Tumpang Bawang

Oleh

Dahlan Iskan

 

Aktivis pemuda ini sekarang tanam bawang. Dari rapat ke rapat, ia pindah ke cangkul-menyangkul. Ia bergeser dari kantor pusat di Jakarta ke atas gunung di pedalaman Malang Selatan. Ia aktivis yang akhirnya mampu melihat peluang bisnis. Ia bisa melihat sisi bisnis dari sebuah kebijakan baru pemerintah. Yakni kebijakan bagus peninggalan kabinet Presiden Jokowi periode pertama. Importir bawang harus menanam bawang.

 

Impor bawang kita memang gila dan semakin gila. Kegilaan itu membuat bawang lokal klepek-klepek. Terakhir impor bawang kita mencapai 420.000 ton setahun pada 2018. Padahal kebutuhan bawang nasional kita 450.000 ton. Artinya, impor kita mencapai 90 persen. Tarik-ulur pun tidak habis-habisnya. Utamanya tarik ulur antardua kementerian.

 

Akhirnya muncullah kebijakan baru itu. Impor jalan terus. Tapi importir harus menanam bawang. Setiap impor 60.000  ton harus menanam bawang 150 hektare. Aktivis itu tahu.  Importir tidak bisa mencangkul, apalagi di gunung.  Maka aktivis itu pun bekerja sama dengan importir. Ia yang menyangkul. Importir yang membiayai.

 

Nama aktivis itu Ahmad Labib, 35 tahun. Labib adalah pengurus pusat Pemuda Muhammadiyah. Ia nyaris menjadi Ketua Umum di muktamar yang lalu. Ia kalah suara dari Sunanto, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah sekarang. 

 

Saya bertemu Labib di Denpasar, Bali, Minggu lalu. Hari itu saudagar bisnis Muhammadiyah berkumpul di Bali. Mereka berada di sana untuk membicarakan bagaimana cara memajukan pebisnis dari lingkungan Muhammadiyah.  Saya diundang sebagai salah satu pembicara. “Saya yang jemput ke bandara,” ujar Labib lewat telepon. 

 

Saya senang dijemput semata-mata agar bisa mengobrol dengan pengurus. Saya ingin tahu nanti harus bicara apa supaya sesuai dengan keinginan yang hadir. Baru dari Labib itu saya tahu pelaksanaan kebijakan bawang seperti itu. Ketika diminta naik panggung,  saya tidak mau pidato. “Saya akan presentasi dengan slide tiga dimensi,” kata saya. Maka,  saya panggil Labib ke atas panggung.  Saya ceritakan bahwa tokoh kita itu lagi di persimpangan jalan. Ya, antara jalan aktivis dan jalan bisnis.

 

Itulah persimpangan yang akan bisa membuat Labib sukses atau sebaliknya justru membuatnya terpuruk. Bahkan itu bisa-bisa membuatnya gila. Dunia ‘aktivis politik’ hampir bertolak belakang dengan dunia bisnis. Apakah Labib sanggup bantir setir 180 derajat. Sebab, menjadi aktivis lebih banyak berpikir dan berbicara. Di dunia bisnis hanya bekerja dan bekerja. Salah bicara bisa minta maaf, tapi salah kerja bisa hilang uang.

 

Dunia politik adalah dunia riuh-gemuruh. Dunia bisnis adalah dunia senyap. Berhasil mendapatkan laba pun tidak usah bercerita. Dan banyak lagi yang bertolak belakang lainnya. Tapi ada juga sisi baiknya. Seorang aktivis biasanya militan. Kadang juga kurang tidur. Tinggal bisakah mengalihkan konsentrasinya itu ke dunia bisnis yang juga perlu militansi.

 

Saya punya pengalaman ‘membina’ aktivis untuk masuk ke dunia bisnis. Ia bukan saja aktivis tapi ekstremis. Ia alumnus  teknik elektro UGM. Lulusnya bahkan cumlaude lagi. Ayahnya guru nahwu saya. Sang ayah ketakutan anaknya lulus dan pulang ke rumahnya. Sang ayah bisa ditangkap sebagai ‘sandera’.  Itu zaman Orde Baru.

 

Maka sang ayah mendatangi saya. Ia menyerahkan anaknya itu. Biar jauh dari kampung halaman. “Baik pak. Biarah anak bapak ikut saya. Biar ia mengekstremis mesin,” jawab saya. Kecerdasannya di kampus –dan militansinya– ternyata bisa ia alihkan ke pekerjaan. Ia sukses dalam berkarir. Ia mencapai jabatan puncak sebagai CEO satu grup perusahaan di bawah saya saat itu.

 

Apakah Labib nanti juga sukses? Bahkan bisakah Labib menjadi owner sebuah perusahaan bawang terbesar di Indonesia? Saya minta agar seluruh saudagar Muhammadiyah yang hadir hari itu menjadi saksi. Kita beri waktu Labib lima tahun. Kita monitor Labib. Apakah ia tekun dalam menjalankan bisnisnya atau mudah kembali tergoda oleh gemuruh dunia politik.

 

Gegap gempita politik benar-benar sangat menggiurkan. Di situ banyak provokator, pemandu sorak, dan kompor. Panggung politik penuh tepuk tangan yang menyihir. Di ladang pertanian orang harus penuh keringat dan sepi dari kata-kata pujian.

 

Lahan bawang Labib di Desa Tumpang itu tidak tanggung-tanggung. Luasnya sampai 150 hektare. Kini ia baru berhasil menanam 10 hektare. Ia baru di langkah awal menjadi pengusaha.  Tapi ia sudah mulai melangkah. (*) 

 

 


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.