Diproyeksikan Rebut Tiket Olimpiade Tokyo 2020, Gregoria dan Fitriani Tetap di Pelatnas Prioritas

indopos.co.id – Para penghuni pelatnas bulutangkis yang prestasinya jalan di tempat kini menanti dengan cemas nasibnya. Ini karena tahun sudah hampir berganti. Dengan demikian, promosi-degradasi (promdeg) pelatnas PBSI Cipayung segera dilaksanakan. Bagi para badminton lovers yang berharap sejumlah nama diganti, harus siap-siap kecewa. Sebab, PBSI bakal mempertahankan pemain yang pada 2019 sudah masuk SK Prioritas, termasuk dua tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani.

Anggota pelatnas prioritas memang sejak awal diproyeksikan untuk merebut tiket ke Olimpiade Tokyo 2020.  Jadi, mereka tidak akan dicoret. ”Tahun depan fokusnya ke sana (Olimpiade, Red),” kata Susy di Jakarta, Rabu (18/12). ”Tapi tahun depan kami berencana membuat pengelompokan atlet berdasarkan prioritas masing-masing selama setahun itu. Mereka dibagi sesuai target,” ucap pebulutangkis yang meraih emas Olimpiade di Barcelona pada 1992.

Keputusan mempertahankan para pemain tunggal putri itu memang terpaksa. Selain Jorji (sapaan Gregoria) dan Fitri, belum ada pemain lain yang masuk peringkat 20 besar dunia. Saat ini, keduanya masih memegang status sebagai pemain terbaik Merah Putih. Meskipun performa mereka masih jauh dari harapan.

Jorji pada awal 2019 berada di jajaran 15 besar dunia. Namun, setelah serangkaian hasil buru, dia terjun bebas ke peringkat 28. Baru dua pekan terakhir naik ke posisi 24. Dari 21 turnamen yang diikutinya tahun ini, capaian terbaik Jorji adalah babak perempat final.

Baca Juga :

Untuk mengalahkan para pemain elite dunia, Jorji belum mampu. Secara teknik memang ada perubahan.  Performanya membaik sejak kehadiran Rionny Mainaky sebagai pelatih kepala tunggal putri. Namun faktanya dia memang belum juara sama sekali. Dalam klasemen race to Olympic 2020, dia ada di posisi 18. Padahal, hanya 16 pemain terbaik yang lolos.

Fitriani, sementara itu, secara kasat mata penampilannya lebih buruk daripada Jorji. Dia memang sempat membuat kejutan dengan menjuarai Thailand Masters pada Januari lalu. Namun, setelah itu  performanya terus menurun. Dia langganan terhenti di babak pertama dan kedua turnamen. Di SEA Games 2019, dia bahkan kalah oleh pemain-pemain yang peringkatnya jauh di bawahnya.

“Memang tunggal putri harus kerja ekstrakeras. Tahun lalu dan tahun ini tunggal putri secara ranking banyak menurun. Ini jadi pekerjaan rumah kami juga,” tutur Susy. ”Tapi bagaimana caranya kami ingin loloskan dulu mereka ke Olimpiade. Lalu untuk perbaikan, mestinya tak cuma ranking tapi juga prestasi,” lanjut Susy.

Ada sisi positif dari terlemparnya Jorji dari jajaran top 15 dunia. Dia tidak wajib lagi mengikuti turnamen-turnamen level tinggi, yakni super 500+. Maka, dia bisa menjelajah turnamen-turnamen level super 100 dan super 300 dengan lebih leluasa. Apalagi, di level super 500+ dia (dan juga Fitri) memang belum bisa bersaing.

“Jadi ikut turnamen sesuai dengan levelnya dulu deh, agar kepercayaan dirinya balik dulu. Kalau sudah sering juara di super 100 atau super 300, setelah itu baru dinaikin lagi ke yang lebih tinggi,” jelas Susy.

Rencananya ada sekitar 20 pemain yang didegradasi dari pelatnas. Namun, jumlah yang akan dimasukkan lebih banyak lagi. Beberapa yang dijamin mengunci spot di Cipayung adalah para juara Kejurnas PBSI yang digeber di Palembang, akhir November lalu. Namun, tentunya mereka berstatus magang. (bam)

 

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.