Waspadai Mafia Migas Bermain di Sektor Hulu

indopos.co.id – Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman meminta pemerintah mewaspadai mafia minyak dan gas (migas) bermain di sektor hulu. Penegasan itu disampaikannya menanggapi dugaan masih adanya mafia migas serta komentar Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

“Emang sekarang gak ada mafianya ? kata Presiden ada,” ujar Yusri, kepada media, Senin (30/12/2019).

Menurutnya, untuk menyelesaikan sengkarut soal energi, kuncinya di hulu yaitu ekplorasi dan produksi migas nasional.

“Kalau produksi minyak nasional tinggi atau sama dengan komsumsi maka tidak ada impor. Kilang dibangun minyak mentah untuk diolah darimana sumbernya. Kalau produksi migas nasional rendah, mau dibangun berapapun kilang ya tetap impor. Emang minyaknya datang dari langit?,” sindir Yusri.

Diapun mempertanyakan siapa ysng kasih masukan keliru kepada Presiden ? Seolah-olah kalau bangun kilang bisa menekan defisit transaksi

“Yang harus diwaspadai jangan sampai ada mafia dihulu yang bermain di SKK Migas dan Direktorat Jenderal Migas,” tegasnya.

Yusri menambahkan, lifting nasional anjlok terus, dan defisit transaksi berjalan akan selalu membebani neraca Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari tahun ke tahun. Karena persoalan utama dan mendasar adalah lemahnya kinerja di sektor hulu.

Dia mencontohkan kasus berlarut larutnya penyelesaian pembangunan FPU HCML (sudah sejak 2016). Sudah tentu HCML juga merasa dirugikan. Karena sudah berinvestasi eksplorasi, dan berhasil menemukan cadangan gas komersial. Namun komersialitasnya tidak bisa segera dilakukan, sementara jangka waktu kontrak PSC akan semakin dekat berakhir, berarti HCML kehilangan kesempatan mendapatkan profit dengan hilangnya waktu komersialitas setidaknya 3 tahun terakhir.

“Hal ini membuat preseden buruk terhadap kondusitivitas investasi hulu migas. Maka tidak heran investasi migas 5 tahun terakhir ini terpuruk, salah satunya adalah karena kasus FPU HCML ini. Belum lagi kegiatan industri di Jawa Timur semakin tidak kompetitif akaibat kesulitan pasokan gas untuk bahan baku dan energi pembangkitnya,” pungkasnya. (dai)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.