Alexa Metrics

Erick Thohir Singgung Telkom dan Telkomsel Soal Pendapatan, Ini Kata Pengamat

Erick Thohir Singgung Telkom dan Telkomsel Soal Pendapatan, Ini Kata Pengamat telkom

indopos.co.id – Manajemen Telkom sangat jeli ketika membuat Telkomsel. Terbukti anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu saat ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Keputusan itu tergolong langka buat perusahaan di Indonesia. Sebab biasanya perusahaan membentuk anak usaha untuk memisahkan lini bisnis yang memang sudah maju. Ada lagi yang parah, sengaja membuat anak perusahaan atau perusahaan cangkang untuk menghindari pajak.

Nah, prestasi Telkom yang ciamik itu saat ini mendapat tantangan untuk terus maju. Namun ada juga yang membuat kaget. Misalnya pernyataan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir terkait wacana pembubaran BUMN tersebut.

Terlepas dari wacana itu, INDOPOS menanyakan Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Kepala Lembaga Manajemen FEB UI, Toto Pranoto terkait besarnya pendapatan yang disumbangkan Telkomsel. Serta benarkah anggapan bahwa bisnis Telkom itu kuno atau ketinggalan zaman.

“Ya kecenderungan di seluruh dunia , operator fixed line seperti Telkom , Telsra (australia) , NTT (Japan) memang mengalami masa sunset . Perubahan gaya hidup masyarakat telah mengubah pola konsumsi telco ke bisnis selular (internet , data, aplikasi dan sebagainya). Dan tidak mengandalkan lagi model lama/konvensional seperti fixed line , SMS dan seterusnya. Disisi lain Telkom juga terbebani dengan kewajiban capex untuk pembangunan infrastruktur jaringan yang sangat mahal. Jadi perlu inovasi baru untuk business model Telkom ke depan,” jelasnya, Selasa (3/3/2020).

Lebih lanjut Toto mengatakan, kinerja Telkom Group tentu tidak bisa hanya bahas kinerja Telkom saja. Tetapi konsolidasi dengan seluruh anak perusahaannya.

“Memang kontribusi Telkomsel paling besar (70 persen) karena bisnis masa depan Telkom adanya di seluler. Juga kontribusi anak usaha lain seperti Sigma Telkom, Tellin dan sebagainya,” beber Toto.

Lebih lanjut dia mengatakan, masalah Telkom adalah bagaimana bisa mengoptimalkan anak-anak usaha yang ada. Misalnya Telkomsel . Seberapa jauh pershaan ini bisa bersaing dengan global players di bisnis OTT atau over the top (google, facebook dan sebagainya). Bagaimanapun bisnis OTT atau penjualan aplikasi, harus menumpang pada jaringan infra telco ysng dimiliki PT Telkom.

“Jadi kalau Telkomsel atau anak usaha lain tidak bisa membuat produk/services yang bisa bersaing dengan raksasa OTT maka nilai/value PT Telkom sebagai induk tidak optimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Telkom Arif Wibowo,
saat dihubungi dan dikirimi pesan elektronik, Senin (2/3/2020), masih belum memberikan tanggapan terkait pernyataan Menteri BUMN. Demikian pula halnya dengan Pujo.

Sebelumnya Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk Ririek Adriansyah menanggapi pernyataan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir terkait wacana pembubaran BUMN tersebut, dengan menyebut bahwa Erick mengharapkan Telkom cepat bertransformasi.

“Beliau ingin Telkom bertransformasi ke depan. Kita sudah punya rencana itu, tapi beliau ingin lebih cepat lagi,” kata Ririek saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (19/2/2020) malam.

Pernyataan tersebut disampaikan Ririek saat menjawab pertanyaan beberapa anggota Komisi VI terkait pernyataan Erick Thohir tersebut.

Ririek menambahkan, Telkom juga berkomitmen untuk melalukan transformasi bisnis sekaligus berinovasi untuk mengembangkan bisnis di Indonesia.

Adapun Erick menegaskan sindiran yang dilontarkannya bukan bermaksud mendiskreditkan Telkom. Namun supaya perusahaan BUMN tersebut bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. (dai/ant)



Apa Pendapatmu?