Empat Menteri di Kelas Ekonomi

Oleh Ariyanto, Pemred INDOPOS-indopos.co.id

Sore itu. Sabtu. Pada 8 Februari 2020. Pukul 15.15 Waktu Indonesia Tengah (Wita). Sejumlah penumpang di kelas bisnis Garuda GA 537 penerbangan Banjarmasin–Soekarno-Hatta Jakarta tiba-tiba kikuk. Merasa tidak enak. Ini setelah tahu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya M.Sc duduk di kelas ekonomi. Tepatnya di kursi nomor 21. Sebagian penumpang beranjak dari tempat duduk. Ada yang mohon izin kepada Menteri Siti karena dirinya duduk di kelas bisnis. Namun, ada pula yang menawarkan tukar tempat duduk.

Baca Juga :

Koperasi Anak-anak Dayak untuk Ekonomi Lokal

’’Bu Menteri. Silakan pindah ke tempat duduk saya saja,’’ seorang penumpang menawarkan kepada sang Menteri sembari beranjak dari tempat duduknya.

’’Terima kasih. Tidak apa-apa. Di sini aja,’’ Menteri Siti menolak halus sembari tersenyum.
’’Saya tidak enak sama Bu Menteri. Ibu di sini saja,’’ penumpang itu kembali menawarkan tempat duduknya sembari membungkukkan badan dan mengarahkan jari telunjuknya ke posisi kursi yang ditempatinya.

Baca Juga :

Tiga dari Sumsel Menguak COP

Lagi-lagi tawaran itu ditolak halus Menteri Siti.
’’Terima kasih. Tidak apa-apa. Feel free (merasa bebas) aja,’’ Menteri Siti tersenyum sembari menempati kursinya yang berada tepat di belakang kursi bisnis.

Mendengar jawaban bulat seperti itu. Si penumpang menyerah. Lalu kembali ke tempat duduknya.

Baca Juga :

Mengabadikan Bunga Keabadian

Ternyata. Di kelas ekonomi Menteri Siti tidak sendiri. Tak lama berselang datang Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dr. Muhammad Basuki Hadimuljono. Lagi-lagi duduk di kelas ekonomi. Duduk tanpa didampingi ajudan. Ini aneh. Orang nomor satu di kementerian paling tajir dalam anggaran infrastruktur duduk di kursi nomor 27.
Tidak hanya itu. Ada pula Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto SpRd (K). Dia datang tak lama setelah Menteri Basuki. Posisi duduknya agak di belakang di kelas ekonomi. Tak lama berselang disusul Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate, S.E.

Hari itu benar-benar pemandangan tak biasa. Bisa satu flight bersama empat Menteri Kabinet Indonesia Maju. Yang bertebaran di kelas ekonomi. Bukan di kelas bisnis ala pejabat negara.

Sebagian penumpang di kelas ekonomi merasa terharu dan bangga. Salah satunya Hendra J Kede. Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI.

’’Bangganya saya dengan peristiwa ini. Dua menteri adalah mantan birokrat (Bu Siti Nurbaya dan Pak Basuki) yang berkarier dari staf di PNS, 1 Menteri adalah mantan Perwira Tinggi bintang 3 TNI AD (Bapak Terawan), 1 Menteri adalah politisi, Sekjen parpol besar, Partai NasDem (Bapak Jhonny G Plate),’’ tulis Hendra di akun media sosial Facebooknya.
Hendra menuliskan bahwa keempat Menteri yang duduk di kelas ekonomi tersebut, kementeriannya masuk klaster infomatif, yakni klaster tertinggi hasil monev keterbukaan informasi 2019 yang diselenggarakan Komisi Informasi Pusat. Penghargaannya diserahkan Wapres KH Ma’ruf Amin.

’’Nampaknya ke depan kelas ekonomi sebangun dengan kelas informatif…?’’ tulis Hendra menutup postingannya.

Keempat menteri Jokowi yang duduk di kelas ekonomi itu memang dikenal merakyat. Mereka tidak segan-segan blusukan ke pelosok-pelosok daerah dan rimba. Terjun langsung ke lapangan. Menteri Siti misalnya. Pernah suatu ketika dari pagi hingga siang berbincang dengan warga di Boyolali, Jawa Tengah. Bak seseorang yang membuka jasa konseling, mantan Sekjen Depdagri dan DPD RI ini melayani ’’keluhan’’ warga. Satu per satu. Mendengarkan curhatan rakyatnya. Apa yang bisa diselesaikan di situ akan segera diselesaikan. Tapi jika belum bisa, akan jadi catatan serius. Khawatir kolaps, ajudan, protokoler, hingga staf khusus menteri sampai ’’mengingatkan’’ sang Menteri.

’’Beliau sudah diingatkan. Dari ajudan hingga protokoler agar beristirahat. Namun Bu Menteri ini tetap saja ingin melayani warga. Kayak asyik gitu. Belum pernah saya nemui Menteri sampai segitunya,’’ ujar Staf Khusus Menteri Bidang Planologi Yuyu Rahayu yang sudah mengalami gonta-ganti Menteri Kehutanan.

Kehadiran menteri atau pejabat di kelas ekonomi menjadi simbol kedekatan menteri dengan rakyat. Tidak berjarak. Intim. Menyatu. Menteri memang harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya hadir melalui kebijakan-kebijakan pro rakyat. Tapi juga hadir secara fisik. Melihat kondisi riil di masyarakat. Menampung aspirasi masyarakat. Menjawab persoalan masyarakat. Masyarakat juga akan senang bisa bersalaman dengan menterinya atau sekadar selfie. (*)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.