Gandeng Sumsel dan Sanggau, UT Sasar Pendidikan di Wilayah Pinggiran

indopos.co.id – Pendidikan tinggi masih sulit diakses masyarakat di wilayah pinggiran. Selain mutu pendidikan, masalah jaringan internet menjadi kendala di sana. Bupati Sanggau Paolus Hadi menyebutkan, 25 persen wilayah di Sanggau belum terkoneksi internet. Sementara, tidak sedikit calon mahasiswa gagal bersaing pada tahap pendaftaran di pendidikan tinggi konvensional (tata muka).
“Di Sanggau jumlah sarjana tidak lebih dari 3 persen atau kurang lebih 12 ribu saja. Daerah terkoneksi internet ada 15 kecamatan dengan 755 desa,” ujar Paolus Hadi saat melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Universitas Terbuka (UT) di Tangerang Selatan, Kamis (5/3/2020).
Ia berharap kerja sama bersama UT bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat. Apalagi UT menawarkan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ).
Sementara itu Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru dalam sambutannya mengatakan, pihaknya akan mengoptimalkan internet desa. Program ini untuk mendukung program peningkatan SDM melalui pendidikan jarak jauh. Pada 2019 lalu, menurutnya bantuan sudah disalurkan ke 170 desa.
“Kerja sama dengan UT kami berharap bisa meningkatkan pendidikan di Sumsel. Apalagi program kami sinergi dengan peningkatan internet desa,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UT Ojat Darojat menuturkan, sejak didirikan tahun 1984, UT telah berubah dari perguruan tinggi tradisional ke perguruan tinggi modern. Banyak dukungan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
“Ini mendukung pemerataan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Karena pendidikan tatap muka tidak mungkin tampung lulusan SMA,” ujar Ojat Darojat.
Dengan PJJ yang ditawarkan UT, menurutnya mahasiswa tidak keluar ongkos. UT bisa berkontribusi membangun kualitas SDM dari pinggiran. “Dengan program ini UT terus berkontribusi pada peningkatan kualitas SDM, khususnya masyarakat di wilayah 3T,” bebernya.
Ia menyebutkan, program PKK berhasil menjaring mahasiswa dari lulusan SMA atau fresh graduate. Dahulu, UT lebih banyak menjaring mahasiswa dari kalangan pekerja atau guru. Data 2019 jumlah mahasiswa baru yang diterima 90 ribu, dari jumlah tersebut 75 persennya dari lulusan SMA.
“Ada pergeseran di pasar. Dulu kami banyak menjaring para guru atau pekerja, tapi sekarang paling banyak lulusan SMA,” katanya.
(mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.