Corona, Sekolah Libur, Tapi…

Kemendikbud Keluarkan Protokol

indopos.co.id – Sejumlah negara sudah mengambil kebijakan meliburkan sekolah dan perguruan tinggi atau menghentikan sementara proses belajar-mengajar untuk mengantisipasi penyebaran Virus Corona atau Covid-19. Negara-negara tersebut di antaranya Hong Kong, Iran, Jepang, Korea Selatan, Italia, Uni Emirat Arab, dan sebagainya. Bagaimana dengan Pemerintah Indonesia?

Untuk saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga sudah mengeluarkan kebijakan khusus tentang libur akibat wabah Virus Corona. Tapi kebijakan itu berlaku hanya bagi siswa atau peserta didik, guru atau pengajar, serta karyawan lembaga kependidikan yang baru pulang dari negara episentrum Virus Corona. Mereka dapat libur selama 14 hari. Jadi kebijakan khusus itu tidak berlaku bagi seluruh peserta didik, pengajar, dan karyawan lembaga pendidikan, meski Virus Corona atau Covid-19 sudah masuk ke Tanah Air.

Baca Juga :

Plt Kepala Biro Kerja sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ade Erlangga mengatakan, libur diberikan sesuai masa inkubasi Virus Corona. “Libur hanya kami berikan kepada siswa, pengajar, dan karyawan lembaga kependidikan yang melakukan perjalanan ke negara yang teridentifikasi suspect Virus Corona,” jelasnya di Jakarta, Senin (9/3/2020).

Ade menegaskan, libur diberikan untuk menghambat persebaran Virus Corona. Tindakan ini sudah sesuai dengan protokol yang disiapkan pemerintah. “Peserta didik dan lingkungan sekolah harus mematuhi protokol ini,” tandasnya.

Baca Juga :

Berikut Lima Terobosan Seleksi Guru PPPK

Ade menjelaskan, hak libur selama dua pekan diberikan setelah mendapatkan persetujuan dari sekolah. Selain itu peserta didik atau guru yang bersangkutan menunjukkan gejala klinis mengarah pada infeksi Virus Corona dengan adanya demam, batuk dan pilek. “Kami juga mengidentifikasi dalam satu bulan terakhir. Apa siswa itu melakukan perjalanan ke daerah episentrum, terutama perjalanan ke luar negeri dan tidak melakukan kegiatan-kegiatan di luar sekolah,” jelasnya.

Ade mengimbau agar peserta didik dan guru untuk berkonsultasi dengan pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat untuk mengetahui lebih pasti kondisi kesehatannya, usai melakukan perjalanan ke daerah yang teridentifikasi Virus Corona. “Secepatnya, mereka melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan atau dengan lembaga pelayanan kesehatan di wilayah setempat, bila usai berkunjung dari wilayah teridentifikasi wabah Virus Corona,” katanya.

Baca Juga :

Ade menegaskan, pihak pemerintah sudah mengeluarkan surat edaran khusus perihal pemberlakuan protokol ini kepada seluruh satuan Dinas Pendidikan yang tersebar di wilayah Indonesia. Hingga saat ini, belum ada sekolah yang melaporkan peserta didik atau pengajar guru yang meminta libur 14 hari setelah pulang dari luar negeri.

“Belum ada laporan, tapi nanti kami cek ya ke Dinas Pendidikan karena ada di ranah pemerintah daerah (pemda). Kami koordinasi terus dengan dinas kesehatan dan juga dinas pendidikan,” tegasnya.

Ade menjelaskan, kebijakan membolehkan libur setelah pulang dari luar negeri episentrum Virus Corona untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Diketahui negara-negara yang telah menjadi episentrum Corona selain China adalah Korea Selatan (Korsel), Iran, dan Italia.

Lebih jauh Ade menyebutkan, pemerintah telah menyebarkan protokol penanganan Virus Corona di area lembaga pendidikan. Di dalam protokol tersebut terdapat 15 langkah yang harus dilaksanakan oleh semua lembaga pendidikan.

Protokol itu di antaranya pertama, Dinas Pendidikan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui rencana atau kesiapan daerah setempat dalam menghadapi COVID-19. Kedua, menyediakan sarana untuk cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol di berbagai lokasi strategis di sekolah sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.

Ketiga, menginstruksikan kepada warga sekolah melakukan cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol, dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) lainnya seperti: makan jajanan sehat, menggunakan jamban bersih dan sehat, olahraga yang teratur, tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya.

