Pasien Meninggal Banyak Usia 30-59 Tahun, Update Sembuh Corona Terus Tambah Jadi 1.254

indopos.co.id – Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat penambahan jumlah pasien sembuh hingga Selasa pukul 12.00 WIB menjadi 1.254 orang setelah ada penambahan sebanyak 103 orang dari 9.511 kasus terkonfirmasi positif.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB Jakarta, Selasa, menyebutkan terdapat tambahan konfirmasi 415 kasus positif baru dan delapan orang meninggal sehingga total meninggal dunia mencapai 773 jiwa.

“Kita bersyukur pasien sembuh semakin banyak, di DKI Jakarta 363 orang, dilanjutkan Jawa Timur 144 orang, Sulawesi Selatan 108 orang, Jawa Barat 103 orang, Jawa Tengah 89 orang dan dari seluruh provinsi menjadi 1.254 orang,” kata Yurianto.

Pasien dinyatakan sembuh dari COVID-19 berdasarkan kondisi klinis pasien yang tidak lagi memerlukan layanan kesehatan di rumah sakit disertai dengan hasil uji laboratorium negatif selama dua kali pemeriksaan berturut-turut.

Baca Juga :

Seorang WNA Terjaring Razia SIKM

Data tersebut diambil dari hasil uji spesimen sebanyak 79.618 yang diambil dari 62.544 orang dengan menggunakan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di 46 laboratorium. Dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan sebanyak 9.511 positif dan 53.033 negatif.

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) menjadi 213.644 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 20.428 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 297 kabupaten/kota di Tanah Air atau terdapat sembilan kabupaten/kota baru yang melaporkan kasus.

Baca Juga :

Penambahan kasus positif baru terbanyak masih terjadi di DKI Jakarta yaitu 133 kasus, disusul Jawa Timur 61 kasus, Papua 26 kasus, Sumatera Barat 23 kasus, Papua Barat dan Bali masing-masing 21 kasus.

Laporan Gugus Tugas merincikan data kasus positif COVID-19 di Indonesia yaitu di Provinsi Aceh sembilan kasus, Bali 215 kasus, Banten 388 kasus, Bangka Belitung 10 kasus, Bengkulu delapan kasus, Yogyakarta 93 kasus, DKI Jakarta 4.002 kasus.

Selanjutnya di Jambi 32 kasus, Jawa Barat 969 kasus, Jawa Tengah 682 kasus, Jawa Timur 857 kasus, Kalimantan Barat 51 kasus, Kalimantan Timur 115 kasus, Kalimantan Tengah 121 kasus, Kalimantan Selatan 150 kasus, dan Kalimantan Utara 92 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau 89 kasus, Nusa Tenggara Barat 221 kasus, Sumatera Selatan 143 kasus, Sumatera Barat 144 kasus, Sulawesi Utara 43 kasus, Sumatera Utara 111 kasus, dan Sulawesi Tenggara 45 kasus.

Adapun di Sulawesi Selatan 453 kasus, Sulawesi Tengah 42 kasus, Lampung 44 kasus, Riau 40 kasus, Maluku Utara 26 kasus, Maluku 22 kasus, Papua Barat 37 kasus, Papua 177 kasus, Sulawesi Barat 37 kasus, Nusa Tenggara Timur satu kasus, dan Gorontalo 15 kasus. Sebanyak 10 provinsi di Indonesia tercatat tidak melaporkan kasus baru sejak Senin (27/4) pukul 12.00 WIB hingga Selasa pukul 12.00 WIB.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengungkapkan bahwa pasien COVID-19 yang meninggal dunia di Indonesia kebanyakan berusia 30 sampai 59 tahun.

Dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB Jakarta, Selasa, dia menyebutkan bahwa 351 dari 773 pasien COVID-19 yang meninggal dunia usianya 30 sampai 59 tahun.

Kasus kematian terbanyak kedua terjadi pada kelompok pasien dengan rentang usia 60 sampai 79 tahun. Ada 302 pasien COVID-19 dalam rentang usia tersebut yang meninggal dunia. Selain itu ada 27 pasien berusia di atas 80 tahun yang meninggal dunia akibat infeksi virus corona.

Kasus kematian pada kelompok pasien berusia muda cenderung lebih sedikit menurut data pemerintah. “Kasus meninggal sebanyak 773 kalau kita perhatikan pada distribusi umurnya pada rentang usia 0-4 tahun sebanyak dua orang, rentang usia 5-14 tahun tiga orang, rentang usia 15-29 tahun 19 orang,” kata Achmad Yurianto.

Selain itu, menurut dia, ada 69 kematian lain yang masih dalam proses verifikasi ulang ke rumah sakit berkenaan dengan rentang usia pasien. Achmad Yurianto tidak memerinci jumlah pasien yang terinfeksi virus corona berdasarkan usia sehingga tidak bisa diketahui persentase kematian akibat COVID-19 pada pasien dengan rentang usia tertentu.

Sebelumnya dia mengatakan bahwa kasus kematian pada pasien COVID-19 dengan penyakit penyerta paling banyak terjadi pada pasien dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, serta penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru-paru obstruktif yang sudah menahun.

Dia meminta warga mematuhi peraturan mengenai pembatasan sosial berskala besar untuk mengendalikan penularan virus corona dengan memakai masker bila keluar rumah, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir.

Berikutnya menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan, tidak keluar rumah kalau tidak mendesak, dan tidak mudik. Ia menekankan pentingnya gotong royong masyarakat dalam memutus rantai penularan COVID-19.(ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.