Pandemi Covid-19, Target Penurunan Angka Stunting Terancam Tak Tercapai

indopos.co.id – Media Octarina, MCN, Mantan Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK selaku moderator diskusi Habibie Institute for Public Policy and Governance (HIPPG) menuturkan,

Pada 2024, angka stunting nasional ditargetkan turun 14 persen. “Dengan kondisi seperti saat ini, timbul kekhawatiran apakah target ini bisa tercapai. Terlebih, mengingat posyandu tidak lagi beroperasi dan tenaga kesehatan di puskesmas juga tak luput dari dampak Covid-19,” ujar mantan Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Media Octarina, MCN, selaku moderator diskusi Habibie Institute for Public Policy and Governance (HIPPG), kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Jumat (15/5/2020).

Agar target penurunan dari salah satu program prioritas nasional ini dapat tetap tercapai, dibutuhkan modifikasi strategi kebijakan yang dapat diimplementasikan di tingkat daerah. Sehingga, tetap dapat dicegah terjadinya malnutrisi dan menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia di tengah pandemi ini.

Guru Besar FKUI, Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K) menuturkan, kebijakan ‘di rumah saja’ dan ‘jaga jarak fisik’ menyulitkan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu.

“Apabila tidak cepat dideteksi melalui pengukuran berat badan, panjang badan, hingga lingkar kepala, anak-anak bisa menderita malnutrisi kronis hingga menjadi stunting,” katanya.

Menurutnya, selain mempengaruhi otak, nutrisi pada awal kehidupan seperti protein hewani, asam amino, zat besi, maupun zinc, juga berpengaruh kepada daya tahan tubuh anak.

“Bahayanya, infeksi berulang akan mengganggu saluran cerna, malabsorpsi nutrisi, risiko malnutrisi, hingga mengganggu hormon pertumbuhan pada anak, yang dapat berujung pada stunting akibat malnutrisi kronis yang dibiarkan tidak terdeteksi,” jelasnya.

Ia menuturkan, strategi khusus penanganan stunting saat ini kuncinya pada pemberian gizi yang baik, pemantauan tumbuh kembang rutin untuk deteksi dini, serta sistem rujukan berjenjang.

Sementara, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Dr. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA, menjelaskan, memang ada risiko peningkatan masalah gizi akut dan kronis yang disebabkan oleh menurunnya akses dan daya beli masyarakat terhadap pangan bergizi akibat pandemi Covid-19.

“Imbas PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kami meminimalisir kunjungan masyarakat ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) dan mengutamakan untuk yang bersifat mendesak dan gawat darurat,” tuturnya.

Untuk menyeimbangkan, pihaknya rencana melakukan modifikasi pelayanan seperti kunjungan rumah bagi sasaran berisiko, konseling virtual, edukasi masyarakat, hingga komunikasi melalui grup di media sosial.

Sedangkan, Dokter Spesialis Anak, Dr. dr.Tb. Rachmat Sentika SpA. MARS menuturkan, penderita gizi buruk dan gizi kurang dapat berisiko terutama dalam tiga bulan masa PSBB ini.

“Petugas kesehatan di manapun berada harus mengutamakan preventif, jangan sampai yang sehat menjadi jatuh sakit. Salah satu caranya adalah pemberian PMT seperti anjuran Permenkes 29 bagi balita gizi kurang dan gizi buruk di bawah pengawasan tenaga medis,” jelasnya.

Direktur Eksekutif HIPPG, Dr. Widya Leksmanawati Habibie, MM menekankan soal pentingnya protein hewani dan nutrisi yang cukup untuk menjaga gizi anak selama masa pandemi.

“Diskusi kesiapan daerah dalam penaganan pandemi Covid-19 dan prioritas penurunan stunting akan terus diadakan setiap Rabu dan Jumat untuk memfasilitasi sesi sharing maupun koordinasi antarlembaga yang terus berperan aktif dalam menjaga kesehatan anak-anak Indonesia,” ujarnya.(mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.