Umat Panjatkan Doa Perdamaian Lewat Dupa Jelang Imlek, Gubernur Jateng Silaturahmi Warga Tionghoa

indopos.co.id – Warga keturunan Tionghoa berdatangan ke Vihara Dharma Bakti di Petak Sembilan, kawasan Glodok, Jakarta Barat untuk menyalakan hio atau dupa dalam memanjatkan doa perdamaian kepada Yang Maha Kuasa jelang Tahun Baru Imlek 2571.

“Tiga dupa untuk berdoa kepada Tuhan di altar utama, berdoa untuk kedamaian dan kesehatan di tahun yang baru,” kata Chintya, salah satu umat yang datang beribadah ke vihara yang dikenal juga dengan nama Kim Tek Le itu ketika ditemui di sela-sela persembahyangan, Jumat (24/1/2020).

Baca Juga :

Seorang WNA Terjaring Razia SIKM

Chintya tidak sendiri, ratusan orang berdatangan ke klenteng yang berada di Glodok itu sejak siang, dengan pihak klenteng memperkirakan puncak kedatangan umat akan terjadi pada larut malam.

Saat beribadah di altar utama, umat akan membawa tiga batang dupa yang masing-masing melambangkan tuhan, bumi serta leluhur. Selain dupa biasa terdapat pula hio bermotif naga dengan ukuran yang lebih besar dan waktu membakar lebih lama.

Baca Juga :

Fungsi dan makna dari hio itu hampir sama dengan yang biasa hanya ukurannya yang lebih besar sekitar 1 meter dengan harga sekitar Rp55 ribu per batang, menurut pengurus vihara.

Hio bergambar naga itu menjadi pilihan Rudi, salah satu umat yang datang untuk berdoa di Dharma Bakti. Dia berdoa untuk kesejahteraan dan kesehatan keluarganya di tahun yang baru. “Tidak ada sakit, sejahtera, intinya itu saja. Pakai hio itu terkabulnya lebih panjang. Tapi sebenarnya sama saja dengan hio biasa, tapi kalau kita ada lebih kenapa tidak?” katanya.

Baca Juga :

Selain dupa, beberapa orang juga tampak membawa bunga sedap malam dan mawar, kebanyakan untuk Dewi Kwam In yang merupakan “tuan rumah” dari Vihara Dharma Bakti, yang salah satu ruang ibadahnya pernah terbakar pada 2015.

Menjelang perayaan tahun baru Imlek 2571, Vihara Dharma Ramsi yang berada di Cibadak, Kota Bandung akan menyalakan ratusan lilin besar.

Relawan Vihara Dharma Ramsi, Asikin (70) mengatakan pihak pengelola vihara akan menyalakan ratusan lilin tersebut pada jam 12.00 WIB malam seiring pergantian tahun memasuki tahun yang baru. “Lilinnya nanti jam 12 malam dinyalakan hingga besok malamnya lagi. Jadi vihara ini tidak ditutup, perayaannya jalan terus,” kata Asikin.

Selain itu pihaknya juga telah melakukan persiapan mulai dari pembersihan altar, pembersihan vihara dan pemandian kimsin. Selain itu pihaknya juga sudah mempersiapkan barongsai untuk menghibur masyarakat. “Jam 7 malam barongsai sudah siap menghibur masyarakat, nanti kalau ada pejabat dan polisi kita siap menyambut,” katanya.

Sementara itu menurut dia perayaan Imlek dengan menyalakan lilin bisa dinikmati oleh masyarakat lintas agama. Menurut dia pihak vihara tidak membatasi siapapun yang ingin berkunjung. “Ada yang dari luar kota ya ke sini berkunjung. Kita terbuka, tidak ada membatasi. Siapa saja boleh ke sini,” kata Asikin.

Pihaknya juga telah mengantisipasi terjadinya kebakaran akibat lilin yang dinyalakan dengan kordinasi bersama pihak pemadam kebakaran. Hal tersebut, kata dia, dilakukan demi mengantisipasi kebakaran yang terjadi seperti di Vihara Samudra Bhakti pada tahun 2019 lalu.

“Kalau di sini udah disiapkan semua, yang penting kewaspadaan untuk menjaga lilin, jangan ada yang kesenggol. Jadi kemarin itu (kebakaran) semua lilinnya jatuh langsung terbakar,” katanya.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersilaturahmi dengan komunitas Tionghoa di Kota Semarang menjelang Tahun Baru Imlek 2571, Jumat (24/1/2020). Ganjar tiba di gedung Rasa Dharma untuk menghadiri undangan jamuan makan dari Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma atau Boen Hian Tong di Jalan Gang Pinggir Kota Semarang, usai melaksanakan ibadah shalat Jumat di Masjid An Nur Diponegoro yang menjadi satu-satunya masjid di kawasan Pecinan.

Saat berada di lokasi, Ganjar langsung diajak Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopi Semawis) Haryanto Halim untuk menengok altar, sinchi, prasasti doa untuk mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan berbagai hidangan yang tersedia di depan altar.

Berbagai olahan daging ayam jadi menu utama, selain tumpeng nasi kuning dan kudapan khas Tionghoa yang menjadi hidangan pelengkap. Hidangan utama berupa olahan daging ayam tersebut bukan karena kehadiran Gubernur Ganjar.

Meski sebagai kelompok sosial yang berbasis di Pecinan, ada tiga muslimah yang menjadi bagian dari kepengurusan kelompok yang telah berdiri sejak 1876 itu. “Sajian daging babi kita ganti dengan daging kambing. Ini penghormatan kami kepada Gus Dur, satu-satunya Muslim yang berada di altar ini,” kata Haryanto Halim.

Setelah keliling dan berfoto di dalam gedung Rasa Dharma tersebut, Ganjar lantas dipersilakan santap siang. Ketika hendak berpamitan, beberapa ibu-ibu memanggil sehingga menghentikan langkah gubernur berambut putih itu untuk memberi Tenong, bingkisan berisi makanan.

Ibu-ibu itu kemudian menjelaskan masing-masing dari kudapan dalam Tenong itu memiliki makna sendiri-sendiri. “Di dalam ini semuanya bermakna, jajanan manis biar hidupnya manis, kue lapis biar rezekinya berlapis, kue keranjang biar rezekinya masuk ke keranjang,” kata ibu-ibu pengurus Rasa Dharma itu.

Mendengar hal itu, Ganjar mengucapkan terima kasih dan berkata “Yang jelas ini membikin kenyang”. Menurut Ganjar, inilah cara yang sebenarnya bertoleransi, ternyata bukan hanya Jawa atau Islam, komunitas Tionghoa juga ada kenduri dan pulang membawa berkat. “Proses akulturasi dengan budaya bisa dilakukan oleh agama manapun sebagai bibit-bibit toleransi,” ujarnya. (ant)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.