BPBD DKI: Antisipasi Banjir Susulan Jakarta

 

indopos.co.id – Banjir yang mengguyur Jabodetabek sejak 31 Desember 2019 sore hingga 1 Januari 2020 pagi membuat sejumlah daerah terendam dan membuat akses jalan terputus. Bahkan, banjir juga menewaskan belasan orang. Hujan diperkirakan masih terus berlangsung dan puncak hujan akan terjadi pada Februari dan Maret. Kita semua harus mengantisipasi banjir susulan.

Baca Juga :

”Untuk antisipasi banjir susulan dan juga karena info akan ada kiriman air dari Bogor, kami terus upayakan evakuasi di titik-titik banjir,’’ kata Kepala BPBD DKI Jakarta Subejo saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Selain itu, kata Subejo, mereka juga mempersiapkan dapur umum, tempat pengungsian, penyediaan kebutuhan dasar, termasuk mempersiapkan dokter, perawat dan obat-obatan.

Baca Juga :

’’Kami juga meningkatkan sistem informasi pada warga yang berpotensi terdampak banjir secepatnya, dengan sistem disaster warning system (DWS) bahkan sejak status siaga III, memberdayakan pengeras suara di lingkungan. Lalu aparat juga terus monitor situasi dan juga mempersiapkan pengungsian serta perahu karet didekatkan untuk keperluan evakuasi,’’ ucapnya.

Untuk mengurangi ketinggian air, terutama di lokasi yang tidak bisa surut dengan sendirinya karena bentuknya cekungan dan tidak ada pompa stasioner, BPBD akan memberdayakan pompa mobile.

Baca Juga :

’’Nanti di daerah yang gak bisa surut dengan sendirinya karena cekungan itu tidak ada pompa stasioner, kami kirim pompa mobile kita sedot,’’ ucapnya.

Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengatakan saat ini Jakarta memiliki sekitar 300 unit pompa mobile yang disebar di lima wilayah kota selain pompa stasioner.

’’Karena di masing-masing wilayah titik-titik genangan yang berbeda-beda,’’ kata Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Juaini Yusuf.

Diketahui, akibat hujan deras sejak 31 Desember 2019 malam hingga 1 Januari 2020 pagi, menyebabkan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Di Jakarta, diperkirakan 19.079 jiwa mengungsi (data pukul 16:00 wib) yang tersebar di lima wilayah kota. Pemprov DKI Jakarta menurunkan 120 ribu petugas untuk menanggulangi banjir tersebut.

Dari data BPBD, pintu air Katulampa berstatus siaga 4 (70 cm/mendung), pintu air Depok berstatus siaga 3 (220 cm/mendung) dan pintu air Manggarai berstatus siaga 2 (895 cm/mendung).

Sementara itu, banjir bandang di kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, menyebabkan 11 orang meninggal. Itulah total korban jiwa yang sampai saat ini terdata pemerintah kabupaten (pemkab) Bogor. Bahkan, sekarang beberapa akses jalan pun terputus akibat tertutup longsoran.

”Saat ini korban ada 11 orang meninggal akibat terbawa arus deras. Sementara beberapa orang yang belum ditemukan, yakni satu orang di jasinga, dan tiga orang di sukajaya,” kata Bupati Bogor, Ade Yasin, kepada Radar Bogor (INDOPOS group), Rabu (1/1) sore.

Ade menambahkan, untuk medannya sangat berat, bahkan wilayah kecamatan Sukajaya terputus akses baik ke pemukiman maupun ke pemerintahan.

”Untuk rinciannya korban meninggal di Jasinga 1, Sukajaya 3, Cibeteng Udik 2, Bojonggede 1, di Desa Sukamulih 2, Harkat Jaya 1 balita,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan, tindakan saat ini pihak pemkab meminta bantuan ke Basarnas meskipun semua pihak masih sibuk menangani Jakarta juga. ”Evakuasi sudah dilakukan sejak pagi, di Jasinga dan korban sementara tinggal di rumah saudara sementara evaluasi yang hilang belum terdeteksi, belum tahu ada di mana di setiap kecamatan sudah ada posko,” tuturnya.

Selain di Jasinga, banjir juga melanda beberapa wilayah di kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

Banjir Bandang

Banjir juga melanda empat kecamatan di Kabupaten Lebak. Banjir terjadi di 12 desa yang berada di bantaran sungai Ciberang. Belasan desa itu berada di kecamatan Cipanas, Lebak Gedong, Sajira, dan Curugbitung. Akibat banjir bandang itu, ribuan warga mengungsi seperti di rumah ibadah, majelis taklim, gedung sekolah, dan perkantoran.

Selain itu, sebanyak 12 jembatan di kabupaten Lebak, putus akibat banjir dan tanah longsor, setelah terjadi luapan air sungai Ciberang, menyusul hujan deras di daerah setempat sepanjang Selasa (31/12) sore hingga Rabu (1/1) siang.

”Akibat jembatan itu terputus dipastikan masyarakat terisolasi dan kesulitan berkoordinasi dengan aparatur desa,” kata Camat Sajira, Rahmat, Rabu (1/1).

Berdasarkan pantauan lapangan, tercatat 12 jembatan semipermanen dan jembatan gantung putus. Yakni, enam jembatan di kecamatan Sajira dan enam jembatan di kecamatan Cipanas. Saat ini, akses masyarakat yang menghubungkan antarkecamatan dan antadesa menjadi terisolasi, tidak bisa dilintasi angkutan roda dua dan empat.

Putusnya jembatan juga akan berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Masyarakat di daerah itu pada umumnya bekerja sebagai petani dengan setiap hari memasarkan hasil bumi ke luar daerah tersebut. ”Kami berharap jembatan itu segera dibangun untuk menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.

Dia menyebut enam jembatan di daerah setempat yang putus, di antaranya jembatan penghubung antarkecamatan sajira, muncang, sobang, dan leuwidamar. Lokasi enam jembatan itu, antara lain di desa Burungmekar, Calungbungur 2 jembatan gantung, Sukajaya, Sukarame, dan Sajira Mekar.

Saat ini, kata dia, masyarakat tidak bisa melintas di daerah tersebut dengan menggunakan kendaraan akibat jembatan putus. ”Semua jembatan yang putus itu akibat terjangan banjir dan longsor,” katanya.

Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir melalui Dansat Brimob Kombes Pol Dedi Suryadi mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan Kapolres Lebak dan warga desa dan anggota Polres setempat terkait penanganan banjir bandang.

Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi penanganan para korban banjir bersama TNI, Basarnas, BPBD, dan pemda setempat. ”Hasil pemantauan, ada dua desa yang terisolasi bencana banjir karena jembatan putus. Dua desa itu adalah Sukajaya dan Sukarame,” kata Dedi Suryadi. (yas/ant)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.