Pandemi Covid-19: Tragedi Pendidikan Indonesia?

Oleh Yosep Bambang MS

SAAT ini sekolah dan kampus sepi. Pandemi Covid-19 mengharuskan pemerintah merumahkan semua murid dan mahasiswa hingga waktu yang belum kita ketahui.Tidak ada kegiatan pembelajaran sama sekali di semua sekolah dan kampus. Para guru, dosen, dan tenaga kependidikan piket bergiliran atau ada yang tidak ke kantor sama sekali.

Baca Juga :

Dilihat dari penyelenggaraan pendidikan kita selama ini, hal ini sangat memprihatinkan. Sekolah dan kampus bukan hanya tempat transfer of knowledge secara formal, melainkan juga ladang penyemaian nilai-nilai sosial, budaya, kemanusiaan, dan tempat manusia belajar menjadi anggota masyarakat. Kalau saat ini semua sekolah dan kampus vakum dan kita belum tahu kapan akan kembali normal, apakah berarti pendidikan kita mandeg? Kalau benar, ini bisa menjadi petaka bangsa ke depannya.

Orang yang pesimistis bisa menganggap bahwa pandemi corona merupakan tragedi bagi pendidikan kita, bahkan pendidikan di semua bangsa, dari jenjang terendah hingga tertinggi. Tetapi mereka yang optimistis, tidaklah demikian. Memang semua sekolah dan kampus saat ini tidak menyelenggarakan proses belajar-mengajar tatap muka, melainkan diganti dengan pembelajaran daring atau jarak jauh. Proses pembelajaran pindah dari ruang kelas ke ruang maya. Lantas apa yang membuat kita harus tetap optimistis mengenai pendidikan di Indonesia dalam situasi seperti sekarang ini?

Baca Juga :

Kerja sama semua pihak

Inilah saatnya semua stakeholder pendidikan, yakni masyarakat, orangtua, peserta didik, negara, dan pengelola profesi pendidikan bekerja sama agar pendidikan kita tetap berlangsung. Tanpa mendapatkan fasilitas finansial dari pemerintah, setiap sekolah dan perguruan tinggi swasta saat ini bekerja keras agar proses belajar-mengajar berjalan lancar.
Bagi sekolah dan PT swasta yang memiliki sumber daya baik dan sangat baik, apakah itu terkait sumber daya manusia, keuangan, dan teknologi, pemindahan proses pembelajaran tatap muka ke pembelajaran daring tidak sesulit yang dibayangkan. Tetapi bagi sekolah dan PT swasta yang memiliki sumber daya pas-pasan, situasi sulit saat ini akan berdampak signifikan. Namun sebagai mitra pemerintah, sekolah dan PT swasta melakukan segala upaya untuk tetap bisa menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga :

Tanggung jawab sekolah dan PT swasta terhadap peserta didik, orangtua peserta didik, masyarakat, maupun pemerintah menjadi motivasi untuk memberikan pembelajaran daring dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang ada. Dari sisi ini, pandemi corona bukan tragedi bagi pendidikan kita karena, sekalipun semua sekolah dan kampus sepi, proses pembelajaran tetap berlangsung.

Dari pihak keluarga, sumbangsih mereka juga penting untuk keberlangsungan pendidikan dalam situasi darurat ini, atau bahkan paling penting. Selama ini, dalam situasi ‘normal’, karena orangtua sibuk, pendidikan anak lebih banya diserahkan kepada sekolah, mulai dari transfer ilmu hingga pendidikan moral dan budi pekerti. Orangtua yang sibuk bekerja dari pagi hingga malam atau bahkan akhir pekan, membuat begitu banyak keluarga seolah-olah lepas tangan soal pendidikan anak.

Saat ini, dengan adanya pandemi corona, banyak sekali orangtua bekerja dari rumah sehingga bisa memiliki quality time yang jauh lebih banyak dengan semua anggota keluarga. Inilah saatnya orangtua mendidik anak secara lebih intensif. Transfer ilmu pengetahuan tetap menjadi tugas utama guru dan dosen lewat pelajaran dan perkuliahan daring, tetapi pendidikan budi pekerti, transfer nilai-nilai kemanusiaan, membangun solidaritas sosial, memupuksuburkan rasa kebangsaan dalam kebhinekaan dan seterusnya menjadi tugas utama orangtua di rumah.

Oleh sebab itu, peran orangtua saat ini menjadi sangat penting. Kalau orangtua bisa melaksanakan semua ini, apa yang diberikan orangtua kepada anak akan merupakan nilai yang tak terhingga pentingnya bagi kehidupan kebangsaan kita ke depan. Buruknya solidaritas sosial, sekat-sekat primordialisme, dan rasa saling curiga terhadap kelompok lain yang selama ini mewarnai kehidupan berbangsa kita bisa kita tekan serendah mungkin kalau orangtua mendidik anak-anaknya dengan benar.Tugas orang tua adalah menanamkan nilai-nilai kemanusiaan universal, bukan mengajarkan radikalisme dalam segala bentuknya.
Inilah saat yang paling tepat bagi kita semua untuk melakukan refleksi untuk membangun kehidupan kebangsaan yang lebih baik ke depan. Oleh karena itu, pandemik tidak akan pernah menimbulkan tragedi bagi pendidikan kita.

Pada dasarnya pendidikan itu ruh atau semangat mengubah manusia: dari tidak baik menjadi baik dan dari baik menjadi lebih baik. Perubahan manusia ini tidak harus dilakukan di ruang kelas di sekolah atau kampus melainkan bisa di rumah. Justru keluargalah yang sangat bepengaruh.

Orangtua harus memiliki kesadaran bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan satu sama lain, bahwa pertikaian apa pun bentuknya tidak akan pernah menguntungkan bagi keluarga itu sendiri, bagi masyarakat sekitar, bagi bangsa, maupun bagi manusia sejagad raya ini. Orangtua harus mampu mewariskan nilai-nilai kemanusiaan ini kepada putra-putrinya, terutama putra-putri yang masih sangat muda dan muda.

Pandemi corona “memaksa” kita semua untuk menanggalkan ego, kecurigaan, sentimen dan kebencian kita pada orang lain. Kalau semua ini menjadi kenyataan, pandemi corona tidak akan membuat pendidikan kita sekarat melainkan justru akan tumbuh subur menghasilkan buah kemanusiaan di masa depan. Ini kalau kita semua berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia yang jauh lebih baik bagi anak cucu kita.

Corona bukanlah akhir segalanya. Di tengah kegelapan kita membutuhkan secercah cahaya. Itu sudah cukup. Secercah cahaya itu kita harapkan datang dari semua stakeholder pendidikan kita. Biarlah sekolah mulai TK hingga PT melakukan tugas mereka mentransfer ilmu dengan cara mereka masing-masing. Tetapi peran orangtua di rumah tidak kalah pentingnya untuk mentransfer nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Inilah warisan Ki Hajar Dewantara atau RM Suwardi Suryaningrat ketika mendirikan Taman

Siswa hampir seabad yang lalu. Semangat dan warisan Ki Hajar Dewantara harus tetap kita jaga dan tumbuhsuburkan. Sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukannya. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Yosep Bambang MS, PhD
Alumnus College of Education, the University of Iowa, USA
Dekan Fakultas Bahasa dan Budaya Untag Semarang

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.