Keempat, membersihkan ruangan dan lingkungan sekolah secara rutin (minimal 1 kali sehari) dengan desinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer, meja, keyboard dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan. Memonitor absensi (ketidakhadiran) warga sekolah, Jika diketahui tidak hadir karena sakit dengan gejala demam/ batuk/ pilek/ sakit tenggorokan/ sesak napas disarankan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memeriksakan diri.

Kelima, memberikan himbauan kepada warga sekolah yang sakit dengan gejala demam/ batuk/ pilek/ sakit tenggorokan/ sesak napas untuk mengisolasi diri dirumah dengan tidak banyak kontak dengan orang lain.

Keenam, tidak memberlakukan hukuman/sanksi bagi yang tidak masuk karena sakit, serta tidak memberlakukan kebijakan insentif berbasis kehadiran (jika ada). (dalam hal ini bukan kewenangan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menetapkan, sehingga Kemenkes tidak memberikan masukan).

Ketujuh, jika terdapat ketidakhadiran dalam jumlah besar karena sakit yang berkaitan dengan pernapasan, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat.
Kedelapan, mengalihkan tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang absen kepada tenaga kependidikan lain yang mampu. (dalam hal ini bukan kewenangan Kementerian Kesehatan untuk menetapkan, sehingga Kementerian Kesehatan tidak memberikan masukan).

Kesembilan, pihak institusi pendidikan harus bisa melakukan skrining awal terhadap warga pendidikan yang punya keluhan sakit, untuk selanjutnya diinformasikan dan
berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kesepuluh, memastikan makanan yang disediakan di sekolah merupakan makanan yang sehat dan sudah dimasak sampai matang. Ke-11, menghimbau seluruh warga sekolah untuk tidak berbagi makanan, minuman, termasuk peralatan makan, minum dan alat musik tiup yang akan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit.

Ke-12, menginstruksikan kepada warga sekolah untuk menghindari kontak fisik langsung (bersalaman, cium tangan, berpelukan, dan sebagainya). Ke-13, menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan di lingkungan luar sekolah (berkemah, studi wisata).

Ke-14, melakukan skrining awal berupa pengukuran suhu tubuh terhadap semua tamu yang datang ke institusi pendidikan. Ke-15, warga sekolah dan keluarga yang berpergian ke negara dengan transmisi lokal Covid-19 (Informasi daftar negara dengan transmisi lokal COVID-19 dapat diakses di www.covid19.kemkes.go.id dan mempunyai gejala demam atau gejala pernapasan seperti batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak napas diminta untuk tidak melakukan pengantaran, penjemputan, dan berada di area sekolah.

Sebelumnya, Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali menyatakan, persetujuan dan membenarkan tindakan meliburkan siswa dan pegawai oleh salah satu sekolah di wilayah Pasar Minggu terkait Virus Corona. “Mekanismenya sudah benar, terkait dengan tanggap itu,” kata Marullah saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Sebuah sekolah di wilayah Jakarta Selatan meliburkan siswa dan pegawainya selama 14 hari sejak Selasa, (2/3/2020). Marullah mengaku belum mendapatkan informasi terkait guru yang terindikasi Corona di sekolah internasional tersebut.

Namun, ia optimistis jika laporan tersebut diterima, Kementerian Kesehatan akan memberikan prosedur tetap tertentu untuk mencegah penyebarannya. “Biasanya kalau kondisinya seperti itu Kemenkes sudah berikan sejumlah prosedur tetap,” katanya.

Terkait tindak lanjut Pemkot Jakarta Selatan mengatasi Corona di wilayahnya, Marullah mengatakan langkah-langkah yang dilakukan tidak jauh ari arahan dan instruksi yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta. “Pokoknya apa yang disampaikan gubernur kita lakukan,” katanya.

Kepala Seksi Kesiswaan dan Sumber Belajar Dinas Pendidikan DKI Jakarta Momon Sulaeman saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih menunggu laporan terkait sekolah yang meliburkan siswanya terkait Corona.

Terkait tindakan sekolah meliburkan siswa selama 14 hari, menurut Momon, adalah inisiatif sekolah karena Dinas Pendidikan tidak mengeluarkan instruksi apapun. “Itu inisiatif sekolah sendiri, karena kami tidak pernah mengeluarkan instruksi,” ujarnya.

Momon menyebutkan, pihaknya belum mendapat informasi detail terkait guru yang terindikasi Corona tersebut, karena pihak sekolah masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan terhadap guru tersebut.

