Produksi Pupuk Diprioritaskan untuk Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

indopos.co.id – Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat menegaskan, produksi Pupuk Indonesia diprioritaskan untuk pasokan pupuk untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Khususnya untuk sektor tanaman pangan.

“Bila kebutuhan untuk subsidi dan sektor pangan dalam negeri sudah terpenuhi dan stoknya dipastikan aman, baru kita akan menjual hasil produksi ke sektor komersil maupun ekspor,” jelas Aas dalam keterangan persnya dikutip dari grup WhatsApp Media BUMN, Kamis (30/4/2020).

Baca Juga :

Kartu Pupuk

Kapasitas produksi Pupuk Indonesia sendiri mencapai total 14.012.500 ton per tahun untuk segala jenis pupuk, dengan rincian, 9.362.500 ton Urea, 3.380.000 ton NPK, 500.000 ton SP-36, 750.000 ton ZA dan 20.000 ton ZK.

Adapun sepanjang kuartal I 2020, PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatakan pertumbuhan produksi produk pupuk sebesar 14,15 persen. Dimana sampai dengan 31 Maret 2020, produksi pupuk Perseroan mencapai 3.104.341 ton, meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 2.664.924 ton.

Baca Juga :

Total produksi tersebut terdiri dari 2.070.140 ton Urea, 688.196 ton NPK, 132.473 ton SP-36, 212.262 ton ZA, dan 1.270 ton ZK.

Menurut Aas, pertumbuhan tersebut dikarenakan kondisi pabrik yang dapat beroperasi secara optimal dengan rate yang cukup tinggi. Peningkatan volume produksi salah satunya juga disebabkan pengoperasian pabrik Amurea II yang mulai komersil sejak Agustus 2018.

Baca Juga :

Tak hanya produk pupuk, produksi non pupuk Perseroan juga mengalami peningkatan di tiga bulan pertama tahun ini. “Tercatat, produksi non pupuk mencapai 1.872.026 ton, lebih tinggi dibanding produksi periode sama tahun lalu yang sebesar 1.504.810 ton,” jelas Aas.

Menurut Aas, berkat langkah transformasi bisnis yang telah dilakukan, kini biaya produksi pupuk dapat lebih efisien. Sebagai contoh, dalam hal efisiensi pemakaian bahan baku, sepanjang tahun 2019 Perseroan mencatatkan realisasi rasio konsumsi gas untuk urea sebesar 27,56 mmbtu/ton, lebih efisien dari rencana 28,28 mmbtu/ton.

Sedangkan rasio konsumsi gas untuk amoniak sebesar 35,92 mmbtu/ton yang juga lebih efisien dari rencana sebesar 36,05 mmbtu/ton. “Efisiensi ini penting dalam mengurangi beban pemerintah atas subsidi. Termasuk untuk peningkatan daya saing produk Pupuk Indonesia Grup,” pungkasnya. (dai)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.