Bulutangkis Beregu Putra Raih Emas, Ganyang Malaysia di Final

 

indopos.co.id – Indonesia sempat lemas ketika Fajar Alfian/M. Rian Ardianto gagal menaklukkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik Rabu (4/12), banyak yang berpikir final bulu tangkis nomor beregu akan berjalan hingga lima partai. Sebab, prestasi ganda kedua Indonesia, Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso kurang baik. Level lawan mereka pun sedikit lebih tinggi.

Namun, siapa yang menyangka Wahyu/Ade tampil sangat garang. Menghadapi Ong Yew Sin/Teo Ee Yi yang peringkatnya lebih bagus (27 berbanding 19), Wahyu/Ade berani mengambil inisiatif serangan sejak awal. Cegatan-cegatan Ade di depan net sangat mematikan, sementara defense Wahyu sulit ditembus.

Oleh karena itu, mereka tak butuh rubber game untuk mengalahkan Ong/Teo dengan skor 21-15, 21-19, sekaligus mengunci emas nomor beregu. Indonesia menang 3-1, setelah kedua pemain tunggal Indonesia, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting sama-sama menyumbang angka. Itu adalah emas keenam beruntun dari nomor beregu putra. Gelar juara tak pernah lepas sejak SEA Games 2007.

Baca Juga :

Tontowi Ahmad Cinta Indonesia

Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi secara khusus mengapresiasi penampilan Wahyu/Ade. ”Mereka penampilannya memang bagus, dan menurut saya normal,” kata Herry seusai penyerahan medali. ”Kita bisa lihat juga pasangan Malaysia under pressure. Setelah Wahyu/Ade menang game pertama, saya sudah yakin akan menang,” lanjut pria berjuluk Coach Naga Api itu.

Bagi Wahyu/Ade, ini adalah kali pertama mereka ikut SEA Games. Dan karena di semifinal Indonesia menang 3-0, mereka tidak perlu bermain. Jadi, praktis laga di Muntinlupa Sports Complex kemarin adalah pertandingan perdana mereka.  ”Wahyu/Ade memang sedang saya uji coba di pertandingan beregu. Pada kualifikasi Piala Sudirman, mereka bisa buktikan. Jadi di sini saya kasih kesempatan lagi masuk tim,” jelas Herry.

Baca Juga :

Wahyu, 27, dan Ade, 26, sebenarnya sudah berpasangan sejak sekitar 2012. Pada 2013, mereka sudah mulai terjun di level international series dan grand prix. Hasilnya, dua gelar mereka rebut pada tahun itu. Sayang, terpaan cedera dan ganti-ganti pasangan membuat prestasi Wahyu dan Ade mentok.

Dalam dua tahun terakhir, mereka cukup konsisten menjadi ganda keempat di pelatnas. Namun, jaraknya dengan tiga pasangan teratas masih sangat jauh. Mereka langganan tumbang di babak kedua turnamen. Mereka juga jarang menang straight game. Karena itu, kemenangan atas Ong/Teo kemarin cukup mengejutkan. Rekan-rekan setimnya juga malahan terkejut.

Keduanya menjawab datar ketika ditanyakan soal ini. Ade membenarkan bahwa selama ini mereka tak pernah menang mudah. “Persiapan kami lebih banyak soal mental. Kalau urusan teknik mungkin cuma sedikit,” papar Ade.

Sepanjang pertandingan kemarin, mereka mengakui sedikit terbebani. Karena itu, mereka sering berteriak jika berhasil mencetak poin. “Itu cara kami mengatasi pressure. Jadi coba main maksimal. Anggap saja kalau kami menang, Indonesia dapat emas. Kami kalah masih ada partai selanjutnya,” kata Wahyu.

Sebaliknya dengan Wahyu/Ade yang menuai pujian, Herry IP berang dengan penampilan Fajar/Rian. Permainan ganda nomor 5 dunia itu jauh dari harapan. Mereka kalah straight game oleh Chia/Soh 17-21, 13-21. Kebiasaan mereka membuat belasan kesalahan dalam satu game terulang.

“Menurut saya penampilan mereka jelek banget. Saya nggak puas. Ini penampilan terjelek mereka,” omel Herry. ”Saya nggak tahu apakah mereka ada beban, karena harus memberikan kemenangan. Head to head memang kalah. Prediksi saya juga bakal kalah, akan tetapi nggak kayak gini. Saya kecewa lah sebagai pelatih,” tandasnya. (bam)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.