Selain itu, pihak sekolah tidak bisa dihubungi karena sudah libur. Ia juga mengatakan, pembinaan sekolah internasional berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bukan dari Dinas Pendidikan sehingga tidak bisa melakukan intervensi.

Beberapa waktu lalu, Team Leader Security sekolah itu Firmansyah ketika ditemui di Jakarta, Selasa (3/3/2020) menyampaikan keputusan pihak sekolah meliburkan kegiatan pendidikan dikarenakan salah satu pengajar diduga terkena Virus Corona. “Sambil menunggu hasilnya tes guru itu negatif atau tidak, selama 14 hari diliburkan,” kata Firmansyah.

Menurut dia, guru yang dites tersebut telah dibawa ke RSPI Sulianti Saroso di Jakarta Utara untuk diperiksa oleh tim medis. Guru tersebut berusia 40 tahunan, berjenis kelamin perempuan. Sebelum menjalani pemeriksaan guru tersebut sudah tidak masuk sejak Senin (2/3/2020).

Di lain pihak, Pengamat Kesehatan Universitas Indonesia (UI) Ratna Sitompul mengatakan, ada banyak dampak tragedi endemik Virus Covid-19 terhadap dunia pendidikan. Dampak Corona terhadap dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi bidang kesehatan sangat positif. Ini karena mereka akan berlomba-lomba melakukan penelitian untuk mendapatkan obat pencegah Virus Covid-19. Sedangkan dampak negatif terjadi terhadap dunia pendidikan jenjang SD sampai SMA adalah ketakutan saat diliburkan.

“Karena sudah beda pengetahuan, makanya ada yang takut, dan yang lain semangat buat meneliti obatnya. Harus dapat dipahami psikologis di antara dunia pendidikan ini. Makanya, jika diliburkan akan membuat mereka bertambah takut,” ujarnya.

Dan karena dampaknya sangat besar terhadap dunia pendidikan, sambung Ratna, sosialisasi pencegahan persebaran Virus Corona di lingkungan pendidikan penting. Sebab wilayah pendidikan merupakan sarana yang paling dekat untuk mengedukasi generasi muda dalam hal kesehatan. Hal utama yang harus dilakukan generasi muda untuk mencegah persebaran Virus Corona, yakni tetap menerapkan pola hidup sehat, serta menjaga kebersihan diri ataupun lingkungan.

“Lingkungan pendidikan merupakan sarana terdekat bagi edukasi serta sosialisasi personal hygiene ataupun pencegahan persebaran virus, sebab dari lingkungan pendidikan lah generasi muda sehat dibentuk. Yang terpenting mari kita jaga pola hidup sehat dan kebersihan, bila merasa terganggu kesehatannya banyak beristirahat serta kurangi aktivitas, dan segera hubungi fasilitas kesehatan bila ada indikasi mengarah ke Corona,” ungkapnya.

Akademisi Kesehatan Universitas Lampung Larasati menuturkan, selama ini edukasi kesehatan seputar virus dan bakteri di lingkungan sekolah sangat jarang disosialisasikan.

Padahal, itu sangat penting dilaksanakan untuk mengantisipasi penyebaran Virus Corona. Dan hal itu akan membuat masyarakat dari generasi muda akan siap menghadapi persoalan kesehatan tersebut. “Kalau dari generasi muda sudah kuat, maka yang tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Jadi di sini letak pentingnya edukasi itu. Kalau ada wabah ini dapat diantisipasi,” tuturnya.

Ditambahkan Larasati, pilihan meliburkan aktivitas di sekolah bukanlah hal yang baik dalam menangkal penularan Virus Covid-19 itu. Justru dengan terusnya kegiatan belajar mengajar ini terselenggara dengan sosialisasi maka ketakutan akan virus ini akan hilang. Apalagi Virus Corona tersebut bukanlah penyakit mematikan seperti isu yang tersebar di publik.

“Pencegahannya sudah bisa dikerjakan. Buat apa takut karena ini penyakit biasa saja. Kalau tubuh sehat mana ada virus yang masuk. Jadi tetap memelihara kebiasaan hidup bersih dan sehat,” pungkasnya.

Anak-Anak Dikucilkan

Sementara itu, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok mengembalikan rasa percaya diri anak di lokasi perumahan pasien positif idap Virus Corona. Pasalnya, pasca kejadian itu, mereka dikucilkan dan kerap dijauhi oleh teman-temannya di sekolah. Akibatnya, hal itu akan berdampak negatif pada tumbuh kembang anak yang tinggal di kawasan perumahan tersebut.

Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi mengatakan, pengembalian rasa percaya diri anak-anak di perumahan tempat pasien pengidap Virus Corona ini perlu dilakukan Pemkot Depok. Mengingat, dampak dari banyaknya pemberitaan tentang Virus Covid-19 ini membuat anak-anak di lokasi tersebut kerap dikucilkan di sekolah. Aksi tersebut pun membuat tekanan psikis yang dirasakan anak.

“Ini yang harus cepat dicegah pemerintah daerah (pemda) di Depok. Ini berdampak negatif bagi anak-anak di sana. Mereka sudah hidup dalam ketakutan dan kerap dipergunjingkan teman-temannya di sekolah. Kalau dibiarkan efeknya nanti sangat buruk sekali,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2020).

Selain itu, lanjut Kak Seto, sapaannya, dari laporan yang diterima pihaknya tindakan diskriminasi terhadap anak-anak yang tinggal di perumahan tersebut kerap terjadi di sekolah. Teman-temannya menganggap mereka dari perumahan itu harus dijauhi karena suspect Virus Corona. Padahal pemahaman tentang hal itu sangat minim diketahui anak di bawah umur.

“Mereka hanya menerka-nerka saja tanpa tahu kebenaran informasi tersebut. Yang mereka tahu hanya menyebut teman-temannya dijauhi karena kena Corona. Ya akhirnya diskriminatif pun terjadi di dalam dan luar sekolah,” paparnya.

Dijelaskan Kak Seto, pemberian trauma healing bagi anak-anak di sekolah terkait Virus Corona perlu diberikan. Tugas itu dapat dikerjakan Dinas Pendidikan (Disdik) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes). Pemberian informasi untuk tidak menjauhi anak-anak di perumahan itu pun perlu diberikan.

“Diberikan pengarahan, agar jangan sampai jauh diskriminasi ini terjadi di antara anak-anak tersebut. Kalau perlu juga para guru diingatkan untuk memberikan ini ke murid-murid. Jika ini berjalan, maka masalah ini cepat ditangani,” jelasnya.

Menurut Kak Seto, tidak ada yang perlu ditakutkan dengan virus tersebut selama daya tahan tubuh terjaga dengan pola hidup bersih dan sehat. Apalagi pada anak yang telah mendapatkan imun dari makanan yang dikonsumsi.

“Tidak usah takut datang ke Depok, dan mereka yang tinggal di sana juga tidak perlu berkecil hati karena semua sudah ditangani pemerintah. Warga Depok harus merasa bersih dan sehat. Tidak ada apa-apa,” tandasnya.

Salah satu warga Perumahan Studio Alam Indah, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Teguh Prawiro mengaku sejak adanya informasi temuan pasien Corona, kehidupan warga dan anak-anak di sana berubah drastis. Mereka merasa terasingkan warga Depok. Ini mulai dari diliburkan dari tempat kerja, sekolah hingga tak adanya pedagang yang mau berjualan ke dalam perumahan.

“Kadang anak pulang dari sekolah sering ngadu, ya teman-temannya bilang jangan mau salaman nanti kena Corona. Tentu mereka ini trauma dengan hal itu. Saya sih hanya bilang itu tidak perlu didengarkan karena mereka tidak tau apa-apa soal ini,” ungkapnya.

Teguh menegaskan, pembentukan Tim Trauma Healing dari Pemkot Depok sangat diperlukan sekali. Karena hal itu untuk mengembalikan rasa percaya diri anak dan warga perumahan itu yang telah mendapatkan tindak diskriminasi dari publik akan temuan Virus Corona.

Dirinya juga berharap hal itu dapat membuat kehidupan warga seperti semula.
Menjawab itu Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna menuturkan, pembentukan Posko Trauma Healing di lokasi perumahan tersebut telah dibentuk. Kemudian kegiatan itu juga dilakukan di sejumlah sekolah. Kegiatan tersebut telah dikerjakan jajaran dua hari pasca temuan pasien pengidap Virus Corona.

“Memang pengembalian rasa trauma yang dihadapi warga butuh waktu lama. Kami pun masih terus berusaha dengan itu semua. Tidak mungkin kami mau meninggalkan mereka seperti itu sekarang,” tuturnya.

Ditambahkan Pradi, kerja keras menghilangkan diskriminasi akan terus diberikan pihaknya sampai isu virus itu tak lagi muncul di Tanah Air. Kerja sama dengan sejumlah psikolog dari beberapa perguruan tinggi pun dikerjakan agar trauma masyarakat hilang dengan sendiri. Dia pun mengimbau para guru terus memberikan pemahaman tentang buruknya tindakan diskriminatif itu dilakukan.

