Alexa Metrics

GINSI Apresiasi Kinerja Bea Cukai, Di Masa Pandemi Covid-19

GINSI Apresiasi Kinerja Bea Cukai, Di Masa Pandemi Covid-19 Foto ilustrasi

indopos.co.id – Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menyatakan, kegiatan importasi selama masa pandemi Covid-19 di Indonesia telah menyebabkan penurunan kegiatan importasi hingga 60 persen selama periode Maret sampai dengan Mei 2020.

Meskipun begitu, GINSI mengapresiasi kinerja Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan terkait layanan importasi yang dilakukan pelaku usaha nasional selama masa pandemi itu.

“Sebagai importir, kami merasakan kinerja pelayanan Bea dan Cukai di pelabuhan maupun bandar udara, terutama dimasa Covid-19 sekarang ini tidak ada masalah. Bahkan ada kemudahan pelayanan secara keseluruhan dengan hadirnya sejumlah regulasi yang mempercepat pengeluaran barang,” ujar Ketua Logistik dan Perhubungan BPP GINSI, Erwin Taufan, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/5/2020).

Menurutnya tanggung jawab Ditjen Bea dan Cukai sebagai pengawal sejumlah regulasi titipan dari intansi atau kementerian tekhnis lainnya, bukanlah hal yang mudah. Mengingat luas wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan wilayah kerja kepabeanan dan cukai yang harus dijaga juga cukup banyak.

“Banyaknya kepentingan yang membuat tugas Bea Cukai secara keseluruhan tidaklah mudah. Daerah yang dijaga untuk kedaulatan bangsa juga cukup luas. Namun selama pandemi Covid-19 ini semua kegiatan pelayanan yang dirasakan importir masih berjalan dengan baik. kami juga berharap kemitraan GINSI dan Ditjen Bea dan Cukai dimasa-masa mendatang bisa lebih ditingkatkan lagi,” ujar Taufan.

Kendati kegiatan importasi nasional, kata dia, di perkirakan masih akan melesu hingga akhir tahun ini. Hal itu menyusul imbas Pandemi virus Corona (Covid-19) yang memengaruhi kinerja perdagangan secara global.

Namun, GINSI merespon postif langkah Kementerian Keuangan yang memberikan fasilitas atas impor barang untuk keperluan penanganan Covid-19 seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 34/PMK.04/2020.

Aturan tersebut dirilis pada 17 April 2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai Serta Perpajakan Atas Impor Barang Untuk Keperluan Penanganan Pandemi Corona (Covid-19).

Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi lesunya kegiatan importasi barang diluar atau selain untuk kebutuhan penanganan Covid-19 oleh para pelaku impor nasional tersebut.

Penyebab melesunya importasi, kata dia, selain karena mayoritas Industri (non consumer goods) yang mulai tidak berproduksi atau mengurangi produksinya sementara masih terdapat bahan bakunya yang masih harus diimpor.

“Pengurangan volume produksi industri itu lantaran hasil produksinya kurang diserap pasar baik dalam negeri maupun luar negeri akibat daya beli konsumen yang sedang melemah saat ini. Selain itu, harga barang di luar negeri juga mahal karena kurs dollarnya tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan prediksi pelaku usaha sebelumnya,” jelas Taufan.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, selama triwulan I/2020 kegiatan importasi bahan baku dan barang modal cenderung menurun, sedangkan barang konsumsi meningkat.

Menurut BPS, kondisi tersebut kemungkinan akan berpengaruh pada pergerakan sektor industri, perdagangan, dan investasi.

Adapun pertumbuhan impor barang konsumsi selama periode triwulan I/2020 sebesar 7,11 persen, sedangkan impor bahan baku/penolong dan barang modal selama periode itu justru turun masing-masing 2,8 persen dan 13,07 persen.

BPS juga mencatat terjadi kenaikan nilai impor sebesar 15,6 persen pada Maret 2020 menjadi USD13,35 miliar. Namun, apabila dibandingkan dengan Maret 2019, nilai impor turun sekitar 0,75 persen. (mdo)



Apa Pendapatmu?