Ibu Harus Paham Gizi untuk Menyehatkan, Bukan Menggemukkan Anak

indopos.co.id – Penanganan gizi buruk menjadi target pemerintah di bidang kesehatan dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Sesuai dengan amanat Presiden Jokowi dalam peringatan hari kesehatan nasional 2019 yang lalu, untuk mencapai target penurunan angka stunting menjadi 19 persen pada 2024, diperlukan fokus perhatian di bidang kesehatan pada ketercukupan gizi dan pencegahan penyakit.
Menyikapi target pemerintah tersebut, dr. Atikah M. Zaki, MARS yang juga Koordinator Bidang Kesehatan PP Aisyiyah dan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana mengatakan persoalan gizi anak erat kaitannya dengan peningkatan pengetahuan ibu.
dr. Atikah M. Zaki, MARS dalam melihat persoalan gizi anak saat ini, menilai, dari dulu, hingga saat ini persoalannya adalah ada faktor ketidaktahuan dari orang tua dalam menyiapkan gizi untuk anak, terutama untuk  balita. Satu tahun pertama usia anak itu penting sekali. Nah, orang tua cenderung terburu-buru. Dari dulu buru-buru. Ingin segera memberi makanan padat untuk anak, ingin anaknya jadi gemuk, bahkan sampai ada yang melupakan ASI. Sehingga ibu-ibu tidak tahu kapan seharusnya boleh memberikan makanan padat atau MPASI untuk anak.
“Ya, seperti itu. Dan juga tentang menu. Dulu, MPASI yang diberikan ibu menunya selalu nasi, hati, bayam – nasi, hati, bayam. Itu itu terus. Sehingga dulu saya, juga dokter-dokter puskesmas yang memberikan penyuluhan selalu membuatkan tabel harian, misalnya senin pakai bayam, selasa pakai wortel dan seterusnya,” ujar dia.
Menurutnya, sekarang, ibu-ibu sudah mulai pintar, sudah tahu bahwa MPASI untuk anak harus variatif. Proteinnya harus dibagi, jangan hanya satu macam, bisa telur, hati, tahu dan tempe yang bagus sekali untuk anak, sehingga anak mengenal berbagai rasa. Jadi memang pengetahuan ibu harus ditingkatkan, ibu harus paham yang terpenting adalah  bagaimana mencukupi gizi anak, bukan menggemukkan anak. Jadi dari dulu memang sudah terbentuk persepsi anak itu harus gemuk, menurutnya.
“Iya. Apalagi dulu kita banyak disesatkan oleh iklan susu. Anak-anak dalam iklan susu digambarkan gemuk dan sehat,  jadi merangsang ibu-ibu  untuk meniru. Seperti yang kemarin ramai adalah susu kental manis.
Susu kental manis sebagian besarnya adalah gula. Tapi anak-anak, bahkan yang baru berusia 1 tahun minumannya sudah ditambah dengan susu kental manis, padahal itu bahaya sekali kaena lebih banyak gula. Jadi dengan pemberian susu kental manis maka si anak dibiasakan mengkonsumsi gula. Memang menyenangkan anaknya jadi gemuk, tapi ini berbahaya. Kita lihat sekarang penderita diabetes itu, tidak hanya orang-orang tua, tapi juga diusia yang lebih muda,” tuturnya. (mdo)

loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.