Ini Kata Dewan

Anggota Fraksi PKS DPR RI, Abdul Fikri Faqih meminta Kemendikbud mempertimbangkan opsi meliburkan sekolah dan perguruan tinggi. Dia mengingatkan Mendikbud Nadiem Makarim bahwa World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia juga telah memberi rekomendasi untuk meliburkan sekolah untuk menjaga kesehatan civitas akademika.

“Meliburkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah maupun kampus dalam masa karantina yang ditentukan otorita setempat. Ini merupakan salah satu rekomendasi WHO yang bertujuan untuk meminimalkan epidemi Virus Corona,” kata Faqih saat dihubungi INDOPOS, Senin (9/3/2020).

Wakil Ketua Komisi X DPR RI itu menyatakan, saat ini sudah banyak negara yang meliburkan sekolah untuk menghindari penularan Corona. Kemendikbud dan Dinas Pendidikan di daerah harus mulai mengkaji opsi tersebut dan dia berharap kesehatan para pelajar menjadi prioritas utama. “Prioritas utama Kemendikbud harus melindungi seluruh warga sekolah, siswa dan guru, serta civitas akademika di kampus mengantisipasi wabah Virus Corona,” terangnya.

Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pareira mengatakan, kebijakan untuk meliburkan sekolah sebagai upaya antisipasi penyebaran Covid-19 merupakan kewenangan masing-masing sekolah. “Soal kebijakan untuk meliburkan sekolah karena indikasi Covid-19 sebaiknya diserahkan kepada kebijakan sekolah masing-masing,” katanya saat dihubungi, Senin (9/3/2020).

Tim pengajar, lanjut Andreas, terutama pimpinan sekolah seharusnya mempunyai penilaian atau indikator tertentu. Ini demi kepentingan kesehatan dan keselamatan seluruh komunitas pendidikan yang ada di sekolah tersebut. “Bagaimanapun keselamatan dan kesehatan seluruh komunitas pendidikan di suatu sekolah sangat penting,” tegasnya.

Apalagi, sambung politikus PDI Perjuangan itu, lembaga pendidikan merupakan tempat terjadinya interaksi dan komunikasi yang intensif antara individu yang satu dengan yang lainnya. “Karena intensitas pertemuan dan komunikasi yang intensif antar komunitas akan sangat memungkinkan terjadinya penyebaran virus,” tuturnya.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menilai kebijakan meliburkan sekolah belum perlu dilakukan. “Menurut saya, hal yang dilakukan sekolah belum perlu, karena kita lihat penanganan di pusat di provinsi masing-masing ini sudah mulai berjalan dengan sistem pencegahan,” katanya kepada INDOPOS di Kompleks Parlenen, Senayan, Senin (9/3/2020).

Politikus Partai Gerindra itu menyarankan pihak sekolah membuat kebijakan khusus untuk mencegah penyebaran Virus Corona, misalnya dengan pemeriksaan suhu tubuh. Sebab, menurut Dasco, meliburkan sekolah akan tidak efektif mencegah jika para siswa tetap bepergian ke tempat lain. “Alangkah baiknya, kalau kemudian di masing-masing sekolah, termasuk juga institusi, termasuk juga di DPR RI dilakukan protap (prosedur tetap) sistem pencegahan yang kemudian bisa efektif. Karena, katakanlah sekolah diliburkan, tapi kemudian anak-anak sekolah pergi ke mana-mana, kan bisa kena (Virus Corona, Red),” paparnya. (nas/ant/cok/aen)

2 Komentar
  1. rrrr berkata

    bagaimana dengan kampus yang hanya memperbolehkan mahasiswa yang rumahnya sejauh 2 km saja yang boleh beljr dirmh serta karyawan dan staff ,dosen pun masih tetap bekerja , tidak ada tindak lanjut nya kah? karena didaerah saya ya itu dibandung disekitar cicadas sudah ada yg kena corona dan kampus saya dekat dengan daerah tsb. apa upayanya selanjutnya ini mempertaruhkan hidup dan mati juga

  2. rrrr berkata

    mohon maaf kami kampus swasta kemungkinan harus ada perintah ketua kampus, padahal pak ridwan kamil sudah menghimbau, bagaimana yah? tolong berikan ke adilan untuk para mhasiswa dan para pekerja karena ini adalah hal yang darurat, mohon minta bantuan, agar kampus bisa menanggapi dengan baik

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.