Pelajar Biang Tawuran di Kota Bogor Kini Bertangan Buntung

indopos.co.id – Lima menit sebelum azan magrib berkumandang, segerombolan pelajar SMK berkumpul di kolong jembatan Tol Cimahpar. Tak lama, mereka melakukan aksi tawuran hingga tiga orang menjadi korban. Satu di antaranya mengalami luka bacok hingga menyebabkan pergelangan tangannya terputus.

Tindakan tidak terpuji itu melibatkan pelajar SMK Karya Nugraha dan SMK Bina Warga. Mereka melakukan tawuran usai jam sekolah di sekitaran PT Ciko, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Selasa (21/1/2020) sekitar pukul 18:30 WIB. Willy Ardian, 18, harus kehilangan pergelangan tangan kanannya usai dibacok senjata tajam (sajam).

Sedangkan Eko Nur Hamzah, 18, luka pada tangan kirinya, dan Muhammad Ridwan Hermawan, 16, luka pada bagian pinggang kanannya. Ketiganya harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit PMI Bogor. Sedangkan Willy Ardian terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta lantaran harus diamputasi.

Menanggapi hal itu, Wakapolsek Bogor Utara AKP Heri Suhartanto membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengaku kasus ini sudah ditangani Satreskrim Polresta Bogor Kota.

Baca Juga :

Pelajar di Kota Bogor Sukacita Penghapusan UN

”Benar. Tapi aksi tawuran itu ditangani polresta. Sejauh ini kita belum tahu pemicu kejadian tawuran ini,” katanya.

Sementara itu, tindak tawuran pelajar yang menyebabkan korban luka menambah rentetan panjang aksi kriminalitas yang dilakukan pelajar asal Bogor. Sebelumnya, tindak tawuran yang menyebabkan korban jiwa terjadi di Karehkel, tak jauh dari Terminal Leuwiliang, Selasa (22/1/2020).

Korban diketahui berinisial RA yang tewas akibat kekurangan darah setelah mendapat beberapa sabetan celurit di tubuhnya, salah satunya di punggung.

Aksi tawuran pelajar yang menyebabkan korban tewas juga terjadi di Jalan Raya Bogor Km 45, Kecamatan Cibinong, Jumat (14/9/2018).

Korban tewas diketahui bernama Yuda, 16. Ia tewas di lokasi kejadian akibat menderita luka bacok celurit di bagian dada kiri dan lehernya. Kemudian di Jalan Raya Cibanteng, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Senin (22/7/2019) sekitar pukul 16:30 WIB. Tawuran itu melibatkan belasan pelajar dari tiga SMK swasta.

Akibatnya, satu pelajar luka parah terkena sabetan di lengan kiri dan kanannya. Korban pun harus dilarikan ke RSUD Leuwiliang untuk mendapatkan perawatan medis.

Di lain hal, korban tawuran pelajar yang kehilangan pergelangan tangannya, Willy Ardian, dikenal sebagai pribadi yang nakal. Korban pernah dikeluarkan dari sekolah lamanya karena kedapatan melakukan tawuran. Hal itu pun dibenarkan Ketua RT 03, Kampung Kebondanas, Kelurahan Cimahpar, Kota Bogor, Deni Kurnia.

”Memang sebelumnya Willy sering tawuran. Makanya dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolahan yang sekarang. Dia (korban, red) masih ada saudara sama saya,” kata Deni.

”Kalau di rumah padahal orangnya pendiam dan sopan, tapi sering ikut-ikutan sama teman sekolahnya,” sambungnya.

Deni pun menyayangkan tindakan yang dilakukan ponakannya itu. Mengingat korban sebentar lagi akan mengikuti ujian sekolah. ”Sangat disayangkan. Sekarang dia kan kelas tiga, mana mau ujian akhir,” ucapnya. “Dia ini sekarang tinggal sama bibinya. Orang tuanya sudah lama bercerai,” tambahnya.

Saat ini, lanjut Deni, korban masih mendapatkan perawatan intensif di RSCM Jakarta. Rencananya, tangan korban akan diamputasi. ”Sudah dari semalam (pas kejadian, red) dibawa ke RSCM. Karena kritis, akhirnya dirujuk dokter ke sana (RSCM, red),” ujarnya.

Berbeda disampaikan orang tua Muhammad Ridwan Hermawan, korban pembacokan dalam aksi tawuran tersebut. Menurut Susanti, anaknya menjadi korban salah sasaran dalam aksi tawuran pelajar tersebut. Sebab saat kejadian berlangsung, anaknya itu baru selesai mengerjakan tugas sekolah di warung internet.

”Kalau kata temannya, anak saya itu terjebak di antara dua kelompok pelajar yang sedang tawuran sambil membawa sajam. Dia ditarik hingga jatuh dan terkena sabetan benda tajam,” katanya. Susanti mengaku setiap hari anaknya selalu pulang tepat waktu. Biasanya setelah pulang dari sekolah, ketika tidak ada tugas sekolah yang harus diselesaikan, dia pun sering membantu ayahnya menjaga parkiran.

”Dia biasanya kalau pulang sekolah langsung pulang. Anaknya baik, suka bantu bapaknya kerja. Karena kemarin dia ngerjain tugas dulu, jadi pulang jelang malam,” ucapnya. Susanti berharap tidak ada lagi kejadian tawuran di Kota Bogor, dan pelakunya segera ditangkap.

”Penginnya ditindak tegas, ditangkap. Karena kadang yang nggak tahu apa-apa malah jadi korban,” tutupnya. (mul/c/rez/run)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.