Sambut 2020, Ini Peluang dan Tantangan yang Dihadapi Indonesia Menurut LDII 

indopos.co.id – Selama tahun 2019, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) telah mengamati berbagai isu dan peristiwa nasional, internasional dan internasional berdampak lokal, serta juga melakukan beragam upaya dalam kerangka membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Baca Juga :
Ketua DPP LDII, Chriswanto Santoso mengatakan, persoalan penurunan koefisien gini yang perlu dipacu, pengaruh dampak perang dagang terhadap kehidupan ekonomi nasional yang berakumulatif dengan dampak dari perlambatan ekonomi dunia ini dapat dan sudah mulai berimbas pada perekonomian domestik.
Baca Juga :
“Antara lain, sudah lebih dari lima tahun pertumbuhan ekonomi kita stagnan pada kisaran 5 persen saja,” kata Chriswanto kepada wartawan.
Di domestik, lanjutnya, hubungan-hubungan kelembagaan antara fungsi-fungsi otoritas terhadap upaya meningkatkan hubungan harmonis antar komponen bangsa termasuk bagaimana hubungan negara dengan ormas, merupakan sebagian dari dinamika perubahan sosial politik ekonomi yang mendapat pencermatan intensif dari LDII.
“Dalam hal ini LDII berpandangan bahwa  detereminan faktornya adalah perubahan teknologi, utamanya ICT/TIK, energi, pangan, perebutan SDA dan transportasi. Dampak perubahan yang sangat jelas strategis adalah terjadinya era keterbukaan yang secara evolutive akan menuju ekualitas-transparantif dengan konsekuensi terjadinya reduksi pendekatan hirarkhis dalam hubungan-hubungan antar manusia dalam berbagai kegiatannya dan menuju hubungan fungsional,” beber Chriswanto didampingi Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo dan Ketua DPP LDII Iskandar Siregar.
Menurutnya, dalam keadaan seperti itu maka nilai-nilai luhur pembentuk budaya bangsa perlu mendapatkan perhatian dan perawatan yang memadai.
Oleh karena pencermatan tersebut, maka LDII berkesimpulan bahwa persoalan abad XXI harus diselesaikan dengan faktor instrumental yang telah tersedia di abad XXI dengan mengindahkah nilai-nilai luhur budaya bangsa, baik yang bersifat universal (jujur-amanah) maupun yang persifat  khusus seperti toto-kromo, adat istiadat, dan seni budaya.
Hal lain yang kontekstual sifatnya adalah pengamatan Lembaga internasional bahwa di Indonesia sedang terjadi kondisi learning poverty dan krisis kemampuan baca pada sebagaian generasi penerus Indonesia memerlukan penanganan tersendiri.
Untuk menyelesaikan persoalan abad XXI dengan cara abad XXI, maka perlu dimulai dengan membangkitkan kembali nasionalisme yang kompatibel dengan kondisi abad XXI.
Mencermati terjadinya perang dagang, keluarnya Inggris dari Uni Eropa, kemudian beberapa negara besar justra telah meningkatkan anggaran pertahanannya, sementara di sisi lain proses terjadinya migrasi penduduk besar-besaran yang pada tahun 2017 telah mencapai angka hampir 300 juta-an. Peningkatan kerja sama bilateral, pencarian model kerja sama multilateral yang sedang mencari bentuk baru, disamping Lembaga multi lateral yang sudah ada, semakin menjelaskan  perlunya peningkatan identitas nasional.
Memperhatikan keadaan tersebut, kata dia, maka sebagai rasa syukur pada founding father yang dengan luar biasa mencanangkan pernyataan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dalam moralitas seperti itu LDII mendorong perlunya peningkatan kualitas SDM berciri ke-Indonesiaan. Untuk itu bahasa Indonesia memerlukan peningkatan penggunaan, perawatan dan pengembangan oleh seluruh komponen bangsa termasuk pendidikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak dini sampai dewasa. Selanjutnya untuk mengatasi persoalan learning poverty (miskin belajar), maka pendidikan harus diarahkan pada terbangunnya budaya dan semangat belajar seumur hidup.(long life learning). Sebelum bagaimana belajar dan belajar apa, maka seharusnya yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah semangat belajarnya. Kepastian perubahan menuntut penyesuaian, kemampuan penyesuaian menuntut kemampuan mempelajari perubahan dan bagaimana menyesuaikan dengan perubahan, untuk itu perlu dikembangkan metoda agar sejak dini terbangun semangat belajar.
Pada 2020, Indonesia akan memiliki 269,6 juta penduduk dan pada periode emas 2045 diperkirakan mencapai 309 juta jiwa. Saat ini, 68,7 persen jumlah penduduk adalah usia produktif (15-64 tahun). Untuk itu, menyiapkan pendidikan berkualitas merupakan tantangan seluruh komponen bangsa agar terwujud SDM berkualitas sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia abad XXI.
“Dalam bidang pendidikan, LDII telah mencanangkan program tri sukses yakni mewujudkan generasi penerus yang alim fakih (memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat), berakhlakul karimah, dan mandiri di semua pondok pesantren dan lembaga pendidikan LDII.
Dalam aspek energi, LDII mendukung pemerintah untuk mendorong percepatan dalam mewujudkan energi terbarukan. Untuk itu, perlu konsistensi kebijakan dan kejelasan regulasi dalam pengembangan energi terbarukan.
“Kalau bisa, pemerintah memberikan insentif bagi ormas-ormas, selain investor dan pengusaha, yang aktif melakukan pembangunan dan penerapan energi terbarukan. Bisa dengan skema subsidi atau metode lainnya agar dapat mencapai target rencana umum energi nasional.
Beberapa pondok pesantren yang dikelola LDII sudah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya. Ini sebagai bentuk inisiatif untuk mengantisipasi persoalan energi ke depan,” jelasnya.
Dalam aspek pangan, LDII mencatat salah isu yang perlu diselesaikan adalah masalah swasembada pangan. “Harapan ke depan, kita tidak lagi mengimpor bahan pangan dari luar negeri. LDII mengapresiasi pemerintah yang sudah berupaya untuk menegakkan kembali kejayaan pangan Indonesia sebagai peletak awal pertanian modern Indonesia. Sektor pangan ini merupakan sektor strategis yang berpengaruh pada ketahanan negara di masa depan,” pungkasnya. (mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.