Alih Fungsi Lahan Pertanian, IHCS: Ekologi Pedesaan Jadi Rusak

indopos.co.id – Alih fungsi lahan menjadi ancaman serius bagi ekosistem pertanian di Indonesia. Pasalnya, berubahnya lahan pertanian menjadi non-pertanian tersebut membawa dampak yang sangat luas.
Tak hanya soal ketahanan pangan saja, tetapi juga membawa dampak bagi kemiskinan petani dan kerusakan ekologi di pedesaan. Hal ini diamini oleh Ketua Presidium Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS) Gunawan dalam keterangan di Jakarta, Rabu (11/3/2020).
Menurut Gunawan, alih fungsi lahan membawa dampak langsung kepada kemiskinan petani. “Dampaknya langsung jika tanahnya terjual tapi hasilnya habis untuk konsumsi dan bukan modal kerja lagi. Tentu, juga sangat sulit mengubah dari petani menjadi profesi lain,” katanya.
Selain itu, alih fungsi lahan juga membawa efek negatif pada kerusakan ekologi pedesaan. Yakni, hilangnya kawasan budidaya pertanian. “Hilangnya kawasan budidaya dan kerawananan pangan, rusaknya ekologi kawasan perdesaan,” ujarnya.
Lebih jauh Gunawan mengungkapkan, masalah alih fungsi tidak muncul dengan sendirinya. Tetapi diawali dari hasil produksi pertanian yang tidak mencukupi kebutuhan petani. Akhirnya berujung pada dijualnya lahan pertanian.
Selain itu, menurut Gunawan, alih fungsi lahan juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang tidak menjaga kawasan pertanian berkelanjutan. Alih fungsi lahan pertanian juga terjadi akibat pemerintah dan pemda tidak berhasil menjaga kawasan pertanian pangan berkelanjutan. Kendati pemda sudah membuat Perda perlindungan lahan.
“Secara umum memang terjadi inkonsistensi penetapan ruang atau kawasan. Sehingga terjadi tumpang tindih kawasan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi itu, perlu ada komitmen yang serius dari pemerintah untuk melindungi lahan pertanian, baik melalui peraturan dan penegakan aturan. Pemerintah pusat, menurut Gunawan harus mendorong Pemda yang belum memiliki Perda perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, perda perlindungan dan pemberdayaan petani agar segera menyusunnya. (mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.