Manusia Gua

Oleh Ariyanto

Pemred INDOPOS-indopos.co.id

indopos.co.id – Dulu manusia purba tinggal di gua-gua. Supaya terhindar dari keganasan alam, terkaman binatang buas, atau ancaman luar lainnya. Manusia gua merupakan perwakilan karakter dari manusia primitif pada zaman Paleolitikum. Mereka disebut Homo Neanderthal. Sejenis manusia yang hidup sebelum Homo Sapiens atau manusia modern.

Kini sejarah berulang. Manusia modern kembali tinggal di ’’gua-gua’’. Hanya kemasan guanya berbeda. Gua itu berwujud rumah-rumah modern. Dengan berbagai simbol peradaban. Mereka tinggal di rumah-rumah bukan karena ancaman binatang buas atau keganasan alam. Melainkan mencegah dari serangan Coronavirus disease 2019 (COVID-19).

Baca Juga :

Paradoks COVID-19

Sama-sama ’’buas’’ sebenarnya. Bedanya, di zaman manusia purba ancamannya terlihat. Singa, Serigala, atau semacamnya. Pada zaman manusia modern, ancamannya tidak kasat mata. Berupa Virus Corona. Memiliki diameter hanya 125 nanometer atau 0,125 mikrometer.  Yang telah membunuh belasan ribu orang di dunia.

Pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat bekerja dari rumah (work from home). Belajar juga di rumah. Sekolah dan kampus diliburkan. Belajar menggunakan sistem jarak jauh. Bahkan, ibadah pun di rumah. Tidak boleh ke luar rumah. Kecuali urusan sangat mendesak. Tidak boleh berkerumun. Nongkrong. Menjaga jarak (social distancing). Singkat cerita harus tinggal di rumah.

Baca Juga :

Sampai Kapan Spesies Manusia Bertahan?

Namun, tak semua orang patuh. Sebagian yang bosan memaksa keluar rumah. Sampai akhirnya aparat turun tangan meminta mereka kembali masuk rumah. Sebab, hal itu sangat membahayakan nyawanya dan keluarganya.

Apa yang terjadi di Tanah Air mirip film animasi The Croods. Film berdurasi 98 menit ini berkisah tentang sebuah keluarga manusia purba. Ia masih bertahan saat spesies lainnya hampir punah.

Diceritakan, di sebuah gua, tinggallah pasangan purba Homo Neanderthal. Mereka adalah Grug dan Ugga bersama mertua, Gran, dan anak-anak mereka, Eep, Thunk, dan Sandy. Sebagai kepala keluarga, Grug sangat melindungi anggota keluarganya dari serangan orang-orang luar. Khususnya harimau. Yang selalu mengincar anggota keluarganya.

Grug melarang keras anggota keluarganya keluar gua. Setiap malam Grug selalu bercerita pada anak-anaknya tentang bahaya yang mengancam apabila mereka keluar gua. Dia selalu rutin mengabsen anggota keluarganya. Takut kalau ada yang tidak patuh. Dia sangat marah jika ada yang bandel.

Suatu ketika, anak perempuan tertua, Eep, sangat bosan dengan dirinya yang terus tinggal di dalam gua. Eep ingin melihat dunia luar dan melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya.

Rasa penasaran Eep membuatnya selalu ingin melihat kehidupan di luar gua. Hingga suatu hari, Eep melihat ada cahaya datang dari luar gua. Rasa penasaran yang sudah memuncak membuat Eep menyelinap keluar saat anggota keluarga lainnya tidur. Eep kemudian mengikuti arah cahaya tersebut.

Grug yang mengetahui anak perempuannya keluar gua membawanya kembali ke gua. Eep menceritakan semua yang dia lihat. Termasuk pertemuannya dengan Guy. Manusia dari jenis Homo Sapiens yang memberikan sebuah terompet kerang agar dapat digunakan untuk memanggil Guy saat dalam bahaya. Grug yang marah kemudian merusak terompet kerang pemberian Guy. Mereka menganggap barang baru itu sebagai ancaman.

Ada sisi positif menjadi ’’manusia gua’’ di tengah pandemik global COVID-19. Hubungan sesama anggota keluarga lebih hangat. Lebih intim. Lebih peduli. Orang tua lebih perhatian kepada anak-anaknya.

Untuk meningkatkan daya imunitas, orang tua membelikan anaknya buah-buahan, sayuran, vitamin C dan suplemen lainnya agar tubuh mereka lebih tahan dari berbagai penyakit. Jam tidur diatur. Jangan sampai tidur terlalu larut. Supaya dapat detoksifikasi alami. Selain itu, tidak boleh terlalu capek. Batuk sedikit langsung diperiksakan ke dokter. Demam sedikit langsung dibawa ke rumah sakit.

Orang tua juga kerap menemani anak belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Selama anak-anak mereka belajar di rumah. Intinya ada kehangatan di antara sesama anggota keluarga. Ada obrolan. Yang mungkin sebelumnya asyik dengan dunianya sendiri-sendiri. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya, dengan kegiatan sosialnya, dan anak-anak juga sibuk dengan tugas-tugas belajar dan aktivitas lainnya. Juga mungkin sibuk dengan gadget atau gawainya masing-masing selama berada di rumah. Minim komunikasi.

Apa yang dilakukan Grug kepada anggota keluarganya dengan tetap tinggal di gua demi keselamatan anaknya. Demi masa depan anaknya. Tidak ada orang tua yang mau mencelakakan anaknya. Grug sebagai kepala rumah tangga akan bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Dengan berburu atau lainnya.

Begitu pula yang dilakukan Pemerintah Indonesia sekarang. Imbauan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah punya tujuan baik. Mereka diminta tetap tinggal di rumah demi menyelamatkan rakyatnya. Menyelamatkan rakyat sama dengan menegakkan hukum.

Di dalam hukum itu ada dalil yang sangat filosofis. Bunyinya Salus Populi Suprema Lex. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Kalau di dalam kaidah ushul fiqh ada kaidah yang berbunyi, ’’Dar’ul mafaasid muqaddamun ’ala jalbil masholih’’.  Menghindari keburukan atau kerusakan harus didahulukan daripada meraih keuntungan atau kebaikan’’.

Karena itu, mari kita patuhi imbauan pemerintah demi kebaikan kita semua. Pemerintah juga pasti sudah membuat berbagai skema terhadap mereka yang terdampak COVID-19. (*)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.