Harga Timah Menjadi Acuan Kuala Lumpur-London

indopos.co.id – PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) memproyeksi tahun depan akan terjadi lonjakan volume transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) 15 persen. Emas dan minyak sawit sebagai komoditas paling banyak ditransaksikan. Nasabah 160 ribu orang akan berebut untuk masuk.

Berdasar data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menunjukkan transaksi BBJ dan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) pada 2016 mencapai 7,01 juta lot. Menanjak 6,40 persen dari tahun sebelumnya. Pada 2018, meroket 25,20 persen menjadi 8,82 juta lot. Adapun, volume transaksi kontrak berjangka pada Januari-Agustus 2019 tercatat 7,04 juta lot.

Baca Juga :

”Tahun ini, merupakan kebangkitan BBJ. Saya prediksi 17 hari sisa perdagangan bisa mencapai target, bahkan bisa naik 17-21 persen sepanjang tahun ini,” tutur Direktur Utama PT BBJ Stephanus Paulus Lumintang, di sela-sela Indonesia Derivative Reach International Market Summit 2019 di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Target tersebut sebut Paulus, seiring sosialisasi dan edukasi pilihan investasi PBK semakin masif. Selain itu, didorong faktor politik Indonesia sudah stabil dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas Amerika Serikat.

Kondisi itu, membuat arus dana asing masuk Indonesia tidak sedikit. Perang dagang AS-Tiongkok juga menjadi faktor membuat harga komoditas menjadi fluktuatif. ”El Nino berkepanjangan juga membuat harga sawit menjadi naik 5-10 persen,” tegasnya.

Tidak hanya Indonesia, potensi PBK sejumlah negara Asia Tenggara terbuka. Apalagi, BBJ terus memperluas kerja sama dengan sejumlah bursa berjangka luar negeri. Harapannya, investor asing akan banyak masuk ke perdagangan berjangka domestik. Kalau akhirnya minat investor asing membuat perdagangan bursa berjangka menjadi ramai, Indonesia semakin cepat mencapai mimpi untuk menjadi acuan harga komoditas dunia.

Sekadar diketahui, Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar dunia untuk beberapa komoditas. Misalnya, kelapa sawit, karet, nikel, dan timah. Dengan begitu, potensi untuk menjadi harga acuan komoditas sangat besar.

”Meski belum menjadi referensi harga dunia, tapi sudah banyak dilirik pelaku usaha asing. Contohnya untuk pasar timah di BBJ, tiap hari jadi cerminan dari London dan Kuala Lumpur. Dalam tempo 5 tahun ke depan, Indonesia bisa jadi referensi harga dunia,” tegas Paulus.

Sementara itu, CEO PT Mentari Mulia Berjangka Ofik Taufiqurohman menambahkan memproyeksi bisa masuk jajaran 10 besar tahun depan. Sebagai strategi, perusahaan akan bersinergi dan melanjutkan edukasi tentang derivatif dan perdagangan berjangka. Misalnya, teken nota kesepahaman antara PT Mentari Mulia Berjangka dengan First Gold sebagai penasihat dan konsultan di perdagangan berjangka. (mdo)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.