Lewat Jalur Ketua OSIS, Rektor IPB Klaim Siapkan Mahasiswanya Jadi Calon Presiden

indopos.co.id – Cepatnya perubahan pada Revolusi Industri 4.0 menjadikan semua pihak harus mampu meraba kebutuhan sumber daya manusia pada masa mendatang. Meskipun banyak pihak mengatakan tidak ada yang bisa diprediksi di masa depan, kecuali perubahan itu sendiri.

Karena itu, hal yang pasti untuk dilakukan adalah menyiapkan manusia yang siap belajar dan akan terus belajar karena perubahan menuntut setiap insan untuk terus belajar sesuatu yang baru akibat perubahan cepat (revolusi) di era digital.

Universitas IPB menyiapkan calon pemimpin, termasuk jabatan presiden pada masa mendatang, dengan mempersiapkan mahasiswanya melalui penerimaan jalur ketua OSIS (organisasi siswa inter study).

Rektor Universtas IPB Prof. Arif Satria mengatakan universitasnya tidak lagi mempersiapkan sarjana tukang. Tapi mempersiapkan calon pemimpin. Arif memaparkan tantangan perguruan tinggi pada masa mendatang di mana berdasarkan data, 69,1 persen milenial ingin menjadi bos.

“Ingin menjadi pemimpin di perusahaan rintisannya atau di bidang yang ditekuninya. Mereka tidak ingin lagi menjadi pekerja untuk perusahaan orang lain,” kata Arif berbicara sebagai keynote speech pada seminar 3th High Level Update dengan tema “HR Leader As A Strategic Business Partner” di Learning Center BPJamsoste, Bogor, Selasa (17/12/2019).

Berdasarkan kondisi demikian, tantangan bagi perguruan tinggi, lanjut Arif, mau tidak mau akan berubah, dan perubahan tersebut adalah suatu keniscayaan. Di samping mempersiapkan calon pemimpin, perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusan yang powerful agile learner (continues learner), yaitu bermental pembelajar karena harus siap beradaptasi.

Dunia saat ini dan masa mendatang penuh dengan ketidakpastian karena itu, kata Arif, lulusan IPB harus siap untuk terus belajar menghadapi perubahan dan tantangan baru. “Penerimaan calon mahasiswa jalur OSIS merupakan terobosan untuk membentuk calon pemimpin yang sudah setengah jadi,” klaimnya.

Ketua OSIS di sekolah menengah atas, nilai dia, biasanya pengurus atau ketua OSIS juga di SMP. “Mereka adalah siswa yang sudah selesai dengan urusan pribadi sehingga mampu mengurus kepentingan orang banyak,” katanya.

Kepemimpinan tidak diajarkan di sekolah formal, kata dia, siswa yang memiliki jiwa kepemimpinan mendapatkannya secara otodidak atau belajar dari pengalaman pribadi atau orang di sekelilingnya.

Ketua OSIS juga dinilai sudah memiliki kemampuan memimpin yang diperlukan untuk pemimpin perusahaan atau organisasi apa pun pada masa mendatang. “Dengan menerima calon mahasiswa mantan ketua OSIS, maka beban membentuk kemampuan soft skill mahasiswa di IPB sudah selesai 50 persen,” klaimnya.

IPB tinggal memoles kemampuan memimpin mantan ketua OSIS itu, kata Arif, selama kuliah di kampus “kota hujan”, Bogor. “Jadi, jangan kaget jika presiden di masa datang alumni IPB,” ujar Arif yang disambut tawa dan tepuk tangan meriah peserta seminar yang sebagian dari kalangan milenial.

IPB sudah memulai penerimaan jalur ketua OSIS sejak 2018, dengan porsi sekitar lima persen dari 4.000 kursi yang disediakan. Pada 2019 meningkat menjadi 7,5 persen dan pada 2020 akan menjadi 10 persen. “Memang dilakukan secara bertahap untuk melihat perkembangannya,” ujar Arif yang juga mantan ketua OSIS ketika SMA.

