Sudah Jatuh Masih juga Ditimpa Tangga

Catatan : Heru Lelono, Pemberhati Kebijakan Publik

Hidup ini adalah karya seni Tuhan. Sebuah gambar besar, namun mudah pudar. Pudar oleh pilihan ulah manusia. Ada yang memilih ikut mewarnai, tapi ada juga yang suka mencemari.

Baca Juga :

Hari ini hidup kita bersatu bersama sesama dalam melawan virus corona. Namun ada juga segelintir dari kita yang bersatu dengan nafsunya sendiri, untuk memanfaatkan kegentingan untuk kepentingan pribadi. Bentuknya bisa lucu-lucu. Ada yang memasang foto terbaiknya dikantong bantuan pemerintah untuk masyarakat yang membutuhkan. Buat kampanye atau apapun, masa bodo bagi rakyat. Padahal bantuan itu dibeli dari uang rakyat juga. Ini hal nyata, dari rakyat untuk rakyat.
Ada yang ingin tampil ditelevisi, sambil mengumbar kata-kata yang menurutnya dialah orang yang paling mengerti.

Sementara rakyat awam banyak yang kebingungan. Yang kerja harian, tidak ada pekerjaan. Yang kerja kontrakan, banyak yang dirumahkan. Yang dagang angkringan, dilarang jualan. Mau jual lewat online, gak mudeng gimana caranya. Yang terlanjur cari makan diluar kampungnya, mau pulang dilarang.

Tentang masyarakat yang mau pulang, saya punya catatan memilukan, memalukan, mungkin juga memuakkan.

Kebetulan saya tinggal di Bali. Beberapa hari ini cukup banyak saudara kita dari Banyuwangi dan sekitarnya yang ingin kembali kerumahnya. Jangan dibilang mudik, tapi karena pekerja harian yang tidak ada lagi pekerjaan. Tetap di Bali, makan apa, mau pulang banyak rintangan.

Baca Juga :

Semua tahu, sayapun sangat faham bahwa aturan yang diterapkan pemerintah bermaksud baik. bukan saja menyelamatkan seseorang, tetapi juga menjaga agar tidak terjadi penyebaran.

Jadi aturan ini sejatinya untuk melindungi. Bukan untuk merintangi, apalagi untuk menyakiti.

Tetapi seperti ungkapan diatas, hidup karya seni Tuhan ini memang penuh warna, berisi berbagai macam tabiat manusia.

Saat ini masyarakat yang ingin keluar dari Bali melalui pelabuhan Gilimanuk, diwajibkan memenuhi berbagai persyaratan.

Salah satu persyaratan yang tidak seperti hari biasanya, adalah harus membawa Surat Keterangan Kesehatan.

Surat yang bermaksud baik ini, ada saja yang menyalah gunakan untuk memeras rakyat yang sudah sangat kesulitan.

Ada oknum yang “menjual” dengan harga sampai Rp.300 ribu. Padahal tarif penyeberangan yang dulu sebelum si Covid datang Rp.6,500,-/orang, “kebetulan” per 1 Mei 2020 dinaikan jadi Rp.8,500,-/orang. Mungkin untuk menyambut pesta sang Covid, tetapi menambah nelangsa masyarakat pengguna.

Belum lagi harus beli masker, bisa dibayangkan begitu banyak tambahan beban bagi mereka.

Kalau semua “persyaratan” dianggap tidak memenuhi, mereka disuruh kembali. Bila mereka harus kembali ke Denpasar misalnya, bis angkutan umum sudah sangat jarang ada. Kalaupun ada, dulu ongkosnya Rp.50 rb/ orang, sekarang wallahu ahlam.
Ada yang cerita, membuat Surat Keterangan Kesehatan, harus bayar Rp.100 rb. Saya tidak tanya lagi, dimana itu mereka mencari.

Mungkin ini kisah kecil, dari drama besar masyarakat Indonesia bersama pemerintahnya harus bahu membahu melawan virus corona ini.

Kita memang harus bahu membahu. Rakyat harus sadar bahwa kegiatan mereka mesti banyak dikurangi. sekali lagi, bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri, tetapi juga seluruh rakyat bangsa ini.

Selayaknya pemerintah juga harus menyadari bahwa ada tanggungjawab yang harus mereka pikul. Keterlambatan pelarangan masuknya orang dari luar negeri khususnya dari China dimana virus ini mulai berkembang, harus disadari bahwa hal ini pemicu penting semakin luasnya penyebarannya ditanah air.

Rakyat dan pemerintah harus bahu membahu, harus saling bertanggungjawab. Kalau pemerintah memang tempat penitipan amanah rakyat, harus benar-benar bijak menjalankan amanah itu.

Tidak cukup hanya mengatur, tetapi lebih penting lagi adalah sikap mengayomi.
Carikan jalan keluar yang bijak bagi rakyat yang sedang sedih, lemah, dan bingung.

Cerita kecil yang memuakkan tentang Surat Keterangan Kesehatan, jangan sampai terulang lagi. Apalagi kalau ternyata penjahatnya oknum aparat sendiri. Basmi orang-orang yang masih juga tega berbuat dosa, seperti kata mas Ebiet.

Gratiskan mereka bila memang harus minta dan membawa Surat Keterangan Kesehatan. Juga jangan ada lagi hari ini petugas Satpol PP yang main tendang dengan garang, walau rakyat kecil terpaksa jualan ditempat terlarang. Sudah tidak adakah rasa welas asih dalam kisihati? Tidak adakah cara yang lebih manusiawi?

Kalau dalam kondisi begini, masih saja semakin dibebani, pasti mereka akan segera mati. Sudah Jatuh, masih juga Ditimpa Tangga.

Sekali lagi bebaskan rakyat dari biaya pembuatan Surat Keterangan Kesehatan, kalau itu memang peraturan.

Bagi pemerintah sebagai pemegang amanah, ini adalah kewajiban. (srv)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.