Kaum Muda Dominasi Aksi Kejahatan di Kota Depok

indopos.co.id – Laporan akhir tahun Polrestro Depok, aksi kejahatan sepanjang 2019 didominasi kawula muda daerah tersebut. Maraknya, aksi kejahatan oleh generasi muda itu, karena maraknya geng kejahatan. Pemicunya, lantaran tak memiliki pekerjaan tetap dan menyukai kongkow.

Meski begitu, kepolisian setempat mengklaim jika kasus kejahatan yang terjadi di Kota Depok menurun dibanding tahun sebelumnya. Kapolrestro Depok AKBP Azis Andriansyah mengatakan peningkatan anak muda terjun ke dunia kejahatan itu terjadi sejak Februari- Desember 2019.

Baca Juga :

Bahkan, ratusan anak muda itu berani bertindak nekat melaukai para korban untuk mencapai keberhasilan aksi kejahatan yang dilakukan. ”Pelaku kejahatan usianya antara 16-25 tahun. Biasanya mereka terlibat aksi pencurian dengan kekerasan (curas), jambret dan begal,” terangnya dalam laporan kriminalitas akhir tahun, di Mapolres Depok, Kamis (26/12).

Dia juga memaparkan, jumlah aksi kejahatan yang dilakukan para anak muda itu terbanyak adalah street crime yang mencapai puluhan kasus. ”Ada puluhan anak muda yang kami tangkap di tahun ini. Beberapa kelompok anak muda pelaku aksi kejahatan ini berhasil kami ungkap. Terakhir ada kelompok geng motor,” katanya juga.

Baca Juga :

Dari hasil penyelidikan Kepolisian, Azis mengaku, para anak muda ini banyak terjun ke dunia kejahatan diawali dari aksi kongkong atau nongkrong tanpa tujuan jelas. Lantaran tak memiliki pekerjaan dan berkumpul tanpa ada tujuan, maka terciptalah bibit kejahatan.

”Para anak muda ini berkeliling naik motor dan kemudian ngumpul di tempat lain. Nah ini yang membuat embrio kejahatan muncul. Dan dari sana mereka membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melakukan aksi kejahatan,” paparnya.

Baca Juga :

Data Polrestro Depok jumlah kasus kejahatan pada 2018 mencapai 577 kasus dengan penyelesaian 468 kasus. Ada pun kasus kejahatan yang menonjol seperti pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian kendaraan bermotor (curanmor), penganiayaan berat. Jumlah kawula muda yang terlibat aksi ini mencapai 98 orang.

Kemudian di 2019 jumlah kasus menurun yakni sebanyak 392 kasus dengan penyelesaian 366 kasus. Jumlah pelaku berusia muda yang terlibat menapai 104 orang. Untuk kasus narkotika pada 2018 jumlah yang ditangani mencapai 445 perkara dengan penyelesaian mencapai 302 kasus, di 2019 kasus narkoba dapat terselesaikan 357 perkara dari sebanyak 342 kasus.

Sedangkan kasus kecelakaan lalulintas pada 2019 meningkat mencapai 414 kasus bila dibandingkan pada 2018 sebanyak 304 kasus. Menurut Azis, tindakan kriminal yang dilakukan kawula muda Kota Depok ini bukan untuk memperkaya diri. Akan tetapi sebagai upaya dari tuntutan para rekan mereka di dalam geng.

”Biasa buat beli miras, atau foya-foya karena tidak punya pekerjaan. Jadi mereka rela menjambret, begal, atau mencuri orang-orang kecil,” ujarnya. Karena persoalan itu, Azis menyatakan, pihaknya akan terus berupaya mengantisipasi aksi kejahatan yang melibatkan anak muda di Kota Depok.

Salah satu upayanya melakukan beragam aktivitas yang melibatkan anak muda seperti olahraga dan kegiatan lain. Kemudian menggandeng berbagai pihak untuk menyediakan lapangan pekerjaan. ”Agar mereka tidak keliaran dan melakukan aksi kejahatan. Ini kan jadi tanggungjawab semua pihak di kota ini. Makanya kami mencoba melalukan beragam upaya preventif agar masalah ini dapat terselesaikan,” imbuhnya.

Sementara itu, RR, 17, salah satu pelaku begal mengungkapkan berani melakukan aksi jambret HP milik seorang driver ojek online lantaran tak memiliki uang untuk biaya kumpul dengan teman tongkrongan. Jadi, kelompoknya pun mencari cara agar mendapatkan uang dengan cepat untuk membeli minuman keras (miras).

Dia mengaku, telah tiga kali melakukan akai kejahatan jalanan tersebut. ”Kalau HP-kan cepat dijual dan uangnya langsung dipergunakan buat traktir kawan-kawan. Ya kadang gantian sama kawan juga, habis saya tidak punya kerjaaan. Awalnya lihat temen dulu bagaimana cara main, kalau sudah tau baru beraksi,” ungkapnya.

Terpisah, Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menuturkan, merebaknya anak muda yang terjun dalam aksi kejahatan di Kota Depok disebabkan gaya hidup mewah, kurangnya perhatian dari keluarga, hingga tidak adanya lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah daerah.

”Akibatnya, mereka malas dan memilih nongkrong. Karena pemahaman mereka minim, jadi mudah terprovokasi untuk melakukan aksi kejahatan. Mungkin karena mereka melihat aksi terlarang ini lebih cepat mendatangkan uang dibanding harus bekerja,” tuturnya.
(cok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.