Hasil sementara, mahasiswa angkatan 2018 memperlihat perkembangan yang baik, karena itu porsinya dinaikkan. Ketika ditanya, apakah akan melihat potensi pemimpin lain pada calon mahasiswa, seperti ketua atau pemimpin di pramuka saat sekolah menengah, dia mengatakan tidak tertutup kemungkinan untuk itu.

Dia juga memaparkan pentingnya kejujuran bagi calon pemimpin. Pemimpin yang jujur akan berintegritas. Orang berintegritas akan dipercaya dan memudahkan dirinya untuk memimpin dan mewujudkan cita-citanya atau cita-cita bangsa.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menjelaskan tentang dukungan pembangunan pertanian Indonesia di mana saat ini sudah memerlukan konsep entrepreneur dan wirausahawan sosial (sosiopreneur).

Menurut Arif, konsep itu perlu kematangan sehingga dapat disinergikan untuk dapat melahirkan inovasi-inovasi. “IPB akan selalu hadir dengan banyak inovasi terbaru untuk mendukung pembangunan pertanian. Dengan entreprenuer maupun sosiopreneur,” ujarnya.

Melalui upaya tersebut, Arif mengungkapkan IPB akan selalu siap berkolaborasi bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dengan berdasarkan kesamaan visi misi. “IPB dan Kementan harus saling sinergi membuat strategi dan sasaran yang jitu, tepat, arah sasaran yang benar, untuk pembangunan pertanian Indonesia,” ucap Arif.

Sebelumnya, Mentan Syahrul Yasin Limpo pernah menyampaikan supaya IPB jadi garda terdepan dalam hal mengawal pembangunan pertanian nasional di masa mendatang.

Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan IPB merupakan perguruan tinggi yang telah teruji kompetensinya serta terpercaya untuk sektor pertanian sebagai basis utama pengetahuannya.

Bahkan, Syahrul Yasin tak sungkan meminta dan mengajak IPB agar mendampinginya menyusun program kerja taktis guna peningkatan ekspor komoditas tiga kali lipat.

Seminar 3th High Level Update dengan tema “HR Leader As A Strategic Business Partner” bertempat di Learning Center BPJamsostek Bogor merupakan rangkaian kegiatan terkait HUT Ke-42 BPJamsostek yang diperingati setiap 5 Desember.

Acara yang ketiga kalinya itu terselenggara atas inisiasi dari Komite Kebijakan Pengelolaan Kinerja Organisasi dan Sumber Daya Manusia (KPKOS) yang merupakan salah satu dari empat Komite Dewan Pengawas BPJAMSOSTEK, bersama dengan Apindo Training Center dan Indonesia Global Compact Network (IGCN).

Seminar serupa sebelumnya telah diselenggarakan pada Oktober dan November silam, namun gelaran kali ini lebih semarak karena diikuti 1.000 peserta yang berasal dari karyawan, pengusaha, akademisi, dan mahasiswa.

Dalam acara tersebut, hadir Menteri Ketenagakerjaan RI yang diwakili Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Barenbang) Kemenaker Tri Retno Isnaningsih, Ketua Dewan Pengawas BPJamsostek Guntur Witjaksono beserta para anggota, Direktur Utama BPJamsostek Agus Susanto, Direktur Umum dan SDM BPJamsostek Naufal Mahfudz, dan Direktur Utama Pusat Studi Apindo Harijanto.

“Melalui kegiatan ini kami ingin membangun sinergi positif dengan peserta BPJamsosek, khususnya para HR (human resources) Manager perusahaan melalui berbagi pengetahuan (sharing knowledge) terkait dengan pengelolaan SDM guna mencapai kinerja yang unggul,” ucap M. Aditya Warman, anggota Dewan Pengawas selaku Ketua Komite KPKOS. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.