Alan Guteres Laras Merdeka Belajar

Oleh

Zainul A Sukrin
Direktur Politika Institute

Merdeka Belajar merupakan sistem pendidikan yang merespon revolusi industri 4.0 yang dikonsepsikan oleh Nadiem Makarim. Sistem pendidikan saat ini, mengarusutamakan peserta didik untuk menguasai literasi baru yaitu literasi data, teknologi, dan manusia. Tujuannya yaitu mewujudkan peserta didik yang dapat berfikir kritis atau memecahkan masalah, berkolaborasi, berinovasi dan kreatif, dan berkaraker.

Sistem pendidikan merdeka belajar, merupakan pendidikan merdeka berfikir. Pendidikan bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan kreatif. Reorientasi pendidikan tersebut tidak hanya merespon adanya distrup teknologi dengan berkembangnya anak-anak muda kekinian yang mencipta startup dan unicorn untuk memenuhi kebutuhan zaman saat ini, namun orientasi merdeka belajar berangkat juga dari menumpuknya sarjana dan atau output dari berbagai lembaga pendidikan yang menjadi orang pengangguran baru (OPB).

Orang pengangguran baru (OPB) menjadi beban negara. OPB hanya menunggu nasip baik dan beruntung dari negara. Harapan untuk dibukanya lapangan perkerjaan (Pegawai Negeri Sipil) untuk merubah hidup. ODP sejatinya memiliki potensi keilmuan atau keahlian setelah keluar studi. Namun cenderung ODP tidak kreatif atau tidak memiliki inovasi dan kemandirian. ODP menunggu dan mencari kerja, tidak mampu menciptakan peluang dan pekerjaan. Di tengah menunggu nasib baik dan beruntung, terkadang OPB menyalurkan potensinya di hal-hal yang tidak produktif.

Seolah-olah sistem pendidikan selama ini gagal. Oleh sebabnya negara mengharapkan sistem pendidikan mewujudkan sumber daya manusia yang kreatif dan unggul. Alan Guteres, telah menjadi laras merdeka belajar. Menuntun orientasi pendidikan yang tidak hanya didudukkan dalam narasi dan wacana, namun dengan aksi dan tindakan nyata. Alan Guteres seorang sopir tidak bersarjana dan berpenampilan preman, yang mendirikan sekolah dasar Islam di daerah tertinggal tahun 2010.

Baca Juga :

Di atas hamparan tanah 500 M2 warisan Ayahnya Almarhum Yusuf AR, Alan Guteres mendirikan Sekolah Darul Ulum Tololai. Tepatnya di Kaki Gunung Jati Kasih Pahu, Pinggir Pantai Lautan Flores Desa Mawu Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima. Dari daerah tertinggal dan terluar, Alan Guteres ingin menciptakan manusia unggul, kreatif, maju dan mandiri serta anggun dalam moral, etika dan berlandaskan agama. Alan Guteres mendirikan sekolah juga bertujuan untuk membuatkan saluran untuk para sarjana dari Bima yang pulang kampung setelah selesai studi.

Mengenal Sang Sopir Lebih Dekat

Pada tahun 1993 setelah lulus di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupayen Bima, M. Saleh Yusuf alias Alan Guteres tiba di Ibu Kota Jakarta untuk mengadu keberuntungan. Rantau di Jakarta, untuk menghempaskan rasa kecewa, setelah permintaannya ingin melanjutkan studi di Perguruan Tinggi tidak dikabulkan oleh orang tuanya karena tidak sanggup dengan biaya. Tidak mampu dan miskinlah yang menjadi akar masalahnya.

Saat di Ibu Kota, Alan Guteres menjadi saksi bahwa Ibu Kota lebih kejam dari Ibu tiri. Tidak mengenal kecil dan tua, lemah dan kuat, orang lama dan baru, semua usaha ialah untuk bertahan hidup. Ada keluarga di Jakarta tidak menjamin untuk hidup dan sukses. Alan Guteres belajar secara merdeka dari pengalaman hidupnya. Hidup sepenuhnya dijalanan.

Untuk menyambung hidup Alan Guteres menjadi kernet angkot di tahun 1993. Keluar siang hari pulang pagi hari, itu lah aktivitasnya. Rumahnya adalah terminal, tidurnya beralaskan kardus dan karpet tipis. Alan Guteres sampai sakit-sakitan, tapi tidak mematahkan semangatnya. Saat menjadi kernet ini lah, Alan Guteres mulai bisa nyetir mobil. Setelah hampir dua tahun menjadi kernet, 1994 Alan Guteres menjadi sopir angkot di Tangerang.

