Kurangi Bau Sampah, Pemkot Depok Sediakan Buffer Zone 7,9 Hektar

indopos.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok berencana membangun buffer zone atau kawasan penyangga di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung. Hal ini dilakukan untuk untuk memelihara keseimbangan ekologi dari bau sampah yang menggunung di lokasi tersebut.

Bahkan, di tempat itu akan dijadikan sebagai hutan kota dan sarana olahraga bagi masyarakat.

Baca Juga :

Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad mengatakan, jika pihaknya telah melakukan pembebasan lahan untuk membuat buffer zone tersebut.

Adapun luas lahan yang dijadikan sebagai kawasan penyanggah ini mencapai 7,9 hektar. Lokasi pembangunan hutan kota ini berada di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan.

Baca Juga :

“Untuk pengadaan tanah sudah selesai di akhir 2019. Nah sekarang kami ingin melihat posisi dan garis kontur lahan. Ini sebagai bahan kajian terkait perencanaan untuk membangunnya sebagai kawasan hijau yang dapat mengurangi bau sampah dari TPA Cipayung,” katanya saat dijumpai di Balaikota Depok, Kamis (13/2/2020).

Dijelaskan Idris, pengadaan lahan buffer zone itu bukanlah sebagai tempat perluasan lahan TPA Cipayung untuk dapat menampung sampah. Akan tetapi, lahan tersebut diperuntukan sebagai kawasan pencegah bau sampah dari TPA. Mengingat, pembangunan TPAT Nambo di Kabupaten Bogor belum rampung.

“Usulan kami ke Pemprov Jabar lokasi inibakan dijadikan hutan kota, jadi bukan untuk pembuangan sampah. Nanti sampah dari Depok akan dibuang ke Nambo yang ada Gunung Leutik Kabupaten Bogor,” paparnya.

Tak sampai disana, lanjut Idris, selain sebagai hutan kota, lahan buffer zone akan dijadikan sebagai tempat berolahraga dan tempat rekreasi. Mereka akan membuat jogging track dan taman bunga serta tumbuhan besar sebagai ruang terbuka tijau (RTH).

“Buffer zone ini akan menjadi filterisasi bau sampah di dalam TPA. Masyarakat dapat menggunakannya dengan aman. Nanti fasilitas yang dibutuhkan akan kami sediakan. Ini juga bisa jadi wisata edukasi bagi warga untuk mengenal beragam jenis tumbuhan,” ucapnya.

Menurutnya, dibebaskannya lahan untuk buffer zone itu karena bau sampah dari TPA Cipayung telah banyak dikeluhkan warga di tiga kecamatan. Apalagi kapasitas TPA tersebut telah overlod dan tak dapat lagi menampung sampah.

“Ya karena sampahnya sudah menggunung, baunya pun sampai ke wilayah lain. Kami ingin menjaga kesehatan masyarakat dari bau sampah ini. Proses fotosintesa dari tumbuhan dilokasi ini bisa menjadi oksigen yanh bersih dan dapat dihirup,” ujar Idris.

Sementara itu, Pengamat Lingkungan Hidup Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono menuturkan, usaha Pemkot Depok menyediakan lahan untuk buffer zone dinilai benar. Karena saat ini kebutuhan lahan untuk hutan kota sangat diperlukan. Mengingat, padatnya jumlah penduduk dan kendaraan menciptakan polusi udaha yang sangat besar.

“Memang untuk Kabupaten/Kota harus ada hutan kota. Inikan RTH yang diperlukan sebagai tempat serapan air dan juga mengurangi hasil pembakaran emisi kendaraan. Usaha Pemkot sangat apik, karena hutan kotanya cukup luas,” tuturnya.

Ditambahkan Tarsoen, untuk jenis tanaman yang akan ditempatkan di lahan buffer zone Pemkot Depok harus melakukan pemilihan yang tepat. Yakni tumbuhan keras yang dapat mengurangi polusi udara dari bau sampah. Sebab jika salah memilih tanaman bagi hutan kota maka usahan untuk mengurangi bau sampah itu akan gagal.(cok)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.