelah mendapatkan edukasi, 71 persen orangtua berhenti memberikan SKM pada bayinya,” jelasnya.

Baca Juga :

Sementara itu, Komisioner KPI Pusat Nuning Rodiah menyesalkan tayangan televisi masih menjadi media utama dalam mengakses informasi SKM/KKM. Karena, menurut dia, sangat ironis dalam tayangan iklan televisi benar-benar menyajikan informasi yang benar.

“Nah kalau tidak benar atau ada hal yang ditutupi, bagaimana. Inilah yang menjadi perhatian KPI, bahwa kita harus perkuat dengan literasi kesehatan dan literasi media supaya informasinya berimbang,” jelasnya.

Selama ini yang menjadi rujukan dalam iklan adalah etika pariwara. Tapi di etika pariwara hanya mengatur bahwa iklan SKM harus menyebutkan kandungan-kandungannya.

“Selama ini saya cermati dari tampilan visual iklan SKM di televisi, seringkali tidak menyebutkan seluruh kandungannya secara lengkap. Misalnya kandungannya ada 7 tapi yang ditampilkan hanya 3. Yang positif saja disebutkan, misalnya nutrisinya. Tapi keterangan tentang jumlah gula yang terkandung di dalam SKM justru tidak dijelaskan sama sekali. Seharusnya informasi tersebut disampaikan semuanya, tidak ditutupi. Karena bila tidak, informasinya bisa berpotensi menyesatkan,” tegas Nuning.

Tantangan dalam beriklan disampaikan Nuning justru menjadi PR pada creator iklan. Jika selama ini susu kental manis selalu digambarkan dalam lingkup keluarga, yang pada akhirnya mengakibatkan salah persepsi di masyarakat, maka seharusnya selanjutnya visual iklan susu kental manis ditampilkan dalam nuansa kebersamaan di kafe ataupun tempat-tempat berkumpul kalangan muda. (dny)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.