Inovasi Denny JA Memfilmkan Puisi Kritik Sosial

indopos.co.id – Cara baru kritik sosial untuk era digital saat ini adalah dengan memfilmkan puisi kritik, dan disebar di media sosial. Demikian argumen Denny JA ketika dirinya melaunching inovasi terbarunya memfilmkan puisi kritik sosial yang berjudul ‘Kutunggu di Setiap Kamisan’. Kisah cinta yang terselip di aksi 400 kamis seberang istana.
Denny mengangkat demo kamisan di seberang istana yang sudah berlangsung 10 tahun lebih. Setiap hari Kamis, mereka berkumpul dengan payung hitam mencari keluarga yang hilang.
Baca Juga :
“Diduga keluarga yang hilang itu karena kasus politik. Lama dan bertahannya aksi demo setiap Kamis itu fenomenal,” terang Denny.
Menunggu orang tercinta yang hilang, suami atau anak atau anggota keluarga sungguh menyentuh. Dengan dipilihnya lokasi di seberang Istana dengan payung hitam itu juga strategis, sambung Denny, itu sebabnya Denny ingin ikut mengeskpresikan aksi Kamisan itu.
Awalnya, di tahun 2015 Denny membuat puisi esai yang panjang soal aksi itu. Ini puisi yang dipenuhi catatan kaki soal data aksi dan setting politiknya.
Namun, lanjut Denny, dia membaca hasil riset Survei of Public Participation in the Arts, tahun 2015, untuk populasi Amerika Serikat. Kesimpulannya, puisi semakin jarang dibaca. Dalam dunia seni, puisi dan opera dua hal yang paling kurang diminati. Sebaliknya, film menjadi ekspresi seni yang paling populer.
Sejak lama, sambung Denny, dia berniat memfilmkan, memvisualkan aneka puisi esainya. Bersama Hanung Bramantyo di tahun 2014, Denny memfilmkan lima puisi esainya menjadi lima film kritik sosial tema diskriminasi.
Kini di tahun 2020, Denny menggabungkan artis, aktor dan animasi untuk filmnya yang keenam, demo kamisan. Film ini memang kisah cinta. Namun dalam kisah cinta itu, tergambar pula aneka kisah politik yang menghilang paksakan warga negara. Tak hanya di tahun 1998, kisah orang hilang sudah terjadi jauh ke belakang sejak tahun 1965.
Denny kini juga tengah mempersiapkan 34 skenario film yang semuanya berdasarkan puisi esai. Sebanyak 34 puisi esai yang akan difilmkan itu menggambarkan kearifan lokal 34 Provinsi Indonesia.
Puisi esai, sambung Denny kembali, memang paling mudah difilmkan ketimbang puisi lain. Itu karena puisi esai itu punya plot, panjang dan berbabak. Apalagi, puisi esai ada catatan kaki yang memudahkan penulis skenario mengeksplor sumber kisah.
“Film berdasarkan puisi esai, dengan tema kritik sosial, akan menjadi karakter film saya di kemudian hari,” tutup Denny. (mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.