Di Negara Swiss yang Kaya, 1.000 Orang Antre Paket Makanan Gratis,  Enam Orang di Afghanistan Tewas

indopos.co.id – Lebih dari 1.000 orang di Jenewa, Swiss pada Sabtu (9/6/2020) mengantre paket makanan gratis, menyoroti dampak epidemi wabah virus corona jenis baru penyebab Covid-19 terhadap para migran miskin dan ilegal bahkan di negara Swiss yang terkenal kaya.

Antrean panjang lebih dari 1 kilometer terlihat di depan sebuah arena es, tempat para relawan membagikan sekitar 1.500 paket makanan kepada mereka yang mulai mengantre sejak pukul 05.00.

Baca Juga :

Kisah Hidup PM Kanada Dijadikan Komik

“Pada akhir bulan dompet saya kosong. Kami harus bayar tagihan, asuransi dan semuanya. Ini luar biasa, sebab ada makanan untuk sepekan, sepekan merasa lega…Saya tidak tahu bagaimana pekan depan,” kata Ingrid Berala, warga Jenewa asal Nikaragua yang bekerja paruh waktu seperti dilansir Reuters.

Badan amal Caritas mengatakan Swiss memiliki penduduk hampir 8,6 juta, dengan 660 ribu di antaranya pada 2018 tercatat sebagai warga miskin, terutama orang tua tunggal dan mereka yang berpendidikan rendah dan tidak dapat menemukan pekerjaan lagi usai kehilangan mata pencaharian.

Baca Juga :

Lebih dari 1,1 juta orang terancam jatuh ke tingkat kemiskinan, yang artinya mereka memiliki kurang dari 60 persen pendapatan rata-rata, yakni 6.538 franc Swiss (sekitar Rp100 juta) untuk pekerjaan penuh waktu pada 2018.

Bank Swiss UBS telah menghitung bahwa Jenewa menjadi kota global paling mahal kedua bagi satu keluarga yang terdiri atas tiga orang, setelah Zurich. Pendapatan rata-rata juga tinggi, itu sedikit membantu masyarakat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan.

Baca Juga :

“Saya rasa banyak orang yang sadar akan hal ini, tetapi berbeda melihatnya dengan mata kepala sendiri,” kata Silvana Matromatteo, ketua kelompok bantuan Geneva Solidarity Caravan.

Silvana menambahkan, “Kami melihat orang-orang menangis, mereka mengatakan tidak mungkin hal ini terjadi di negara saya. Tetapi itu terjadi di sini dan mungkin COVID-19 membawa semuanya keluar dan ini bagus, sebab kami dapat mengambil langkah untuk mendukung semua pekerja ini, karena mereka adalah pekerja di atas segalanya.”

Kepala misi kelompok Doctors Without Borders, Patrick Wieland, mengatakan survei pekan lalu menunjukkan lebih dari setengah penerima makanan yang diwawancarai tidak berdokumen, sementara yang lainnya dengan status hukum adalah warga Swiss atau sedang mencari suaka.

Sementara itu, sedikitnya enam orang tewas ketika para pemrotes, yang marah karena menganggap pembagian bantuan makanan tak adil selama pandemi COVID-19, bentrok dengan polisi di Provinsi Ghor, Afghanistan, Sabtu (9/5/2020), menurut pejabat.

Empat warga sipil dan dua petugas polisi tewas dalam insiden tersebut, menurut juru bicara Kementerian Dalam Negeri Tariq Arian. “Tim dari Kabul akan diterjunkan untuk menyelidiki insiden hari ini secara komprehensif,” katanya. Ia menambahkan bahwa sepuluh petugas polisi dan sembilan warga sipil terluka.

Anggota parlemen asal Ghor, Gulzaman Nayeb, mengatakan bahwa tujuh orang tewas dan belasan orang lainnya mengalami luka akibat bentrokan, yang dipicu oleh ketidakpuasan soal pembagian bantuan yang diduga menguntungkan orang-orang dengan koneksi politik.

Polisi melepaskan tembakan, setelah sekitar 300 pemrotes melempar batu, mulai menembakkan senjata dan berupaya menerobos kediaman gubernur, kata juru bicara gubernur Provinsi Ghor, Mohammad Arif Aber.

Menurutnya, dua orang tewas dan lima lainnya terluka. Ia membantah bantuan tersebut dibagikan secara tak merata. Salah satu korban tewas adalah Ahmad Naveed Khan, relawan penyiar radio yang sedang duduk di dekat toko miliknya dan terkena peluru di bagian kepala, menurut Direktur Eksekutif Pusat Jurnalis Afghanistan, Ahmad Quraishi.

Komisi HAM Independen Afghanistan (AIHRC) sedang menyelidiki “laporan mengerikan tentang polisi yang menembaki demonstran,” kata ketua Shaharzad Akbar di Twitter dikutip Reuters.

Kelompok Amnesty International juga menyerukan penyelidikan independen terhadap penggunaan kekuatan oleh polisi. Pemerintah sedang membagikan bantuan makanan di seluruh wilayah saat pembatasan yang diberlakukan akibat pandemi COVID-19 menyebabkan banyak kehilangan pekerjaan dan kenaikan harga sembako.

Akbar mengatakan kepada Reuters pekan ini bahwa komisi tersebut dibanjiri aduan masyarakat, yang mengatakan bantuan dibagikan secara tak adil. “Kami banyak mendengar komplain dari masyarakat bahwa orang-orang yang menerima bantuan terbatas adalah orang-orang yang sangat tidak layak untuk mendapatkannya, mereka memiliki koneksi dengan otoritas setempat atau pejabat setempat,” katanya. Hingga kini, Afghanistan telah melaporkan 4.033 kasus COVID-19 dengan 115 kematian. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.