Pilihan menjadi sopir, dalam nalurinya akan banyak bermanfaat. Nalurinya tepat, pada tahun 1995 Alan Guteres menjadi sopir di Balai Kota Jakarta. Kemudian tahun 1998, Alan Guteres mengundurkan diri dan balik ke Bima. Di Bima, Alan Guteres bekerja menjadi kernet Truk. Alan Guteres menggunakan pola saat tahun 1993 untuk belajar nyetir Truk sampai Tronton. Artinya menyelam sambil minum air. Saat menjadi kernet Truk ia tidak hanya bekerja, akan tetapi sambil belajar. Saat menjadi sopir Truk, Alan Guteres biasa mengangkut barang/komoditas dari Bima, Surabaya, dan Jakarta. Cara belajar Alan Guteres ini, dalam metode pembelajaran di zaman revolusi industri 4.0 sebagai belajar di luar kelas atau di lingkungan sekitar.

Alan Guteres memang pembelajar ulung. Semua orang dan pengalamanya adalah guru. Setidaknya keseriusannya bertukar pikiran dengan mahasiswa dari Bima ditemui di terminal Mataram, Surabaya, dan Jakarta memberikan tanda semangatnya yang menyala-nyala untuk tetap belajar. Alan Guteres saat berdiskusi selalu siaga dengan pertanyaan apa karya yang ingin disumbangkan untuk daerah (Bima)? Pertanyaan tersebut sebagai pembuka babak diskusinya. Bagi dia, tindakan nyata untuk masyarakat, daerah, dan kebaikan umum adalah bukti bahwa kita adalah terpelajar. Artinya Alan Guteres benar-benar merdeka berfikirnya, ini syarat utama untuk mencapai proses sistem merdeka belajar. Peserta didik diminta untuk dapat berfikir kritis dan menyelesaikan masalah dengan memberikan pertanyaan, “mau buat apa?”

Jadi Alan Guteres tidak puas hanya menjadi pemerhati dan pemantik diskusi, namun lebih dari itu. Alan Guteres menghitung bahwa ada ratusan hingga ribuan sarjana setiap tahun dari Bima yang menyelesaikan studi. Dan setelah selesai studi mereka pulang kampung. Dan kebanyakan sarjana-sarjana dari Bima yaitu Sarjana Pendidikan. Di Bima, para sarjana tersebut tidak tertampung alias nganggur. Alan Guteres membulatkan niatnya untuk membuatkan saluran untuk mereka agar tidak salah arah. Terlebih lagi Kab. Bima harus dicerdaskan generasinya, apalagi mereka anak yatim (miskin) yang tercederai harus dipenuhi hak pendidikannya.

Menjelang tahun 2010, Alan Guteres merenungi kondisi tersebut. Maka dia mendirikan Yayasan Darul Ulum Tololai. Alan Guteres berharap semuanya akan lebih baik dan dapat memecahkan segala masalah yang ada. Dengan yayasan ini, Alan Guteres berharap generasi Bima yang telah menyelesaikan studinya dapat mencerdaskan generasi selanjutnya, dapat lebih cerdas, bersekolah setinggi-tingginya, dan setelah menempuh pendidikan di perguruan tinggi dapat berkarya lebih darinya yang tidak pernah mengijakkan kaki di bangku kuliah. Dengan adanya Yayasannya, masyarakat miskin yang jauh dari biaya dan akses mendapatkan hak belajar, dengan bersekolah secara gratis.

Tabungan selama menjadi sopir, dia gunakan untuk membangun 3 peta ruangan pertama. Saat pertama merintis sekolah ini, Alan Guteres tetap menjadi sopir. Ia mengganji guru-guru di sekolah yang dirintisnya dari gaji sopirnya. Alan Guteres harus bekerja ekstra untuk memenuhi semua kegiatan belajar dan pengajarannya. Termasuk menyediakan seragam yang layak untuk murid, berserta perlengkapan alat tulis, dan lain-lain. Dari sosok Alan Guteres inilah capaian tuntas dari sistem pendidikan mereka belajar. Tujuannya mewujudkan SDM yang dapat berfikir kritis dan menyelesaikan masalah, kreatif, maupun dapat berkolaborasi.

Yayasan sekolah yang dibangunnya saat ini sudah survive. Tahun 2018, Alan Guteres melimpahkan ke orang lain untuk mengurusnya. Alan Guteres yakin, cita akan generasi baru di daerah tertinggal akan dapat maju bila mana sektor yang pendidikan di perhatikan. Terutama saat ini, di dunia pendidikan siswa harus memerdekakan peserta didik untuk belajar. Peserta didik harus, menjadi jawaban yang melampui zaman. Tujuan untuk merdeka berfikir. Alan Guteres menjadi titik tolak dari manusia yang unggul dan kreatif dari tujuan merdeka belajar. Jika manusia itu unggul dan kreatif akan menjadi solusi, bukan malah menjadi masalah. (*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.